Duhai Ibu, Berkata yang Baik Atau Diam

0
453
mendidik

Oleh : Riska Kencana Putri

Menjadi seorang ibu adalah anugerah dari Allah SWT. Di sana ada surga bagi anak-anaknya, juga ada ridha Allah dalam keridhaan seorang ibu. Bahkan dikatakan dalam sebuah hadits, seorang anak dianjurkan berbakti kepada ibunya tiga kali lebih dulu dari ayahnya.

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, keada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi SAW menjawab, ‘Ibumu.’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi SAW menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau SAW menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi SAW menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR Bukhari Muslim)

Selain itu, doa seorang ibu bagi anaknya juga merupakan salah satu doa yang langsung menembus langit karena ijabahnya doa mereka.

Duhai Ibu, Hati-Hati Saat Berucap

Memang tidak mudah menjadi seorang ibu dengan kewajiban mengurus rumah tangga dan mendidik anak yang bisa dibilang tidak ada habisnya. Kadang perasaan jengkel dan marah masuk ke dalam hati, kemudian melampiaskannya dengan berkata kasar kepada anak. Padahal yang namanya anak, apalagi yang belum aqil baligh, belum mengerti sepenuhnya.

Anak menangis karena minta sesuatu, sedangkan kita sedang repot, akhirnya amarah tidak bisa tertahan. Akibatnya anak menjadi pelampiasan, ungkapan kata kasar pun muncul. Tak jarang tangan dengan ringanya mendarat di bagian tubuh anak; memukul dan mencubit.

Ada lagi orag tua yang sering memberi cap pada anak, misalnya cap “bandel”, “nakal”, “bodoh”, atau “tidak bisa diatur”. Pelabelan seperti ini akan terukir di hati anak, tertanam kuat di otak dan alam bawah sadar mereka., sehingga dalam perkembangannya mereka akan senantiasa berbuat sesuai cap yang telah diberikan orang tuanya.

Selain cap yang memang bisa menancap kuat di hati mereka, perkataan seorang ibu, apapun itu bisa menjadi doa bagi anak. Islam sangat melarang orangtua menyumpahi anak-anak dan juga diri sendiri, karena kita tidak tahu kapan doa (baik atau buruk) akan dikabulkan oleh Allah SWT.

Dari Jabir bin Abdullah ra, dia menceritakan bahwa Rasulullah SAW berdabda , “Janganlah kalian menyumpahi diri kalian dan jangan pula menyumpahi anak-anak kalian dan harta kalian, kalian tidak mengetahui saat permintaan (doa) dikabulkan sehingga Allah akan mengabulkan itu.” (HR. Muslim)

Berkata Baik atau Diam

Begitu dahsyatnya perkataan yag dilontarkan oleh ibu seharusnya membuat kita lebih berhati-hati. Bukan tidak mungkin apa yang kita ucapkan akan diijabahi oleh Allah dan membuat kita menyesal di kemudian hari.

Ucapan yang keluar dari lisan ketika sedang marah selalu tidak baik. Bukankah marah itu asalnya dari setan? Karena itulah Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk menahan amarah. Jika dalam kondisi berdiri, maka hendaknya ia duduk. Jika belum reda, maka berbaringlah. Jika belum juga reda, maka hendaknya berwudhu dan banyak istighfar. Jika tak kunjung reda, maka shalatlah dua rakaat.

Masih ingatkah kisah Juraij? Juraij adalah seorang ahli ibadah. Ia membangun sendiri tepat untuk ibadanya. Saat ia sedang shalat, ibunya datang memanggil Juraij dari luar, tetapi Juraij tetap meneruskan shalatnya dan mengabaikan panggilan sang ibu. Ini berlangsung selama tiga hari. Dengan kesal sang ibu di hari ketiga berkata, “Ya Allah, janganlah Engkau matikan dia, sehingga ia melihat pelacur!”

Terkabullah doa sang ibu. Juraij kemudian digoda oleh pelacur, tetapi Juraij tetap tidak tergoda. Si pelacur membawa seorang anak dan menfitnah Juraij, mengatakan bahwa anak tersebut adalah hasil hubungannya dengan Juraij. Betapa terkejut dan marahlah warga desa, mereka beramai-ramai menghancurkan rumah ibadah Juraij. Namun, setelah Juraij menunaikan shalat dua rakaat, ia bertanya kepada bayi tersebut, “Siapa bapakmu?” Bayi tersebut –atas ijin Allah- menjawab, “Bapakku adalah seroang penggembala.”

Berbeda lagi kisah seorang ibu yang satu ini. Suatu ketika seorang anak sedang asyik bermain tanah, ibunya sedang menyiapkan jamuan makan untuk tamu sang ayah. Belum juga datang tamu yang dimaksud, anak ini masuk ke dalam dengan membawa segenggam tanah dan menaburkannya ke atas makanan. Dengan marah sang ibu berkata, “Pergi kamu! Biar kamu jadi Imam di Masjid Haram!” Masya Allah, setelah anak itu dewasa, ia benar-benar menjadi imam masjidil Haram. Dia adalah Syaikh Abdurrahman As Sudais.

Dua kisah di atas menjadi pelajaran bagi kita untuk senantiasa menjaga ucapan kita, baik dalam keadaan tenang maupun dalam keadaan marah. Jika kita tidak mampu berucap layaknya ibunda Syaikh Abdurrahman As Sudais, paling tidak jangan kita berdoa seperti doa ibu Juraij. Jadikan setiap kata yang keluar dari mulut seorang ibu sebagai doa kebaikan bagi anak-anaknya.