Ibu, Ijinkan Aku Menikahinya!

1
441
pernikahan

By: Anna Jameela 

Dulu, guru mengaji saya pernah bercerita tentang seorang lelaki yang meminta restu ibunya untuk menikahi wanita pilihannya, namun sang ibu keberatan. Alasannya, karena  tidak sekufu (sederajat), ditambah lagi wanita pilihan si anak fisiknya lemah.

“Bagaimana mungkin kamu menikahi Kiara? Dia sering sakit, nanti kalau kamu menikahinya, pasti ibu yang repot. Kamu juga pasti jadi terganggu dan tidak fokus bekerja karena mengurus Kiara saja.”

“Bu, itu masalah belakangan. Yang penting ibu ijinkan Adam menikah dulu ya, Bu.”

“Tidak bisa! Kamu menikah dengan wanita lain saja. Kalau kamu menikahi Kiara, ibu tidak menganggap kamu anak!” Sang ibu mengancam.

Dilematis, itulah yang dirasakan Adam. Sebagai lelaki yang taat, ia tidak mau menikah tanpa restu ibunya.

Kiara dalam kisah ini adalah wanita yang memiliki fisik lemah, mudah dan sering sakit-sakitan. Sungguh bertolak belakang dengan kriteria idaman ibunda Adam, Bu Hana. Namun, yang menjadi pertimbangan Adam memilih Kiara karena Kiara baik agamanya,  shalihah, dan Adam yakin Kiara mampu menjaga ia dan ibunya.

Berkali-kali Adam mengiba kepada ibunda tercinta agar merestui hubungannya dengan Kiara. Namun Bu Hana bersikeras menentang dan teguh dengan pendiriannya. Adam bisa saja menikah tanpa restu dari sang ibu, tetapi sebagai lelaki yang mengerti dan taat pada perintah Allah yakni birrul walidain, Adam tidak ingin melangkahi restu serta ridha dari sang Bunda. Untuk keempat kalinya, Adam memohon restu. Dengan berat hati Bu Hana pun menyetujui Adam menikahi Kiara.

Singkat  cerita, Adam pun resmi menjadi suami Kiara. Mereka bertiga tinggal satu rumah. Dalam kesehariannya, Kiara sangat rajin, taat, serta sabar menghadapi Bu Hana yang kerapkali memusuhi.

Qadarallah, suatu hari Bu Hana sakit keras yang menyebabkannya lumpuh hingga tak mampu beranjak dari tempat tidur. Dengan sabar Kiara merawat Bu Hana. Semua pekerjaan rumah tangga diambil alih Kiara, yang dulu pernah diragukan Bu Hana menjadi menantu, karena alasan sakit-sakitan. Kini, yang terjadi berbalik dari kenyataan sebelumnya. Justru Kiara yang menjaga Bu Hana dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.

Melihat kenyataan itu, Bu Hana malu. Dengan berlinang airmata, ia berkata kepada Kiara, “Nak Kiara, maafkan ibu, ya. Dulu ibu pernah meragukanmu sebagai menantu. Selama ini ibu kerap berbuat seenak hati dan sangat jahat padamu. Ibu malu.”

“Sudahlah, Bu. Itu kan dulu, tidak usah diungkit-ungkit lagi. Kiara sudah memaafkan ibu dan Kiara menganggap ibu sebagai orang tua Kiara juga. Sekarang ibu jangan banyak pikiran, fokus agar cepat sembuh, ya,” ucap Kiara sembari memeluk Bu Hana.

Atas ijin Allah, serta ketelatenan Kiara yang dengan penuh kesabaran merawat, akhirnya Bu Hana sembuh total. Kiara pun menjadi menantu sekaligus istri yang sangat disayang. Hingga akhirnya memberikan tiga cucu yang menambah kebahagiaan di rumah Bu Hana.

Di luar sana, masih banyak sekali contoh seperti kisah di atas. Seorang ibu yang tidak merestui anaknya menikah dengan pilihan sendiri. Naluri seorang ibu selalu ingin sang anak mendapat pendamping yang baik, serta mampu merawat, sebagaimana si ibu   merawat dan menjaga anaknya. Wajar bila ada perasaan was-was, cemas, serta tidak percaya pada menantu atau calon menantu.

Tidak hanya itu, ada sebagian orangtua, yang tidak mengijinkan anaknya menikah dengan pilihan sendiri lantaran tidak sekufu, gengsi dan seolah merendahkan martabat keluarga. Padahal uswatun hasanah kita, Rasulullah SAW pernah bersabda,

تُنْكَهُ الْمَرْأَةُ ِلأَ رْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَجَمَالِهَا، وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Seorang wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu beruntung. (Diriwayatkan oleh Bukhari Muslim)

Begitu ditekankan sekali, pilihlah pasangan yang baik agamanya, meskipun tidak melupakan tiga perkara lainnya. Ini yang banyak tidak disadari oleh para orang tua tatkala ingin menikahkan putra putri mereka. Padahal Islam tidak pernah memberatkan syarat-syarat nikah, tetapi manusia itu sendiri yang sengaja mempersulit.

Ibu, Bapak…

Menikahkan anak-anak kita dengan seorang yang baik agamanya, tentu hal tersebut akan menjadi insvestasi akhirat. Karena pemahaman agama yang benar dan ketaatan yang baik kepada Sang Khalik akan mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Insya Allah.

Anak tetaplah anak. Ketika kita sudah tidak bernyawa sekali pun, mereka tetap anak-anak kita. Tanggung jawab kita.

Tidak inginkah melihat anak-anak kita yang telah berumah tangga kelak senantiasa berjalan pada koridor syar’i yang sudah Allah tetapkan lantaran memiliki pasangan yang shalih dan shalihah?

Fisik, kekayaan, dan keturunan itu tidak kekal. Semakin lama fisik melemah. Jika Allah mengambil titipan harta-Nya, maka kekayaan bisa lenyap seketika. Demikian pula dengan keturunan, tidak ada yang bisa menebak mampukah calon yang kita pilih memberikan keturunan seperti harapan kita? Semua rahasia Allah. Namun, apabila kita menikahkan anak-anak kita dengan niat lebih cenderung karena agamanya, niscaya selamat dunia akhirat kita. Insya Allah.

Ibu, Bapak…

Tidak pernah salah Rasulullah SAW memberi petunjuk. Tidak pernah salah Nabi Allah memberi contoh. Kesalahan terbesar ada pada diri kita, yaitu dengan sengaja membutakan mata hati, seolah apa yang Nabi SAW katakan sebuah ketidakniscayaan.

Mengapa? Karena hati kita dipenuhi syahwat dunia, hingga akhirat menjadi nomor sekian, bahkan hampir terlupakan. Padahal tanggung jawab terbesar seseorang membangun mahligai rumah tangga adalah  demi meraih pahala kebaikan yang banyak, bukan sebatas nafsu dunia.

Semoga kita senantiasa diberkahi oleh Allah dengan hati yang lapang, sehingga mampu ittiba’ (mengikuti) Rasul. Bangga dengan keturunan yang shalih dan shalihah.

Aamiin.