Hati-hatilah dengan Kesenangan yang Menipu

0
525
hotel

Oleh : Pipit Era Martina

Alam dunia berarti alam syahadah, dan antonim dari dunia adalah alam akhirat yang sifatnya ghaib. Pengertian dunia sendiri mencakup langit (dunia) dan bumi, serta segala sesuatu yang ada di dalamnya dan semua yang ada di antara langit dan bumi. Menurut pandangan Islam, sifatnya sementara dan hanya sebentar saja, sebagaimana dijelaskan dalam pesan Rasulullah SAW yang berpesan kepada Abdullah bin Umar r.a, sambil memegang pundak iparnya ini, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (Hadits Riwayat Al-Bukhari no. 6416)

Jadi, janganlah terlena akan pesona dunia yang beraneka rupa menggiurkan, karena semua itu adalah salah satu tipuan setan untuk menjerumuskanmu ke dalam dunia fana, dan menjauhkan dari nikmatnya bahagia di akhirat. Seperti firman Allah SWT, “Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kalian serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang karenanya tumbuh tanam-tanaman yang membuat kagum para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lantas menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al-Hadid: 20)

Namun, meski kehidupan di dunia ini hanya sementara, Islam mengajarkan kepada umat muslim untuk tidak melupakan kehidupan dunia atau melalaikannya. Karena bagaimanapun juga, dunia merupakan satu-satunya jembatan untuk kita menggapai alam akhirat. Jika tanpa dunia, maka tiada pula cerita bahagia di alam kedua. Alam dunia diciptakan oleh Allah SWT untuk menyenangkan umatnya, untuk memberi sedikit celah bahagia dalam penjara sesaat. Dan Allah SWT meminta manusia untuk mengelola dan memanfaatkan dunia ini sebaik-baik kita mampu sesuai dengan kebutuhan manusia itu sendiri, bukan untuk merusak dan memporak-porandakan keindahan alam dengan kemaksiatan.

Allah SWT tidak serta merta memberikan dunia dengan tanpa peringatan. Bersamaan dengan diberikannya hak dunia kepada manusia, Allah pun memberi peringatan kepada manusia untuk tidak terbawa dan terhanyut oleh keindahan dunia sesaat yang jelas-jelas menyesatkan, karena dunia terlahir dengan beberapa sifat yang tidak baik. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menjelaskan beberapa point tentang dunia.

“Kehidupan dunia hanya merupakan mainan dan senda gurau.” (QS. Al-An’am: 32)

Ingatlah duhai sahabat, untuk apa kita diciptakan di dunia ini kalau bukan untuk membangun dan meningkatkan keimanan kepada Sang Pencipta guna menggapai kehidupan yang kekal bahagia, abadi selamanya. Bukan untuk menjatuhkan iman dan menghancurkan dunia dengan tingkah laku yang jelas-jelas dibenci oleh Dia sang pencipta.

“… Dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Al-Baqarah: 36)

Hanya sementara, hidup di dunia yang penuh pesona ini telah dibatasi dan telah ditentukan kapan kita akan pergi serta meninggalkan dunia. Tempat kita dilahirkan sebagai manusia, tempat dimana kita mengenal apa itu dunia, langit, bumi, juga pencipta seluruh alam.

“Allah bertanya: “Berapa tahunkah kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” Allah berfirman: “Kamu tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.” (QS. Al-Mukminun: 112-114)

Oleh karena itu, apa yang bisa kita banggakan dan sombongkan? Ketika hidup di dunia ini tak beda dengan hanya sekedar numpang duduk di rumah orang. Ada satu cerita dari salah seorang anak dari pasien saya. Anak beliau ini masih kuliah dan single. Dia termasuk anak yang berakhlak baik dan kebanggan orang tua, tak pernah sekalipun ia mengalami sakit yang mengkhawatirkan. Suatu hari, dengan senyum indahnya ia berpamitan untuk pergi ke kampus dengan mengendarai sepeda motor. Dan di sore harinya, beliau pulang hanya tinggal sebuah nama tanpa nyawa.

Siapa yang menyangka, dunia bisa menghempaskan kita secepat itu tanpa satupun tanda yang dimengerti manusia. Itulah mengapa, kita di anjurkan untuk senantiasa mengingat bahwa dunia ini hanyalah sementara saja, kapanpun dan di manapun dunia akan menghempaskna kita dari perutnya. Mau tak mau dan siap tak siap, nyawa ini akan melayang dan raga ini akan berpisah dengan ruh yang selama ini temani perjalanan cerita dunia. Abaikan kesenangan dunia yang bersifat menipu, mengedepankan kemaksiatan dan melancarkan rayuan yang katanya beujung bahagia. Bahagia orang mukmin itu ketika ia mati dalam keadaan husnul khatimah, bukan berfoya-foya dengan dunia yang ia paham hanya bersifat sementara.

Jika diri kian menyadari akan mati yang datang tak pernah permisi, maka berhentilah untuk mencurahkan segala perhatian kepada duniawi dan cobalah untuk berbagi perhatian kepada akhirat. Alam kedua setelah dunia, kehidupan kedua setelah kematian dan awal dari sebuah kehidupan yang abadi, hingga alam tak lagi bernyawa.

Yuk, mari bersama, menyeimbangkan antara dunia dan akhirat. Dunia sementara dan akhirat selamanya, dunia sebagai jembatan untuk menggapai akhirat dan dunia satu-satunya obat penumbuh bahagia abadi. Maka ramulah sebaik-baiknya obat dunia, agar bahagia akhirat tumbuh dengan indahnya.

Islam secara gamblang menjelaskan kepada kita untuk jangan lupa bahwa setelah dunia masih ada akhirat yang menanti. Segeralah beribadah, karena mati datang tak pernah permisi. Bersama, kita mencoba untuk memperbaiki diri sembari berbagi.

Note : Penulis tak selalu seindah tulisannya. Namun, dari sebuah tulisan bisa merubah penulis menjadi lebih indah. Keep Istiqamah!

Lampung, Rabu, 1 Jumadilawal 1437 / 10 Februari 2016