Dan Janganlah Kamu Berburuk Sangka!

1
827
jangan buruk sangka

DAN JANGANLAH KAMU BERBURUK  SANGKA!
True Story
Oleh : Newisha Alifa

Sekitar dua tahun lalu, teman satu angkatan saya di BEM menikah. Baik dari mempelai wanita dan pria, keduanya mengenal saya. Pun sejak tahun 2011 saling mengenal keduanya, tak pernah ada masalah yang berarti di antara kami bertiga. Tiba-tiba saja, angkatan BEM kami dikejutkan dengan di-upload¬-nya foto-foto resepsi pernikahan sepasang sejoli ini. Seorang teman BEM lainnya pun mengirim pesan via inbox Facebook.

“Si X dan Y nikah ya? Kok nggak ngundang-ngundang?”

Saya terkejut membacanya, lalu segera mengecek kebenaran informasi tersebut ke profil keduanya. Dan benar saja! Mereka telah resmi menjadi sepasang pasutri berdasarkan foto-foto yang terpampang jelas di sana. Seketika nyeri menjalari hati. Salah apa yaa saya, kok sampai nggak diundang?

Karena masih penasaran, keesokan harinya, saya pun mengirim BBM kepada teman perempuan BEM lainnya. “Beb, kamu diundang ke nikahannya X sama Y?”

Si Beb pun menjawab, “Diundang, Beb. Emang kamu nggak?”

“Nggak, Beb!” balas saya lagi, “Terus, kamu datang ke acaranya?”

“Nggak juga sih, Beb. Aku ada acara kemarin.”

“Kenapa ya, Beb, aku kok nggak diundang?” tanya saya sedih.

“Masa sih? Mungkin kelupaan kali, Beb. Anak-anak yang lain diundang juga nggak?”

“Kayaknya sih nggak deh. Di fotonya nggak ada anak-anak angkatan BEM kita.”

#

Aih, gegara masalah sepele, saya bisa nggak enak hati gini. Kalau saya pernah ada masalah, berdebat atau sejenisnya dengan salah satu dari X dan Y saja, okelah, saya bisa memahami kenapa nggak diundang. Lah ini? Serius, saya merasa hubungan kami selama ini baik-baik saja. Tapi kok?
Akhirnya dengan niat mengklarifikasi, saya pun mengirim sms berisi selamat kepada pihak perempuannya. Setelah dia membalas dengan ucapan terima kasih atas doa yang saya haturkan, saya pun memberanikan diri bertanya, “Kok kamu nggak ngundang-ngundang aku sih?”

Lama tak ada jawaban darinya, resah kembali menggelayuti hati. Wahhh, jangan-jangan benar nih, saya sempat membuat salah apa yang nggak disengaja hingga membuatnya tak enak hati, dan tak menginginkan saya hadir di acara istimewanya. Astaghfirullah! Setan bermain lihaiiii sekali dalam hati.

Alhamdulillah, beberapa saat kemudian, dia pun menjawab pertanyaan saya. Ternyata, dia sudah menyampaikan pada teman kami si Beb tadi, supaya memberitahu teman-teman lainnya untuk menghadiri acara pernikahan mereka.

“Loh, emang si Beb nggak nyampein?”

“Nggak.”

“Ya ampun. Pantesan, aku tungguin kalian. Kok satu pun nggak ada yang datang,” balasnya lagi.
Perasaan geregetan pun seketika pindah ke si Beb. Saya ceritakan isi SMS dengan si X bahwa dia merasa sudah mengamanahkan si Beb untuk menyebar kabar perihal pernikahan mereka. Ehhh, ternyata si Beb menjawab, “Masa sih, Beb? Aku tahunya dia cuma ngabarin ke aku aja, bahwa dia mau nikah.”

Howalaaaaah … Gegara pesan yang gagal ditangkap, hampir timbul kesalahpahaman satu sama lain.
Setidaknya saya bersyukur, karena tidak serta merta menyimpulkan suatu yang negatif pada diri teman-teman saya. Saya bersyukur karena tidak membiarkan prasangka buruk tumbuh liar dalam benak dan pikiran saya tentang mereka. Alhamdulillah. Pengalaman ini merupakan pelajaran berharga bagi saya ke depannya agar tidak tergesa-gesa dan membiasakan diri untuk tabayyun (klarifikasi) terlebih dahulu sebelum menyimpulkan sesuatu.

Bukankah, Allah sudah berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 12 :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan) karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa.”

Bekasi, 31 Januari 2016