Hati-Hati Dengan Kredit

0
193
awas kredit
Oleh : Riska Kencana Putri

Di dunia “perumahtanggaan”, kredit sudah bukan lagi menjadi istilah yang asing di kalangan para wanita. Pasalnya, begitu banyak pedagang yang datang menawarkan berbagai barang, mulai dari perabotan sepuluh ribu tiga hingga panci seharga ratusan ribu. Para sales ini melihat pangsa pasar yang demikian besar di kalangan ibu-ibu, makanya mereka tak putus asa menawarkan berbagai cara untuk menjual produknya, salah satunya dengan cara kredit.

Kredit adalah sejenis pembayaran barang yang dilakukan dengan cara bertahap, atau sering disebut angsuran. Biasanya kredit dibatasi waktunya, misalkan sepuluh kali, mingguan atau bulanan, tergantung kesepakatan kedua belah pihak.

Kredit : Kebutuhan atau Keinginan

Membeli barang dengan cara kredit dianggap cara yang paling jitu untuk mendapatkan barang yang diinginkan. Karena tidak mempunyai sejumlah uang untuk membeli kontan, akhirnya mereka memutuskan untuk mengangsur tiap bulannya.

Sebenarnya dalam Islam sendiri tidak ada larangan untuk melakukan jual-beli kredit, hanya saja perlu dipahami bersama bahwa kredit adalah bentuk lain dari hutang. Hukumnya wajib dibayar. Bahkan sampai di akhirat pun, manusia yang masih meninggalkan hutang akan dilunasi dengan amal kebaikannya sendiri.

Dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti), karena di sana (di akhirat) tidak ada dinar dan dirham.” (HR Ibnu Majah)

Rasulullah SAW bahkan enggan menyolatkan orang yang memiliki hutang sampai ada ahli waris yang menjamin pembayarannya. Sebagaimana tertuang dalam hadits Salamah bin Al Akwa’ ra.

Salamah berkata, “Kami duduk di sisi Nabi SAW. Lalu didatangkanlah satu janazah. Lalu beliau berkata, “Apakah dia memiliki hutang?”  Mereka (para sahabat) menjadwab, “Tidak.” Lalu beliau saw menshalati jenazah tersebut. Kemudian didatangkanlah jenazah lainnya. Lalu para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, shalatkanlah ia.” Lalu beliau berkata, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka menjawab, “Iya.” Lalu beliau mengatakan, “Apakah dia meninggalkan sesuatu?” Lantas mereka menjawab, “Ada, sebanyak 3 dinar.” Lalu beliau menshalati jenazah tersebut. Lalu didatangkanlah lagi jenazah yang ketiga. Lalu para sahabat berkata, “Shalatkanlah dia.” Lalu beliau berkata, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka menjawab, “Ada, tiga dinar.” Beliau berkata, “Shalatkanlah sahabat kalian ini.” Lantas Abu Qatadah berkata, “Wahai Rasulullah, shalatkanlah dia. Biar aku saja yang menanggung hutangnya.” Kemudian beliau pun menshalatinya.” (HR Bukhari)

Terkadang kesalahan yang sering dilakukan ibu-ibu adalah tidak meminta ijin suami ketika hendak membeli barang. Banyak alasan, salah satunya adalah karena takut tidak diijinkan. Berbekal keyakinan nominal uang nafkah yang diberikan suami tiap bulannya, para ibu ini lantas mengkredit barang yang mereka incar. Padahal ini berbahaya sekali. Mengapa? Karena umur seseorang tidak ada yang bisa memperkirakan. Bisa saja esok kita mati dengan meninggalkan tanggungan kredit, sedangkan suami tidak tahu. Selain itu, kehidupan seseorang bagaikan roda, kadang di atas, kadang di bawah. Saat sedang di atas, kita bisa dengan lancar membayar angsuran, tetapi jika sedang berada di bawah berapa kali kita harus menunggak dan akhirnya kesulitan dalam melunasi?

Sudah menjadi fitrah bagi seorang wanita memiliki keinginan ini dan itu, belanja barang A dan B. Namun, apakah keinginan ini harus dituruti?

Sebagai seorang muslim tentunya kita senantiasa diajarkan untuk tidak berlaku boros, karena boros temannya setan. Rasulullah SAW sendiri, meski beliau memiliki harta yang banyak, beliau tidak bersikap berlebih-lebihan. Beliau tetap zuhud, rajin sedekah dan hidup sederhana. Berbeda dengan pemandangan yang terjadi saat ini. Masyarakat berlomba-lomba untuk terlihat “wah”. Kalau tetangga kanannya beli kompor gas baru, langsung kepanasan dan ingin memiliki juga tanpa melihat apakah keuangannya cukup atau tidak, apakah kompor baru masuk dalam kategori keinginan atau memang butuh yang baru.

Muslimah yang cerdas senantiasa berusaha merubah dirinya dan keluarga menjadi lebih baik lagi. Bukankah sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah. Oleh karenanya, mari senantiasa untuk menjaga diri dari nafsu membeli barang yang tidak dibutuhkan. Apalagi jika sedang tidak ada uang berlebih. Meski tawaran menggiurkan datang, ingat satu hal, “Saat menawarkan, tutur katanya semanis madu. Ketika kita tidak bisa bayar, madu berubah jadi empedu.”

Lalu, bagaimana solusinya? Menabunglah! Tabungan yang sedikit meski konsisten, perlahan akan terkumpul uang yang cukup untuk membeli barang yang kita inginkan. Anggap saja kita sedang membayar kredit, tetapi bedanya, barang diterima di akhir.