Inilah Rahasia Pembelajar Sejati

0
423
belajar

Oleh : Alya Adzkya

Mungkin, tak sedikit dari kita yang mati-matian belajar saat ujian sudah di depan mata. Rela begadang, demi menguasai materi yang akan diujikan besok. Pontang-panting ke sana ke sini demi melengkapi catatan yang kurang lengkap. Pokoknya yang penting nilai bagus bisa bertengger manis di rapor kita nanti.

Pernahkah kita berpikir, Kawan? Apa sebenarnya tujuan kita untuk belajar? Apa hanya karena nilai? Atau karena berbagai hadiah yang dijanjikan orang tua kita, misalnya?

Tak salah memang, jika kita menjadikan nilai atau hadiah sebagai motivasi kita agar semangat belajar. Yang salah adalah, saat kita berhenti belajar ketika nilai dan hadiah itu telah kita dapatkan. Setelah nilai seratus berjejer manis di samping nama kita atau saat nama kita dipanggil sebagai siswa dengan nilai tertinggi, apa cukup hanya sampai di situ? Lantas kita tak lagi belajar setelah pencapaian tadi.

Pantaskah? Layakkah kita menyandang status pembelajar jika kegiatan belajar kita hanya untuk sebuah reward?
مَنْهُومَانِ لاَ يَشْبَعَانِ : طَالِبُ عِلْمٍ وَطَالِبُ دُنْيَا
“Ada dua orang (pencari) yang tidak akan pernah merasa puas: pencari ilmu dan pencari dunia.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak 1: 92. Dishahihkan oleh Al Hakim dan disepakati oleh Imam Adz Dzahabi).

Seorang pencari harta tidak akan puas dengan apa yang ia miliki sekarang. Ia selalu merasa kurang dan ingin sekali menambah harta yang ia punya. Begitu pula dengan pencari ilmu. Seorang pencari ilmu tidak akan pernah puas dengan ilmu yang ia punya. Pembelajar sejati akan selalu merasa dirinya bodoh, dan terus berusaha mencari tahu ilmu-ilmu lainnya.

Lalu, apa sebenarnya tujuan yang ingin dicapai oleh para pembelajar sejati?

Dulu, penulis termasuk salah satu siswi berprestasi di sekolah. Nama tak pernah absen dari pengumuman juara umum dan nilai tertinggi di jurusan. Padahal menurut teman-teman, penulis jarang kelihatan belajar. Memang, setiap kali ujian biasanya penulis memang tidak pernah mengkhususkan diri untuk belajar. Sering kali, waktu belajar penulis gunakan untuk menjelaskan materi pada teman-teman lain yang bertanya. Dan hasilnya? Alhamdulillah, penulis bahkan bisa menguasai materi jauh lebih baik dari yang lainnya.

Cara belajar paling baik adalah dengan mengajarkannya. Seorang pembelajar sejati tidak akan egois belajar untuk dirinya sendiri. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain? Maka tak ada salahnya kita mengajarkan ilmu yang kita punya agar bermanfaat bagi orang lain.

Jadilah pembelajar sejati, yang semangat belajarnya tak lekang oleh waktu. Meski umur tidak lagi muda, meski jarak demikian jauh untuk ditempuh. Kita terlahir untuk menjadi seorang pembelajar. Teruslah belajar, karena tidak ada manusia yang terlahir pintar begitu saja.