Fenomena Cyber Bullying

1
496
dibully

Oleh : Bunda Haifa

Banyak kejadian mengerikan seringkali kita temui di dunia maya, terutama di media sosial. Penipuan, prostitusi, kebohongan, manipulasi, perselingkuhan, hingga pembulian terhadap orang lain secara terang-terangan dapat kita lihat di media sosial. Saya sebut mengerikan karena hal tersebut sebelumnya tidak terbayang akan terjadi dan akan begitu mudah kita saksikan. Media sosial yang tujuan awalnya dibuat untuk mempererat hubungan antar manusia bisa jadi menjadi sebaliknya, ajang permusuhan antar manusia. Media sosial kini tidak seasyik dahulu ketika awal didirikan.

Satu fenomena yang jujur saja membuat bergidik adalah maraknya cyber bullying. Secara singkat cyber bulliying bisa diartikan memperlakukan pihak lain secara kasar melalui alat elektronik, bisa telepon, televisi, internet, dan lain-lain. Kian hari kian banyak saya saksikan cyber bullying ini di beranda media sosial saya. Berita yang disebarkan  di media sosial, apapun temanya, politik, sosial hingga hiburan selalu memunculkan komentar-komentar kasar, menghujat dan menghina. Kian hari orang kian enteng untuk berkata-kata kasar kepada pihak lain seolah-olah dialah manusia paling bersih dari dosa. Atau orang mudah sekali menghakimi orang lain seolah dia mengetahui segalanya, padahal kenyataannya apa yang diberitakan oleh media belum tentu benar. Terkadang media hanya mengejar rating pembaca atau pengunjung tanpa mengindahkan etika atau kaidah-kaidah.

Orang mudah sekali melakukan pembulian terhadap orang lain di dunia maya karena mereka tidak bertatap muka secara langsung, sehingga tidak muncul rasa sungkan, rasa tidak enak, takut atau malu. Apa para pembuli Mulan Jameela atau Marshanda di media sosial akan melakukan hal yang sama ketika mereka saling berhadapan? Dipastikan tidak. Apa para pembuli Pak Presiden akan mengatakan Jokodok ketika mereka bertemu? Dipastikan tidak, mungkin yang ada justru cium tangan dan minta foto bersama. Bila nasehat Ustadz Felix yang sempat heboh saat itu disampaikan di atas mimbar, apakah audiens yang tidak setuju akan menghina dan merendahkan Ustadz Felix? Saya jamin tidak akan ada yang melakukan.

Dunia maya bisa mengubah seseorang menjadi ekspresif hingga lepas kontrol karena dia tidak berhadapan langsung dengan orang lain. Hal itu juga disebabkan karena di dunia maya berinteraksi dengan perantara tulisan. Dialog lewat tulisan kadang lebih banyak menimbulkan salah persepsi daripada komunikasi dengan mulut karena tulisan tidak secara jelas menggambarkan intonasi atau gaya bicara, jadi kadang ada makna yang ambigu dalam kalimat yang  ditulis. Kemudian, penilaian seseorang terhadap orang lain juga sangat mempengaruhi bagaimana makna sebuah tulisan. Orang yang tidak menyukai lawan bicaranya, maka akan tergiring untuk mempunyai persepsi buruk terhadap lawan bicaranya. Jadi apapun yang ditulis akan terlihat buruk. Hal itu sangat banyak kita saksikan di media sosial. Artis, ustadz, sampai orang biasa banyak menjadi korban pembulian ini.

Terlepas dari semua penyebab seseorang mudah membuli di dunia maya, sebenarnya kita memang harus punya semacam adab atau etika, sehingga di manapun kita berinteraksi harus dilakukan dengan akhlak yang baik, terlebih bila kita seorang muslim di mana tidak ada satu urusan pun yang tidak ada aturannya. Jika urusan ke kamar mandi saja, Islam mengaturnya apalagi berinteraksi dengan manusia, terlebih sesama muslim. Selama seseorang memahami etika  dalam  bergaul dan berpegang teguh kepadanya, sebesar apapun kesempatan datang untuk melakukan pembulian, dia akan berusaha menahan diri. Setidaknya ada beberapa tips yang perlu dilakukan agar diri kita tidak menjadi seorang pembuli di dunia maya.

