Bukan Sembarang Insya Allah

0
630
insya Allah

Oleh : Newisha Alifa

Ucapan ‘Insya Allah’ bukanlah hal yang baru lagi dalam kehidupan kita sehari-hari. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Insya Allah berarti : Jika Allah Menghendaki. Dalam beberapa kitab Al-Qur’an yang disertai terjemahnya, terdapat riwayat atau asbabun nuzul untuk QS. Al-Kahfi ayat 23 & 24 adalah; Beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang ruh, para pemuda Ashhabul Kahfi (penghuni gua) dan kisah Dzulkarnain, lalu beliau (Nabi Muhammad Saw) menjawab, “Datanglah besok pagi kepadaku, akan kuceritakan,” tanpa mengucapkan ‘Insya Allah’.

Namun kiranya sampai besok hari wahyu (yang dijadikan dasar untuk menjawab pertanyaan orang Quraisy) belum datang, sehingga Nabi Muhammad SAW tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Maka turunlah ayat 23 & 24 pada surat Al-Kahfi, sebagai pelajaran untuk beliau, agar hendaknya mengucapkan ‘Insya Allah’ ketika hendak berjanji untuk melakukan sesuatu di kemudian hari.

Allah SWT berfirman, yang artinya, “Dan janganlah sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu besok pagi, kecuali dengan mengatakan, ‘Insya Allah’. Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa, dan katakanlah, “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberi petunjuk kepadaku agar aku lebih dekat (kebenarannya) daripada ini.” (QS. Al-Kahfi : 23 & 24)

Hal yang hampir serupa juga pernah dialami oleh Nabi Sulaiman as, sebagaimana diceritakan dalam sebuah hadits, “Sulaiman bin Dawud alaihimassalaam berkata: Sungguh aku akan berkeliling (menggilir) seratus istriku malam ini, sehingga tiap wanita akan melahirkan anak yang akan berjihad di jalan Allah. Kemudian satu Malaikat mengucapkan kepada beliau: “Ucapkan Insya Allah”. Tetapi Nabi Sulaiman tidak mengucapkan dan lupa. Kemudian beliau berkeliling pada istri-istrinya. Hasil selanjutnya, tidak ada (istri-istrinya) yang melahirkan anak kecuali satu orang wanita yang melahirkan setengah manusia. Nabi Muhammad SAW bersabda: ‘Kalau Nabi Sulaiman mengucapkan Insya Allah, niscaya beliau tidak melanggar sumpahnya, dan lebih diharapkan hajatnya terpenuhi’.” (H.R Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, lafadz hadits sesuai riwayat Al-Bukhari).

Berdasarkan ayat Al-Qur’an dan Hadits di atas, bisa kita simpulkan, bahwa kita dianjurkan mengucapkan ‘Insya Allah’ ketika hendak berjanji terhaap orang lain untuk melakukan sesuatu. Melafazkan ‘Insya Allah’ adalah salah satu bentuk sederhana kita dalam memasrahkan segala yang akan terjadi pada Allah semata. Menyadari, bahwasanya manusia hanya bisa berencana, namun pada akhirnya ketetapan Allah-lah yang akan terlaksana. Sedangkan ucapan insya Allah dapat memudahkan terpenuhinya hajat seseorang.

Demikianlah, dengan mengucapkan ‘Insya Allah’ seyogyanya kita selalu sadar, bahwa tak ada yang pasti dalam hidup ini kecuali ketidakpastian itu sendiri. Bahkan sekalipun, sesuatu itu sudah nampak begitu pasti akan terjadi nanti, besok, minggu depan, atau di waktu-waktu tertentu yang sudah kita tetapkan dalam sebuah rencana.

Ada Yang Luput dari Pengucapan Insya Allah … 

Belakangan ini, kebiasaan memulai suatu janji atau rencana dengan ‘Insya Allah’, bahkan tidak hanya digunakan oleh umat Islam saja. Selain ‘Alhamdulillah’ dan ‘Astaghfirullah’, orang-orang di luar Islam, juga kerap kali dengan spontan mengucapkan ‘Insya Allah’ dalam obrolan sehari-hari mereka. Biasanya sih, karena mereka tahu bahwa lawan bicaranya beragama Islam.

