Bila Pasien Meninggal, Salah Dokter??

0
716
pasien meninggal

Oleh : Rina Perangin-Angin

Beberapa waktu lalu, ada berita pada salah satu chanel TV nasional yang menuntut seorang dokter karena pasien yang ditanganinya meninggal dunia. Orang tua pasien tidak terima dan melaporkan dokter tersebut ke pihak berwajib. Dokter pun diproses mulai pemeriksaan surat izin prakteknya, apakah ada atau tidak, berlanjut ke riwayat pasien-pasien yang ia tangani, apakah kebanyakan bernasib sama yakni tak tertolong atau tidak, sampai pada kinerjanya beberapa tahun terakhir.

Bagaimanakah sebenarnya Islam memandang kasus ini? Berdosakah seorang dokter yang menangani pasien, kemudian pasien itu meninggal dunia? Jika berdosa, maka hukuman apa yang kemudian diberikan kepada si dokter?

Menurut syariat Islam, mempelajari ilmu kedokteran adalah fardu kifayah. Kewajiban ini tidak gugur kecuali ada orang yang telah memenuhinya. Mempelajari ilmu kedokteran menjadi wajib, sebab kebutuhan masyarakat akan pengobatan yang bersifat darurat. Artinya, bila tidak ada dokter, maka nyawa yang menjadi taruhannya. Berdasarkan kebutuhan yang darurat ini, maka kewajiban praktik kedokteran tidak boleh ditinggalkan sepanjang masa. Selama masih ada kehidupan, maka berbagai penyakit juga akan selalu bermunculan.

Para fuqaha sepakat bahwa apabila pasien meninggal, maka dokter tidak bertanggung jawab. Sebab, pada hakikatnya nyawa tetap merupakan takdir mutlak Allah SWT, sedangkan dokter hanyalah perantara untuk menyelamatkan. Untuk itu, ketika pasien meninggal, dokter tidak bisa langsung disalahkan. Ingat, dokter bukanlah Tuhan yang bebas menghidupkan manusia.

Namun, alasan pencabutan pertanggung jawaban, ada perbedaan pendapat dari ulama. Abu Hanifah berpendapat bahwa selama ada izin dari wali si pasien, maka dokter bebas dari tanggung jawab. Asy Syaafi’i dan Hanbali juga demikian. Selama ada izin dari pasien atau wali yang mewakili dengan tujuan mengobati si pasien, maka dokter telah bebas dari tanggung jawab.

Berdasarkan uraian dari para ulama, maka dapat disimpulkan bahwa dokter tidak bertanggung jawab meninggalnya pasien selama memenuhi syarat, yakni:
PERTAMA, dokternya merupakan seorang dokter yang memang telah mendapat izin praktik yang sah dari lembaga pemerintah. Jika dokter itu tidak memiliki izin tersebut, maka dokter bertanggung jawab atas kematian pasien. Sebab tanpa surat izin, berarti kemampuannya sebagai seorang dokter belum terjamin.

KEDUA, seorang dokter menangani pasien hanya dengan tujuan mengobati. Itu berarti ketika dokter merasa kasihan karena penderitaan si pasien, lalu memutuskan untuk memberhentikan pengobatan hingga pasien meninggal, maka dokter tersebut telah melakukan tindak kejahatan dan ini dapat diproses secara hukum. Kecuali jika pasien memang sudah benar-benar tidak memiliki harapan hidup, maka dokter boleh memberhentikan pengobatannya. Dan itupun tetap harus menunggu setelah beberapa waktu, misalnya beberapa minggu, dan pasien dalam kondisi tetap tidak menunjukkan tanda-tanda positif, maka dokter berhak memberhentikan pengobatannya.

KETIGA, dokter harus bekerja dengan dasar-dasar ilmu kedokteran yang ada. Tanpa ada unsur lain. Misalnya ada dendam dengan si pasien lantas si dokter mengobatinya tidak sesuai kaidah ilmu kedokteran, maka si dokter telah melakukan tindak kejahatan.

KEEMPAT, pasien atau wali yang mewakili mengizinkan dilakukannya pengobatan tersebut. Itu sebabnya bila ada tindakan operasi selalu ada surat persetujuan yang harus ditandatangani wali. Ini untuk menunjukkan bahwa antara dokter dan wali ada kerja sama. Jadi, dokter tidak bertindak sendiri dalam melakukan tindakan medis kepada pasien. Namun bila ternyata untuk memperoleh izin ini susah, misalnya pasien darurat harus segera dioperasi, sedangkan wali si pasien sedang keluar kota dan tidak bisa dihubungi, dalam hal ini dokter boleh memutuskan yang menurutnya terbaik bagi kesehatan pasien.

Jika dokter telah memenuhi keempat syarat tersebut, maka meninggalnya pasien bukan lagi menjadi tanggung jawabnya. Sebab ia telah melakukan semuanya sesuai dengan peraturan yang ada. Bila kita berada dalam posisi sebagai pasien atau keluarga pasien, maka tindakan yang bijak bukan menyalahkan dokter, melainkan berpikir bahwa kematian adalah takdir Allah. Sekali lagi, ingatlah bahwa dokter bukan Tuhan yang bisa memperpanjang umur manusia. Mereka juga manusia biasa seperti kita yang hanya bisa berusaha. Sesungguhnya segala yang bernyawa berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Ikhlaskanlah.

Dan untuk para dokter, jangan karena dibebaskan dari tanggung jawab lantas bertindak tidak serius dalam menangani pasien. Tetap lakukan semaksimal mungkin. Jangan sampai salah mendiagnosa atau salah meresepkan obat. Kita mungkin bisa saja mengatakan bahwa pengobatan yang kita lakukan sudah sesuai dengan kaidah yang ada, tetapi ingatlah, Allah Maha Mengetahiu bahkan yang tersembunyi di dalam hati. Tidak ada yang bisa  kita sembunyikan dari-Nya. Untuk itu tetap lakukan yang terbaik untuk pasien.

14 february 2016, sesaat setelah takdir merenggut nyawa yang kusayang.