Bersikap Lembutlah Dalam Berdakwah

0
241
dakwah penuh cinta

Oleh: Ahmad Yusuf Abdurrohman

Berdakwah; mengajak orang lain untuk benar-benar melangkah menuju jalan Islam yang sesungguhnya, tidaklah semudah yang dibayangkan oleh banyak orang. Mengajak seseorang menuju kebaikan, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Perlu adanya perjuangan yang melebihi biasanya. Karena, jalan yang kita tempuh adalah jalan istimewa; jalan menuju surga-Nya.

Bagi seorang muslim, mengajak kepada kebaikan adalah sebuah kewajiban. Ya, menyeru untuk menyusuri jalan-Nya adalah sebuah keharusan karena bisa membantu orang lain untuk lebih mendekatkan diri mereka kepada Allah. Bukankah kita akan mendapatkan kebaikan pula jika mengajak orang lain pada jalan kebaikan?
Mengajak orang lain pada kebaikan, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang, mengingat kemampuan setiap orang untuk mengajak orang lain menuju kebaikan berbeda beda.  Lalu, bagaimanakah cara kita berdakwah atau mengajak orang lain menuju kebaikan?

Allah telah menjelaskan hal ini dalam firman-Nya, “Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu; Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya. Dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An Nahl: 125)

Allah memerintahkan seorang muslim untuk mengajak orang lain menuju jalan-Nya dengan cara-cara yang baik dan sesuai keadaan yang ada saat itu. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, disebutkan perkataan Ibnu Jarir menjelaskan ayat ini bahwasanya yang diperintahkan untuk disampaikan dan diserukan kepada manusia adalah Al-Qur’an, Sunnah, dan pelajaran yang baik. Yaitu segala sesuatu yang terkandung di dalam Al Qur’an dan As Sunnah yang berupa perintah,  larangan, serta kejadian-kejadian yang menimpa manusia (di masa lalu) untuk diambil pelajaran darinya.

Bagaimanakah jalan dakwah ataupun cara memberikan nasihat serta arahan yang benar kepada orang lain? Dalam ayat di atas telah disebutkan, “Bil hikmati wal mauidzah hasanah”. Yaitu dengan perkataan yang lembut lagi baik, dan tentunya memanfaatkan waktu yang tepat. Karena, apa yang kita sampaikan tidak akan mengena, jika waktu yang dipergunakan tidaklah tepat.

Kedua, adalah dengan “Mauidzah Hasanah”. Apakah mauidzah hasanah itu? Itulah teladan yang baik. Orang akan lebih mudah mendapatkan pelajaran dari apa yang mereka lihat dari diri kita. Jadi, contohkanlah kepada mereka tentang kebaikan, niscaya atas izin Allah sedikit demi sedikit akan timbul secercah hidayah di hati mereka. Utamakanlah akhlak yang baik di manapun kita berada, karena akhlak baik juga mempunyai peran penting atas keberhasilan dakwah kita.

Lalu, bagaimanakah ketika ada orang yang tak menyukai dengan apa yang kita lakukan? Ada orang yang menentang apa yang kita sampaikan? Dalam ayat ini juga telah disebutkan, “Wa jaadilhum billatii hiya ahsan”.

Jawablah mereka, jelaskan kepada mereka dengan baik-baik. Jangan pergunakan kekerasan. Ingatlah, hidayah itu hanyalah Allah yang bisa memberikannya. Bahkan, ketika Allah memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk menasihati dan memperingatkan Fir’aun, Allah perintahkan keduanya untuk berbicara dengan ucapan yang lembut.
Allah AWT berfirman, “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 44)

Kata-kata yang lembut bisa melembutkan hati seseorang yang mendengarnya pula. Kita sebagai perantara dakwah, hanya bisa mencoba memberi nasihat pada orang lain semampu kita. Untuk masalah diterima atau tidaknya nasihat yang kita berikan, semuanya adalah keputusan Allah.

Teruslah berdakwah dan mengajak orang lain untuk berbuat baik. Jangan lupa, ikhlaskan niat dan pergunakanlah cara yang baik dan telah Allah perintahkan. Semoga Allah memudahkan langkah kita.

Jakarta, 24 Februari 2016