Inilah Kemenangan yang Justru “Merugikan”

0
408
suka debat

Oleh: Aannisah Fauzaania

Sahabat, bagaimana sih arti kemenangan yang sesungguhnya bagi diri? Apakah ketika berhasil menuruti segala kehendak sebagai pembenaran nurani? Atau ketika berhasil memenangkan debat kusir agar tak menjatuhkan nilai diri?

Sahabat, terkadang mengendalikan ego memang menjadi sesuatu yang paling sulit untuk dimahfumi. Sifat ini tentu ada dalam tiap diri manusia. Sifat aktualisasi diri, ingin selalu menang, ingin selalu benar, ingin menjadi yang utama. Jika ingin menuruti nafsu diri, semua kebutuhan memang tak akan ada habisnya.

Jika kita ingin menyelami makna kemenangan diri lebih dalam lagi, maka mari kita telaah sedikit beberapa poin berikut ini.

Ketika kita bertengkar dengan adik atau saudara, kemudian keinginan kita yang berhasil terturut, maka kita terlihat menang. Namun bukankah hubungan dengan adik atau saudara tersebut tak akan menjadi sebaik sebelumnya? Mangkuk yang pecah tak akan bisa kembali tersusun sempurna.

Kalau kita berselisih dengan pimpinan, kemudian kita yang berhasil menang. Meskipun kita terlihat lebih baik di mata yang lain, namun masa depan di perusahaan pasti akan suram karena sulit mendapat kepercayaan.

Kalau kita berselisih dengan rekan di tempat bekerja, meskipun pada akhirnya kita menang, namun nantinya tak akan ada lagi hari-hari menyenangkan dengan kekompakan bersama rekan.

Kalau kita berselisih dengan teman dekat, meskipun kita berhasil menang, namun nantinya kita juga yang akan kehilangan teman. Kehilangan momen yang dibangun bersama indahnya persahabatan.

Bagi yang sudah berumah tangga, kalau kita berselisih dengan pasangan, saling egois, kemudian kita yang berhasil menang, namun pada akhirnya rasa sayang antara keduanya pasti kan berkurang.

Kalau kita berselisih dengan tetangga, kemudian kita yang berhasil menang, mungkin kita merasa senang sebentar, namun pada akhirnya kita sendiri yang akan kehilangan kerukunan dengannya. Kehilangan satu tetangga yang seharusnya bisa menjadi tempat berpegang kala butuh bantuan di saat mendesak.

Sahabat, meskipun tak berlaku mutlak di tiap kesempatan, namun renungan di atas pasti menjadi mayoritas di banyak kasus. Kemenangan diri, sebenarnya tak akan menjadi baik jika melibatkan pesakitan bagi orang lain. Sesungguhnya diri kita menjadi benar-benar menang jika kita telah berhasil mengendalikan ego dan emosi di dalamnya.

Perselisihan, biasanya akan timbul jika salah satu pihak tengah menegur atau mengingatkan pihak lain yang dianggap kurang baik, namun pihak kedua tersebut tak bisa menerima sehingga menjadikan perpecahan antar sesama. Padahal, bukankah jika kita resapi lagi maksud dari pihak pertama sebenarnya baik, mungkin ia hanya ingin mengingatkan, mungkin ia tak ingin kita jatuh dalam kesalahan, lalu mengapa kita tak menerima lantaran khawatir dapat menjatuhkan harga diri? Bukannya seharusnya bersyukur masih ada seorang yang mau dengan baik hati mengingatkan kesalahan?

Tak ada artinya menjadikan tiap sesuatu sebagai bahan perselisihan, karena pada akhirnya yang akan menang dan naik hanya ego, dan yang akan turun adalah citra dan jati diri. Menjadikan jiwa lebih lemah karena tak mampu mengendalikan nafsu buruk dalam amarah.

Astaghfirullahal adzim…

Sahabat, semoga renungan di atas bisa mengingatkan kita untuk terus bermuhasabah diri. Menjadikan kita pribadi yang lebih bijak lagi dalam memaknai kemenangan yang hakiki. Aamiin.