Ikhlas Itu Layaknya Tukang Parkir

0
386
tukang parkir

Oleh: Arnie Syifannisa

Satu kata yang mungkin sangat sulit untuk dilakukan oleh sebagian orang. Di samping tidak mengetahui makna sebenar apa yang disebut-sebut sebagai “ikhlas”. Terutama bagaimana hakikatnya seseorang bisa menilai suatu perbuatan itu ikhlas ataukah belum.

Kecuali mereka yang memang benar-benar tawadhu’ hanya mengharap keridhaan Allah semata. Ia hadir tanpa diperintah. Terlahir dengan sendirinya dari hati yang paling tulus yang tak pernah mengharap imbalan selain dari-Nya. Sudah ikhlaskah kita selama ini?

Tanyalah hati ketika kita berbuat sesuatu. Bukan hanya lisan kita saja yang berperan menghakimi sebuah keikhlasan. Biarlah hati ikut berbicara tentang hakikat keikhlasan.

Seorang guru besar pernah berpesan, “Kebahagiaan hidup bisa diraih dengan dua hal yaitu keikhlasan dan pengorbanan”. Salah satu yang disinggung-singgung dalam upaya memperoleh kebahagiaan hidup adalah melalui keikhlasan. Beliau meneruskan tausiyahnya bahwa ikhlas itu seperti tukang parkir. Lho, apa hubungannya ikhlas dengan tukang parkir? Yah, tentu saja ada.

Ikhlas itu seperti tukang parkir. Ia memiliki banyak mobil namun tak pernah bersikap ujub. Ia memiliki mobil dengan berbagai merk dan kualitas yang berbeda-beda namun ia tak pernah merasa takabur. Bahkan ketika semua orang mengambil semua mobil sampai habis, ia tak pernah sekalipun marah.

Begitulah hakikatnya ikhlas. Sadar bahwa apa-apa yang dimiliki di dunia ini hanyalah titipan semata dari Allah. Baik itu harta, pikiran, maupun tenaga yang kita punya saat ini. Jadi, mengapa kita harus pamrih ketika kita berbagi dengan orang lain. Merasa tinggi hati karena suatu hal yang kita lakukan untuk orang lain. Cukuplah kita mengiba kepada-Nya. Berharap setiap apa yang kita lakukan bernilai ibadah dalam pandangan-Nya. Ingatlah, keikhlasanmu akan membawa kebahagiaan dalam hidup.

Coba kita renungi kembali falsafah si tukang parkir! Pertama, ketika memiliki banyak mobil, si tukang parkir tidak pernah ujub. Menurut Ibnu Mubarak, ujub adalah engkau melihat diri sendiri memiliki potensi atau sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.

Ini watak yang harus ditanamkan pada diri kita. Sifat ujub hanya akan mengikis rasa peka di hati, sehingga tak mampu lagi menolong orang lain tanpa melebih-lebihkan apa yang dia punyai. Tak ada lagi rasa iba melihat kesulitan orang lain. Keikhlasan akan hilang seketika.

Kedua, ia memiliki banyak mobil dengan berbagai merk dan kualitas, namun si tukang parkir tidak pernah takabur. Takabur merupakan sifat menganggap diri sendiri mulia, sehingga menolak kebenaran atau meremehkan orang lain.

Sungguh sifat takabur ini termasuk sifat yang paling dibenci Allah karena semua yang ada pada diri kita saat ini atas karunia-Nya. Tidak sepantasnya sikap takabur merajai diri seolah-olah kita yang paling baik, yang paling kuat, ataupun yang paling berkuasa. Mungkin saja keikhlasan enggan berlama-lama singgah di hati kita. Na’udzubillah.

Ketiga, ketika semua orang mengambil satu persatu mobil bahkan sampai habis, si tukang parkir tidak pernah sekalipun marah. Sering kita melihat seorang tukang parkir menyunggingkan sebuah senyuman saat si empunya kendaraan mengambil mobilnya. Begitu pula makna sebuah keikhlasan.

Tidak ada perasaan marah dalam hatinya. Yang ada hanyalah rasa bahagia ketika mampu berbuat baik kepada orang di sekitar kita. Sungguh pengabdian yang sangat luar biasa. Ikhlas bisa terwujud dengan sikap rendah hati. Keikhlasan yang sesungguhnya hanya mengharap balasan dari Allah. Bukan balasan dari makhluk-Nya di bumi.

Lalu, bagaimana kita menilai, sudah ikhlaskah kita selama ini? Bertanyalah pada hati karena sesungguhnya ikhlas itu ada di dalam hati.