Da’i Bukanlah Profesi

0
538
istiqlal

Oleh : Indri Novia Miranti

“Nahnu du’at qabla kulli syai`i” (Setiap dari kita adalah dai sebelum menjadi sesuatu). 

Dai secara lughah berarti yang menyeru (isim fa’il). Sedangkan da’watan (baca dakwah) adalah bentuk isim masdarnya. Sebagaimana yang kita ketahui, diantara tujuan Allah SWT menciptakan manusia di dunia ini selain untuk menjadi ‘abid/hamba (yang beribadah), khalifah (pelestari bumi), juga sebagai dai (penyeru). Ini menjadi tugas umum, tidak terkecuali. Bagi siapapun, kapanpun, di manapun dan dalam bentuk apapun. Seperti dalam hukum fardhu ‘ain, bukan fardhu kifayah.

Namun anehnya, zaman sekarang menjadi Da’i seolah dijadikan profesi. Tidak jarang, banyak orang yang enggan untuk berdakwah karena ia menganggap itu bukanlah profesinya. “Biarkan saja, itu kan tugasnya para ustadz untuk ceramah!” tandas mereka. Padahal, menjadi seorang dai itu merupakan tugas dan amanah yang memang diemban oleh setiap orang, tetapi yang membedakan adalah dari bentuk dan caranya.

DASAR-DASAR DAKWAH

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik…” (QS. An-Nahl: 125)

Pada permulaan ayat di atas diawali dengan kata perintah, ud’u sebagai bentuk fi’il amr. Di dalamnya tersirat bahwa terdapat 4 tingkatan dakwah:

Pertama : Hikmah
Kedua : Nasehat yang baik
Ketiga : Dialog yang baik
Keempat : Menggunakan kekuatan atau kekerasan

Seperti yang pernah disebutkan Nabi SAW dalam haditsnya, “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya. Maka jika tidak mampu Maka rubahlah dengan lisannya. Maka jika tidak mampu maka rubahlah dengan hatinya. Yang demikian tersebut merupakan selemah-lemah iman.”

Tetap pada intinya adalah amar ma’ruf nahyi munkar. (Lihat QS. At-Taubah: 71)

DA’I DAN MUBALIGH 

Sebagaimana hadits Nabi SAW, “Balliguu ‘annii walau aayat!” (Sampaikanlah dariku walau satu ayat). Satu ayat apa saja? Bebas. Apapun ayat Allah SWT maupun hadist Nabi Muhammad SAW yang bisa dijadikan referensi (sumber rujukan) kita dalam berdakwah, maka ambillah. Baik itu ayat qauliyah (yang tersurat) maupun ayat kauniyah (yang tersirat).

Sekarang, apa yang membedakan antara dai dan mubaligh. Sebetulnya sama saja hanya penamaan dan istilah yang berbeda, keduanya sama-sama yang menyampaikan dakwah.

DAKWAH BUKAN PAKSAAN

Kita melihat bagaimana cara dakwah Nabi SAW yang begitu santun, seperti yang tergambar dalam firman-Nya, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…” (QS. Ali ‘Imran: 159)

Bahkan saat seruannya pun diabaikan, Nabi SAW hanya berucap, “Sesungguhnya saya berlepas diri dari apa yang kalian perbuat.” Serta di kala nabi SAW bertutur, “Sesungguhnya saya tidak meminta upah darimu sedikitpun.” 

Begitu indahnya akhlak Nabi SAW saat berdakwah, bahkan kepada keluarga dan kerabatnya sekalipun Nabi SAW tidak pernah memaksakan. Terlihat jelas saat pamannya sendiri Abu Thalib memilih untuk tetap berpegang pada keyakinan sebelumnya sampai akhir hayatnya. Karena, tugas seorang dai adalah menyeru dan menyampaikan (tabligh). Terlepas dari itu, kita kembalikan lagi kepada pribadi masing-masing. Apakah dia mau menerima atau sebaliknya.

“Katakanlah,”Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)


BERDAKWAHLAH DENGAN CARAMU

Setiap orang dianugerahi kemampuan yang berbeda. Oleh karena itu, berdakwahlah dengan cara yang kita sukai. Coba kita telusuri jejak para sahabat nabi, diantara mereka ada yang penyair, pedagang, bahkan ada juga tabib dan seorang mu’allim (guru). Mereka pun berdakwah dengan profesinya masing-masing.

Dakwah itu tidak terbatas tempat dan waktu. Tidak melulu harus dalam bentuk ta’lim dan tidak harus di masjid saja. Tentunya disesuaikan juga dengan objek dan sasaran dakwahnya, serta situasi dan kondisinya. Dari itu Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Bicaralah dengan orang sesuai dengan apa yang mereka ketahui. Apakah kalian suka Allah dan Rasul-Nya didustakan?” (Shahih Muslim dan Syarh an-Nawawi. Juz: 1, hlm: 55)

Juga diriwayatkan oleh Aisyah r.a. bahwa ia mengatakan, “Rasulullah SAW memerintahkan kepada kita untuk menempatkan manusia sesuai dengan kondisi mereka.” (Shahih Muslim. Juz: 1, hlm: 11)

BENTUK-BENTUK DAKWAH

Dakwah memiliki beberapa bentuk, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Dakwah bil lisan (berdakwah lewat ucapan).
2. Dakwah bil hal (berdakwah lewat perbuatan).
3. Dakwah bi uswah hasanah (berdakwah lewat teladan yang baik).
4. Dakwah bil qalam (berdakwah lewat pena/tulisan).
5. Dakwah bil fann (berdakwah lewat seni, dengan cara penyampaian yang modern; baik secara audio (radio), visual (televisi), dll.)

Sekarang saatnya kita memilih dan menemukan style kita dalam berdakwah. Karena menjadi dai bukanlah profesi, tetapi tugas dan amanah setiap muslim tanpa terkecuali.

“Dan siapakah yang lebih baik perkataanya dari orang yang menyeru kepada (mengesakan dan mematuhi perintah) Allah,  mengerjakan amal yang shaleh dan berkata `sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri`?” (QS. Fushshilat: 33)