Bercandalah yang Baik Saja !

0
227
sepatu

Oleh: Arnie Syifannisa

Hidup itu tak harus melulu pada keseriusan. Bergulat dengan ketegangan yang akhirnya hanya akan menjadi jenuh dan membosankan. Bahkan ada yang sampai mengalami depresi. Itu yang sangat dikhawatirkan bila kita kurang menikmati hidup.

Pernah suatu hari, Imam Asy-Sya’bi rahimahullah bercanda, maka ada orang yang menegurnya dengan mengatakan, “Wahai Abu ‘Amr (kuniah Imam Asy-Sya’bi), apakah kamu bercanda?” Beliau menjawab, “Seandainya tidak seperti ini, kita akan mati karena bersedih.” (Al-Adab Asy-Syar’iyah,2/214).

Ada kalanya hidup itu diselingi dengan bercanda. Namun, alangkah baiknya jika candaan atau gurauan kita tidak sampai melampaui batas. Bercandalah dengan kebaikan sehingga tidak akan ada hati yang tersinggung atau terluka saat dibercandai. Dengan bercanda, maka akan terjalin suatu keakraban antara satu dengan yang lainnya. Mencairkan suasana yang semula terkesan kaku dan tegang. Orang juga akan merasa terhibur saat mengalami tuntutan hidup yang sangat berat. Setidaknya dengan bercanda akan sedikit mengurangi tekanan dalam dirinya.

Bercanda juga membangun simulasi yang baik bagi tubuh. Ia akan membuat kita terlihat awet muda. Sebab, bercanda yang baik akan membuat kita tertawa. Minimal akan membuat kita rileks dan energi-energi positif akan mendominasi dalam tubuh kita.

Namun, kita juga harus berhati-hati ketika bercanda. Salah-salah malah dapat memicu pertengkaran. Banyak orang kurang memperhatikan candaan atau gurauan yang secara spontan keluar dari mulut kita, tanpa menyaring terlebih dahulu apakah candaan itu sesuai porsi dan tempatnya. Hati-hati dalam bercanda.

Ada dua kisah yang cukup menarik untuk kita simak. Kisah ini saya sadur dari sebuah buku fenomenal berjudul “Menyimak Kicau Merajut Makna” karya Salim A. Fillah.

“Syaikh Abu Bakr Al-Awawidah, ketua Rabithah Ulama Palestina yang bermukim di Damaskus (beliau buta sebab disiksa Zionis Yahudi) berkisah, “Ketika Syaikh Abu Bakr dipenjara, beliau dihardik dalam ritual penyiksaan pagi. “Pilihanmu cuma tiga,” gertak si sipir, “Hentikan semua ini! Atau hukuman mati! Atau dibuang ke negeri yang jauh!”

Sahut beliau, “Alhamdulillah. Kata Ibnu Taimiyah, kalau dipenjara begini, rasanya rehat dan nikmat berdua dengan Allah. Kalau dibuang, berarti saya tamasya ke banyak tempat. Dan kalau dibunuh, aku bertemu Allah yang memang itu tujuanku!”

Mendengarnya, wajah si sipir memerah dan tangannya menggebrak meja keras. “Kurang ajar! Di mana Ibnu Taimiyah tinggal, hah?! Kami pasti akan menangkapnya!” geram si sipir. “Di kuburan Damaskus,” ujar beliau.

Kisah kedua, masih seputar kehidupan di penjara. Untuk menghindari lamanya siksaan, para tawanan sering meminta izin shalat dan memperlama shalatnya. Syaikh Abu Bakr berkata, “Aku mau shalat. Nanti kuceritakan sejarah hubungan di antara negeri kita dan semua info yang pasti memuaskanmu!” Si sipir mengiyakan. Maka Syaikh pun shalat dengan membaca Surat Al-Baqarah dari awal sampai akhir.

Begitu usai shalat, si sipir tersenyum meski gusar terlalu lama menunggu. “Oke, jadi kau mau bekerjasama. Ayo, ceritakan semua info yang tadi kau janjikan!”

Jawab Syaikh, “Lha kan sudah, baru saja saya kisahkan lengkap sambil shalat!”

“Apa maksudmu?” tanya sipir.

“Oh,” sahut Syaikh, “Jadi Anda tadi tidak menyimak? Baik, akan saya ulangi shalat saya!” (hal. 68-70).

Dua kisah di atas mengajarkan kita bahwa bercanda sebaiknya ada nilai-nilai hikmah yang bisa kita sampaikan. Jadi, kehati-hatian dalam bercanda juga sangat diperlukan dan juga jangan terlalu sering kita bercanda. Rasulullah SAW beserta para sahabat tidaklah menggunakan seluruh waktunya untuk bersendau gurau. Mereka hanya melakukannya kadang-kadang saja.

Jadikan diri kita sebagai orang yang bijak. Menikmati hidup dengan keseimbangan. Ada saatnya untuk serius, begitupun ada waktu untuk bergurau. Bercandalah dengan perkataan maupun perbuatan yang akan mengumpul energi positif untuk menebar kebaikan.