Dunia Adalah Penjara dan Surga

0
401
surga dunia

Oleh : Pipit Era Martina

Dalam satu riwayat, sesungguhnya Rasulullah Saw pernah melewati kambing yang mati. Bersabdalah beliau, “Tahukah engkau kambing ini adalah hina bagi yang memilikinya?” Mereka berkata, “Karena kehinaannya itu mereka melemparkannya.” Beliau bersabda lagi, “Demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh dunia ini lebih hina dari kambing ini bagi pemiliknya. Seandainya dunia ini memadai di sisi Allah dengan sebuah sayap nyamuk, tentu Dia tidak akan memberi minum pada seorang kafir dengan seteguk air.” (HR. Muslim)

Rasulullah SAW juga bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi seorang kafir.” (HR. Muslim). Allahu Akbar, dunia ini ialah satu-satunya penjara yang paling mengerikan dibanding dengan penjara-penjara paling menakutkan di dunia.

Apa yang ada dalam benak sahabat semua ketika mendengar kata “penjara?” Tidak sedikit dari kita yang membayangkan tentang kehidupan penjara yang sadis, menakutkan, penuh kekerasan, juga penyakit. Salah satu contoh penjara yang sangat menakutkan di dunia adalah Penjara Bang Kwang terletak sekitar 7 mil dari Bangkok, Thailand, dan dijuluki The Bangkok Hilton. Penjara ini sangat identik dengan penyiksaan para narapidana. Bahkan selain ada penyiksaan, narapidana juga ditempatkan pada sel kecil dan harus berdesak-desakan. Bagi narapidana yang mendapat hukuman mati, hanya diberitahu beberapa jam sebelum eksekusi dengan bius mati. Para narapidana di sana harus menggunakan rantai borgol di kaki mereka dalam tiga bulan pertama masa hukuman.

Nah, sahabat, bayangkan tentang sabda Rasulullah SAW tentang dunia adalah penjara yang mungkin lebih mengerikan dan menakutkan dibanding dengan penjara yang kita tahu. Meski tak secara nyata kita menerima hukuman langsung seperti tinggal disel, tetapi bagi seorang mukmin, dunia yang fana dan penuh pesona kemaksiatan ini lebih menakutkan daripada penjara yang nyata menyiksa.

Kita harus menahan air mata ketika melihat umat yang mengaku muslim namun bermain dengan kemaksiatan, melihat dunia yang porak-poranda berpesta dengan dosa. Harus menelan liur ketika nasihat kebaikan justru dibalas dengan kecaman, ancaman serta hujatan. Bagi orang mukmin, hal ini lebih menyakitkan dan inilah yang disebut dunia bagaikan penjara yang nyata.

Bersabda Rasulullah SAW, “Dunia itu terlaknat dan terlaknat pula apa-apa yang ada di dalamnya kecuali yang ditujukan untuk Allah”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Itulah mengapa, orang mukmin bahagia menyambut kematian, karena sesungguhnya kematian yang ia temui menyelamatkannya dari penjara dunia yang benar-benar menakutkan. Membebaskannya dari urusan dunia yang serba mengundang dosa, dan bergelimang maksiat.

Namun tidak demikian dengan seorang kafir yang menganggap bahwa dunia ini adalah surga, sebaik-baik istana. Mereka berfoya-foya, berpesta maksiat tanpa perdulikan larangan-larangan. Mereka bahagia, tertawa lepas seraya berkata “Inilah surga kita.”

Seolah mereka tak akan pernah pergi dari dunia yang mereka sebut-sebut sebagai surga abadi. Apakah mereka sadar akan arti surga yang sesungguhnya? Allah telah menjelaskan dalam Al-Qur’an, “Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman). mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.”(Ar-Ra’du 13:35)

Hanya teruntuk orang-orang bertakwa dan senantiasa menyebut asma Allah di setiap hembusan nafasnya, surga dihadirkan. Bukan untuk mereka yang lupa siapa dan darimana mereka diciptakan. Lagipula surga yang sesungguhnya ialah surga abadi yang hadir setelah mati, jadi kalau belum mati ya belum bertemu surga. Dan surga pula tak seburuk yang mereka definisikan. Surga itu indah dengan selimut keimanan dan ketakwaan, bukan berbaju kemaksiatan. Jika pesta maksiat mereka sebut surga yang mendatangkan bahagia, lantas bagaimana bentuk dosa yang mereka sebut?

Jangan jadikan dunia sebagai tumpuan utama, juga jangan menjadikan dunia sebagai Tuhanmu, karena engkau akan dihambakan oleh dunia. Ingatlah! Dunia hanya sementara dan akhirat selamanya, nikmati dunia sesaat saja dan ingatlah mati yang akan datang tiba-tiba tanpa menunggumu siap, dan tak memberimu satupun kesempatan untuk membalikkan waktu guna memperbaiki diri.

Jadikan dunia sebagai jembatan untuk meraih surga yang abadi, jangan jadikan tempat yang kau anggap abadi, seolah tak akan pernah pergi dari dunia ini. Kita di dunia bagaikan orang yang datang dan sekedar sejenak berhenti untuk minum, bukan untuk datang dan tinggal lama.

Yuk, mari tingkatkan keimanan dan perlahan menggenggam dunia seraya berkata, “Ini tempat singgah sementara dan surga tujuan utama kita”. Perlahan tetapi pasti, memantaskan diri di dunia demi menggapai bahagia yang abadi.

Abu Musa Al-asy’ari berkata, bersabda Rasulullah SAW, ‘Barangsiapa yang mencintai dunianya tentu dia akan membahayakan terhadap akhiratnya, dan barangsiapa yang mencintai akhiratnya, tentu akan membahayakan dunianya. Maka utamakanlah apa yang abadi atas apa yang binasa.”

Cinta dunia adalah pangkal dari sebuah kesalahan yang fatal tanpa pengampunan, karena sesungguhnya cinta yang kita miliki di dunia adalah satu dari 100 cinta yang Allah simpan di sisi-Nya. Maka dari iu, cintai apapun yang ada di dunia ini sekedarnya saja, curahkan seluruh cintamu hanya kepada-Nya sang pemilik cinta. Dengan begitu, bahagia menyelimuti bahtera kehidupan dunia dan kebahagiaan akhirat menanti di depan mata. Memang tak ada yang memberi jaminan bahwa orang mukmin pasti akan temui bahagia di ujung senja, tetapi percayalah bahwa di setiap usaha yang senantiasa dikarenakan Allah, maka Allah pun akan membalasnya sesuai dengan apa yang kita perbuat.

Note : Penulis tak selalu seindah tulisannya. Namun melalui tulisan, penulis akan berusaha merubah dirinya menjadi lebih indah.

Lampung, Rabu, 1 Jamadilawal 1437 / 10 Februari 2016