PERTAMA, ingatlah kerasnya peringatan bagi orang yang suka menghujat dan menghina. Kita akan merasa miris melihat bertebarannya hinaan, cacian atau hujatan di dunia maya, terutama di media sosial. Berita politikus, artis, bahkan ustadz pun tidak terhindar dari hinaan dan cacian. Berita baik saja mengundang hinaan dan cacian, apalagi berita buruk. Padahal keras sekali adzab bagi yang suka menghina, mencaci atau menghujat. Dalam Al hujurat ayat 11 sangat jelas larangan menghina. Para penghina disebut sebagai orang yang dzalim. Kemudian, tidak sedikit hadist yang melarang menghina atau menghujat,seperti Hadist riwayat Muslim, “Mencaci orang Islam adalah perbuatan fasiq dan membunuhnya adalah perbuatan kufur.” Jika kita mencarinya dengan mesin pencari, maka akan banyak ditemui hadist lain mengenai larangan menghina, mencaci, ataupun menghujat orang lain, terlebih bila ia seorang muslim.

KEDUA, tabayyun atau cross check. Ayat mengenai tabayyun ini sangat populer sekarang seiring dengan mudahnya orang  mendapatkan akses berita atau informasi. Di tengah gempuran berbagai informasi yang dahsyat maka sikap tabayyun ini harus dikedepankan. Berita bermunculan dengan berbagai kepentingan baik ataupun buruk. Tanpa sikap tabayyun maka kita akan menjadi orang yang menyesal, seperti disebutkan di ayat 6 Surat Al Hujurat. Kebanyakan dari kita begitu gegabah menghakimi orang lain karena hanya membaca satu sumber informasi, padahal kalau kita mau cross check yaitu dengan membaca sumber berita yang lain, bisa jadi informasi yang pertama salah. Kalapun informasinya benar, kita tetap dilarang menghakimi apalagi ternyata informasinya salah. Sikap kehati-hatian memang harus dikedepankan.

KETIGA, kedepankan berprasangka baik daripada berprasangka buruk. Di dunia maya segala macam informasi ada, terlebih informasi yang sifatnya tendesius ke salah satu pihak karena media kini menjadi ajang kepentingan. Informasi tendensius seperti ini rentan sekali menimbulkan prasangka-prasangka yang tidak baik. Terkadang Si pembuat berita memang sengaja membuat informasi yang kontroversif agar web atau situs beritanya ramai dikunjungi orang. Menganut nasehat Aa Gym, maka kita harus menemukan 1001 cara untuk tetap berprasangka baik.

KEEMPAT, melakukan hal yang bermanfaat. Berkecimpung di dunia maya memang asyik, apalagi di media sosial. Kita bisa berinteraksi dengan siapa saja, bahkan dengan presiden sekalipun. Dunia maya mempunyai dua sisi yaitu baik dan buruk, menimbulkan dampak positif dan negatif. Tetapi sepenuhnya kontrol bagaimana berselancar di dunia maya itu ada pada diri kita sendiri. Jadi dampak positif atau negatif dunia maya, kita sendiri yang menciptakan. Agar dunia maya memberikan sesuatu yang postif bagi kita, lakukan hal yang bermanfaat saja ketika berselanjar di dunia maya. Belajar di grup masak memasak, di grup kajian, melihat video yang berisi nasehat, dan masih banyak lagi hal-hal positif yang bisa dilakukan di dunia maya.

KELIMA, pahami etika di media sosial. Kenyataannya etika ini banyak tidak diindahkan oleh pihak-pihak yang aktif di media sosial, seperti ikut-ikutan menjadi komentator pada sesuatu yang sebenarnya kita tidak memahaminya. Kemudian, terlalu ikut campur pada urusan orang lain. Berinteraksi di dunia maya sama halnya berinteraksi di dunia nyata yaitu dibutuhkan etika. Jika di dunia nyata kita bisa merasa sungkan kepada orang lain, hendaknya di dunia maya pun kita harus demikian.

Semoga kita menjadi pribadi yang santun, di manapun berada. Aamiin.