Hidupmu Penuh Masalah? Begini Solusinya !

0
272
lagi stress

Oleh: Afdalil Zikri

Tidak ada satu pun manusia yang tidak mempunyai masalah dalam hidupnya. Sebab keduanya tidak dapat dipisahkan, ada kehidupan pasti ada permasalahan. Logikanya, jika tidak ada masalah tentu tidak ada kehidupan. Seseorang yang telah mati adalah seseorang yang tidak punya masalah dalam kehidupan di dunia ini. Tetapi karena kematian bagi seseorang sesungguhnya adalah awal dari kehidupan di akhirat, maka mati pun merupakan suatu masalah baru dalam kehidupan yang dijalani saat ini. Upaya persiapan diri untuk menjalani hidup di akhirat yang kalau tidak disiapkan akan menjadi masalah di akhirat kelak.

Siapapun dan di manapun seseorang pasti mempunyai masalah. Intinya tidak ada manusia yang tidak mempunyai masalah. Dengan mengetahui hal ini, setidaknya akan memberikan pemahaman kepada kita bahwa kalau pun kita memiliki masalah masih ada orang lain yang juga punya masalah yang sama atau bahkan lebih berat dari kita. Kita bisa sedikit tersenyum bahwa tidak hanya kita yang hidup dengan sejuta masalah. Dengan pemahaman ini akan meningkatkan kesadaran diri kita bahwa dalam menghadapi masalah atau menumbuhkan kepercayaan kepada kita ternyata tidak kita sendiri yang punya masalah.

Kita hidup di dunia yang sama, dan sama-sama memiliki masalah, sama-sama belum bisa menyelesaikannya, atau sama-sama sedih dengan masalah tersebut. Di saat kita menangis dengan masalah yang kita miliki, orang lain juga berlinang air mata dengan masalah yang mereka hadapi. Jadi, mengapa kita harus menambah duka dengan merasa bahwa hanya kita yang punya masalah di dunia ini.

Tanpa disadari saat melihat orang lain dengan kehidupannya, kita sering menginterpretasikan bahwa hidup mereka adalah yang paling bahagia. Pribahasa Jawa mengatakan, “Enake wong kuwi ana ing peningale wong liya,” artinya bahwa kebahagiaan hidup seseorang itu selalu tampak di mata orang lain. Dalam kehidupan, pandangan bahwa orang lain juga diberikan masalah oleh Allah SWT dalam bentuk yang berbeda dengan yang lainnya sudah mulai terkikis dalam diri manusia. Kalau ini dibiarkan akan membentuk jiwa yang kufur atau rasa tidak mensyukuri terhadap kehidupan yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT.

Diakui ataupun tidak, manusia sering mengeluh, resah dan gelisah dengan keberadaan hidupnya dan akan menganggap diri ini tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan orang lain. Padahal Allah SWT telah menjelaskan bahwa manusia itu mempunyai keahlian dan unik dibandingkan dengan yang lainnya, Allah berfirman dalam surat Al Lail ayat 4 yang artinya, “Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.”

Banyak firman Allah yang mengklaim bahwa kebanyakan dari manusia itu sering tidak bersyukur dan kalaupun ada yang bersyukur, itu dalam jumlah yang sedikit. Allah menyatakan bahwa manusia seringkali berkeluh kesah terhadap keberadaan dirinya. Allah berfirman :
 إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا
إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah” (Q.S. Al Ma’arij :19-20)

Penilaian bahwa orang lain lebih baik dari kita dan masalah yang kita punyai adalah sesuatu yang paling rumit merupakan pangkal dari hilangnya rasa syukur yang pada akhirnya menimbulkan sifat keluh kesah. Padahal, letak kebahagiaan di dunia ini adalah rasa syukur kepada Allah. Jika syukur diartikan menerima kenyataan hidup sebagai sesuatu yang nyata, yang tidak hanya dituntut untuk lapang dada, tetapi juga sebagai bentuk terima kasih dan menerima kenyataan terhadap apa yang Allah berikan dalam hidup ini. Tentunya rasa syukur akan bisa timbul bila melihat bahwa kita lebih baik dari orang lain. Ini bukan berarti sombong tetapi semata-mata hanya untuk menumbuhkan rasa syukur.

Kita sering memimpikan mempunyai kelebihan tanpa merenungkan resiko yang akan dihadapi. Sebagian kita membayangkan bahwa kelebihan adalah sisi kehidupan yang lebih indah dan menyenangkan, kemudian lupa bahwa ada sisi lain dari kelebihan yaitu permasalahan. Untuk apa menambah permasalahan hidup dengan menginginkan kelebihan lagi selain kelebihan yang telah ada? Dan semua itu menambah susah dan menambah beban saja. Jadi, mengapa kita tidak bersyukur dengan apa yang telah kita miliki?