Hanya saja yang disayangkan adalah, masih banyak umat Islam yang belum mengetahui, bahwa penggunaan ‘Insya Allah’ itu bukan sekadar ucapan basa-basi, tetapi justru bagian dari sebuah janji! Dan ingat! Janji adalah hutang, Saudara-saudari!

Bukankah sebagai manusia kita diberikan akal untuk memprediksi apa yang akan terjadi? Biasanya kita sudah punya rencana nih, apa yang mau dilakukan esok hari, bahkan hingga berbulan-bulan ke depan. Jikalau secara garis besar kita sudah tahu bahwa kita tidak akan sanggup untuk memenuhi suatu kesepakatan, masih bolehkah kita menyertakan ‘Insya Allah’ dalam percakapan kita pada seseorang? Tentu saja boleh, namun ingat… Insya Allah adalah bagian dari janji yang seharusnya tidak kita sepelekan.

Kalau sudah tahu dan dalam keadaan ingat, besok ada rencana mau menghadiri undangan pernikahan teman misalnya, tiba-tiba saja ada yang mengajak kita untuk ikut serta dalam suatu kegiatan. Lebih baik mana, mengucapkan ‘Insya Allah’ akan hadir, atau dengan tegas mengucapkan, “Maaf, saya sudah ada rencana besok.”?

Karena mengucapkan ‘Insya Allah’ adalah bagian dari janji, kiranya jangan sembarangan kita menggunakannya untuk memberi harapan kepada orang lain. Tidak jarang, kita menyepelekan dan menganggap hal tersebut adalah bagian dari basa-basi. Niat untuk memenuhi acaranya pun sebenarnya tidak pernah ada, hanya saja merasa tak enak jika harus terang-terangan mengucap, “Maaf, saya nggak bisa ikutan.” Padahal lebih baik kita jujur, bisa atau tidak, supaya orang tersebut bisa mengambil alternatif lainnya usai mendapatkan jawaban dari kita.

LANTAS KAPAN SEBAIKNYA ‘INSYA ALLAH’ DIUCAPKAN?

Ucapkanlah ketika kita yakin, 99% sanggup memenuhi janji tersebut! Yakin, bahwa kita mampu untuk ada dalam kondisi yang sudah disepakati bersama. Namun, ingat! Masih ada persentase 1% yang kelihatannya kecil, tetapi punya big power, apa itu? Yaa tadi itu … IZIN ATAU KEHENDAK ALLAH. 

Misalnya nih, kita sudah yakin banget nanti sore akan ke toko buku bersama teman. Merasa sangat ready and free, untuk bisa memenuhi kesepakatan tersebut. Ucapkanlah Insya Allah, karena boleh jadi menjelang waktu yang sudah ditetapkan, hujan turun dan menyulitkan kita untuk berangkat. Atau tetiba ada keperluan lain yang begitu mendesak dan memaksa kita untuk membatalkan janji tersebut. Nah! Di sinilah, ‘Insya Allah’ yang kita ucapkan di awal, BERFUNGSI! Atau MEMAINKAN PERANANNYA! Sudah pahamkah?

“Eh, Bro … Kamu sanggup nggak makan mi rebus pake cabe rawit sepuluh?” Kalo dari awal, kita nggak doyan pedas, yaa jangan nekat lah bilang ‘Insya Allah’ untuk menerima tantangan tersebut. Atau jika sudah tahu bahwa kita tidak bisa berenang, sekonyong-konyong ada teman yang mau ngajak diving,  apa masih mau berbasa-basi menjawab, “Yuk, Insya Allah.”
Jadi, bila sejak awal kita sudah tahu bahwa kemungkinan besar kita takkan mampu melakukan hal tersebut, sebaiknya tidak perlu lagi menggunakan ‘Insya Allah’.  Boleh jadi ini hal sepele di mata kita, tapi akan jadi sesuatu yang sangat berarti bagi orang lain. Nggak mau dong kan yaa, kita terlanjur dicap sebagai orang yang nggak bisa dipegang omongannya karena menyepelekan fungsi ‘Insya Allah’. Ingat! Satu dari tiga ciri orang munafik adalah, jika dia berjanji maka dia ingkar!

Semoga tulisan ini bisa membuat kita semua lebih berhati-hati sebelum mengucapkan ‘Insya Allah’.
Aamiin Yaa Robbal Alamiin.

Bekasi, 10 Peb 2016