Hubungan Menantu dan Mertua Jangan Sampai Renggang

0
1899
menantu idaman

Oleh : Ova Yanti

Fenomena yang sering terjadi setelah menikah, orang tua dan istri beradu cemburu. Suami harus bersikap arif dan bijak. Mengharmoniskan, bukan menambah runyam. Ketika hubungan antara orang tua dan istri renggang, peran suami untuk mendamaikan dan mengeratkan, sangat ditunggu. Dengan begitu, ketenteraman akan menjadi sempurna.

mertua
Ilustrasi gambar dari ummi-online.com

Tidak sedikit seorang suami yang mengabaikan orang tuanya setelah menikah. Hak-hak mereka dilalaikan. Penghormatan terhadap keduanya sirna tak bersisa. Istri lebih ditaati daripada orang tua. Demi menyenangkan istri, orang tua pun terabaikan. Jelas, ini menimbulkan kecemburuan di hati orang tua. Dalam hal ini, perasaan ibu biasanya lebih sensitif. Seorang anak tak boleh melupakan hal ini. Sehingga perlu berhati-hati dan berusaha agar tidak muncul perasaan orang tua, khususnya ibu, bahwa anaknya telah berubah. Sebaliknya, anak harus berusaha senantiasa membahagiakan orang tua.

Anak perlu bersabar terhadap kritikan ibunya. Makin cinta seorang ibu, makin sensitif perasaannya selain kritikannya yang makin banyak. Ibu terkadang tak rela melepaskan anaknya untuk membina rumah tangga. Apalagi ketika sebelum menikah, anaknya tersebut menjadi tulang punggung keluarga yang membiayai sekolah adik-adiknya, dan membiayai keperluan orang tuanya. Orang tua merasa khawatir putranya telah berkurang rasa cintanya.

Tak sedikit orang tua yang bertabiat keras. Seolah-olah tak ada yang sedap dalam pandangan mereka. Lalu, karena silang selisih dengan menantunya, ia lantas menyuruh putranya menceraikan istrinya. Padahal sang istri tidak melakukan sesuatu yang mengharuskannya diceraikan.

Lalu ada juga orang tua yang mengobarkan kemarahan anaknya dengan membohongi putranya. Katanya, menantunya telah berbuat kurang ajar. Sang anak kemudian menelan mentah-mentah informasi dari orang tuanya. Padahal, ia bahkan belum cukup baik memenuhi hak istrinya. Bahkan ada orang tua yang memberikan pilihan rumit ke putranya untuk melilih orang tua atau istrinya.

Wanita itu kalau sudah kecewa, sulit melupakan walaupun sudah memaafkan. Tak ada wanita yang rela cintanya dibagi dengan wanita lain. Kadang kepada ibu mertuanya pun dia masih sedikit cemburu.

Kepada semua pria gagah bernama ‘suami’. Mungkin ibumu yang harus kau utamakan, tetapi jangan kau lupa. Ada wanita di sampingmu yang rela meninggalkan kedua orang tuanya untuk mengabdi kepadamu. Yang telah kau ambil dari ayahnya untuk kau jadikan milikmu.

Surga bukan untukmu jika kau gores hati ibumu, tetapi surga juga bukan milikmu jika kau sia-siakan istrimu.

Lantas, apa solusi untuk situasi seperti ini? Apakah sang suami harus berpangku tangan atau bersikap pasif? Atau menuruti segala komentar orangtuanya tentang istrinya? Ataukah sebaliknya, mencela orangtuanya, menganggap bodoh pendapat mereka atau menolaknya dengan kasar?

Tentu saja bukan itu solusinya. Yang harus di lakukan adalah berusaha keras mendamaikan dan membangun keharmonisan di antara mereka.

Seseorang dapat dikatakan memiliki kepribadian kuat jika ia mampu menimbang antara hak dan kewajiban, meskipun keduanya kadang tampak bertabrakan bagi sebagian orang. Ia dapat tetap jernih walaupun masalahnya terlihat kabur dan dapat menjerumuskannya dalam kebimbangan. Sikap bijak seorang suami dituntut.

Caranya, dengan menunaikan hak semua pihak, tanpa mendzalimi salah satu dari kedua belah pihak. Di sinilah keagungan syariat Islam tampil. Di dalamnya terkandung seperangkat hukum yang membangun keseimbangan di antara berbagai unsur yang berbeda-beda.

Orang tua punya hak, istri pun demikian. Sebagai seorang anak, sebaiknya lebih meningkatkan lagi baktinya pada orang tua baik secara materi maupun maknawi. Misalnya, memberi hadiah, berkunjung dan berkomunikasi secara kontinyu. Tunjukan kasih sayang baik ketika mereka tinggal serumah dengan Anda maupun saat sudah tinggal terpisah. Tetap membiayai sekolah adik-adik dan membiayai keperluan orang tua.

Sebagai seorang anak yang telah mempunyai pasangan hidup yaitu istri, ada baiknya kalian tinggal terpisah di rumah sendiri. Supaya suami istri dapat menyelesaikan segala persoalan rumah tangga dengan penuh kasih sayang tanpa diketahui kedua orang tua. Sebab, persoalan kalian dapat mengusik ketenteraman mereka.

Sebagai seorang anak dan seorang suami. Bangunlah saling pengertian antara orang tuamu dan istrimu. Misalnya dengan mengatakan kepada istri, “Orang tuaku adalah bagian yang tak terpisahkan dariku. Sekalipun bersedih, takkan mungkin durhaka kepada beliau berdua. Aku takkan mungkin dapat menerima penghinaan apapun terhadap beliau. Cintaku kepadamu, sungguh akan bertambah dan tumbuh jika engkau selalu sabar dan memperhatikan orang tuaku”

Kemudian engkau dapat memberi pengertian kepada orang tuamu dengan mengatakan, “Ibu, Bapak. Berbaik hatilah sedikit kepada istriku. Istriku meninggalkan orang tuanya seorang diri datang ke keluarga kita, tentulah sangat tidak mudah baginya beradaptasi dengan kehidupan keluarga kita. Maka, berbaik hatilah semua kepada istriku. Bimbing dia menjadi anak, menantu yang berbakti kepada kalian seperti aku, anakmu yang begitu menghormati ibu dan bapak.”

Jika ada rasa saling pengertian dan memahami diantara kedua belah pihak, pastilah tercipta suasana yang harmonis. Hal-hal yang terkait dengan pernikahan terkadang membuat kita merasa frustasi dan tegang. Hal itu akan menambah lemah dan lesu hubungan kita dengan pasangan hidup kita, serta akan menciptakan jurang pemisah antara kita dan anak-anak kita. Pada saat itu, kehidupan berubah menjadi seperti padang yang tandus atau seperti tanah yang tak pernah terkena siraman ‘hujan’ kasih sayang.

Janganlah kalian menyerah dan jangan hanya berpangku tangan. Upaya untuk saling mengutarakan perasaan dan duduk bersama saling melemparkan kasih sayang, saling menasehati, saling mengingatkan dan berbagi kehangatan, bukanlah hal yang sia-sia dan tak berguna. Sesungguhnya itu semua sangat penting dan tak boleh diabaikan. Agar kalian dapat mengubah padang sahara yang tandus menjadi oase yang sejuk.

Untukmu para mertua, sambutlah menantumu dengan tangan terbuka. Jadikanlah menantumu sebagai seorang anak yang engkau kasihi sebagai mana engkau menyayangi anakmu sendiri. Dia datang untuk mengabdikan diri kepada anakmu, meringankan sedikit kegundahan hatinya. Bukan untuk memisahkanmu.

Untukmu para istri, jika engkau telah bersedia menjadi pendamping hidup suamimu. Jangan lupa, bahwa ada kedua orang tuanya yang harus kau hormati dan sayangi seperti kedua orang tuamu. Jangan besar cemburu jika suamimu lebih berbakti kepada orang tuanya. Ringankan beban pikirnya, karena itulah engkau ada di sampingnya.

Untukmu para suami, arif dan bijaklah dalam mengatasi kecemburuan ibu dan istrimu. Berpikirlah secara jernih sebelum mengambil keputusan agar engkau tidak menyesal kemudian. Jangan sampai ada perceraian ataupun permusuhan kepada orang tuamu. Tunaikanlah hak dan kewajibanmu diantara mereka.

Note : Tulisan ini saya buat karena banyak teman, saudara, dan yang di luar sana mengalami pertengkaran dengan mertuanya. Bahkan ada yang bercerai karena tidak tahan dengan campur tangan mertua dalam membina rumah tangga. Semoga tulisan ini bermanfaat!

ACEH, diantara rinai hujan dini hari. 8 Februari 2016

Save