Belajar Mencintai dari Sejarah Salman Al Farisi

1
808
salman

Oleh: Aannisah Fauzaania

Rasa cinta merupakan anugerah yang telah Allah berikan pada tiap-tiap hati manusia. Seperti bait-bait syair pujangga, kisah cinta seringkali diidentikkan dengan bahagia yang tiada tara, atau pesakitan yang menikam jiwa. Masing-masing darinya sebenarnya seimbang, tergantung bagaimana pemilik cinta memaknai rasanya.

Kata orang, cinta tak selamanya harus memiliki. Ada keihlasan hati yang mesti dipelajari dari cinta yang tak sampai. Seperti kisah berikut ini, ialah Salman Al Farisi, sahabat Rasulullah SAW yang pilu sejarah cintanya meretak jiwa, namun dari keikhlasan hatinya kita bisa memetik wacana.

Salman Al Farisi Radhiyallahu ‘anhu adalah seorang pemuda dari Persia. Dia adalah mantan budak di Isfahan, sebuah daerah di Persia. Beliau adalah salah satu sahabat Rasul yang istimewa karena kecerdikannya di masa perang Khandaq. Pada masa itu, beliau mengusulkan untuk menggali parit-parit dalam menghadapi pasukan musuh. Dalam sekejap, sebelum sempat menyerang, sebanyak dua puluh empat ribu pasukan musuh akhirnya kalah terperosok ke dalam parit-parit yang diusulkan Salman. Ditambah lagi bantuan angin topan yang ditiupkan oleh Allah SWT, hingga akhirnya pasukan kaum muslimin berhasil memenangkan perang tersebut.

Sejarah menuturkan, Salman Al Farisi jatuh cinta pada seorang wanita Anshar ketika hijrah ke Madinah. Ia terpukau oleh kecantikan dan tindak tutur wanita tersebut yang begitu anggun dan shalihah. Maka dengan maksud ingin menyempurnakan separuh agamanya, Salman Al Farisi bermaksud ingin mengkhitbah sang gadis pujaan. Sebelum itu, ia benar-benar tidak tahu bagaimana adat kaum Anshar dalam mengkhitbah wanita, kemudian dalam kegamangannya ia meminta bantuan pada sahabatnya untuk menemani melamar gadis tersebut.

Namanya Abu Darda’. Ia merupakan seorang pribumi dari Madinah yang telah mengetahui bagaimana sikap tradisi mengkhitbah orang-orang di daerahnya. Ketika mendengar maksud tujuan Salman yang ingin menyempurnakan separuh agama, dengan senang hati Abu Darda’ berusaha membantu sepenuhnya. Ia begitu mendukung atas nama ukhuwah islamiyah yang dijalinnya begitu erat dengan Salman.

“Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR Muslim)

Setelah semua yang dibutuhkan untuk mengkhitbah dipersiapkan, datanglah Salman Al Farisi dan Abu darda’ ke rumah si gadis shalihah. Di sana, keduanya pun diterima dengan baik oleh tuan rumah, dalam hal ini adalah orang tua wanita Anshar tersebut.

“Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman Al Farisi dari Persia yang telah berhijrah ke Madinah karena Allah dan Rasul-Nya. Allah telah memuliakan Salman Al Farisi dengan Islam. Salman Al Farisi juga telah memuliakan Islam dengan jihad dan amalannya. Ia memiliki hubungan dekat dengan Rasulullah SAW. Bahkan Rasulullah SAW menganggapnya sebagai ahlul bait (keluarga) nya. Saya datang mewakili saudara saya, Salman Al Farisi, untuk melamar putri anda.” Ujar Abu Darda’ menjelaskan maksud kedatangan mereka.

Mendengarnya, si tuan rumah merasa terhormat. Tentu saja, ia kedatangan dua orang sahabat Rasulullah SAW yang utama. Salah satunya bahkan berkeinginan melamar putrinya.

“Sebuah kehormatan bagi kami menerima sahabat Rasulullah SAW yang mulia. Sebuah kehormatan pula bagi keluarga kami jika memiliki menantu dari kalangan sahabat”, sambut ayah si wanita.

Namun sang ayah tidaklah kemudian segera menerimanya. Seperti yang diajarkan Rasulullah SAW, ia harus bertanya pendapat putrinya mengenai lamaran tersebut. Meski yang datang adalah seorang sahabat Rasulullah SAW, sang ayah tetap meminta persetujuan sang putri.

“Jawaban lamaran ini merupakan hak putri kami sepenuhnya. Oleh karena itu, saya serahkan kepada putri kami”.

***

Sang ayah pun kemudian memberikan isyarat kepada istri dan putrinya yang berada dibalik hijab. Rupanya, putrinya telah mendengar percakapan ayahya dengan Abu Darda’. Wanita muslimah tersebut ternyata juga telah memberikan pendapatnya mengenai pria yang melamarnya, Salman Al Farisi.

Berdebar jantung Salman Al Farisi menunggu jawaban dari balik hijab. Gelisah Abu Darda’ menatap wajah ayah si gadis. Maka segalanya menjadi jelas dan terang ketika terdengar suara lemah lembut keibuan, ternyata sang bunda yang mewakili putrinya untuk menjawab pinangan Salman Al Farisi mewakili sang putri.

Ibundanya pun berkata, “Mohon maaf kami perlu berterus terang, putri kami menolak lamaran Salman.” ujarnya membuat Salman Al Farisi dan Abu Darda’ semakin tegang.

Sang ibunda melanjutkan jawaban putrinya, “Namun karena kalian berdualah yang datang dan mengharap ridha Allah, saya ingin menyampaikan bahwa putri kami akan menjawab iya jika Abu Darda’ memiliki keinginan yang sama seperti Salman.” kata ibu si wanita shalihah.

Mendengar kalimat ibunda gadis tersebut, Salman tentu saja sangat tak menyangka kisahnya bisa menjadi seperti itu. Betapa gadis yang begitu ingin ia cintai malah meminta Abu Darda’ -seorang yang ia minta untuk menemani melamar si gadis- untuk menemaninya melengkapi separuh agama, sepanjang hayat.

Dalam kegamangan, Salman yang memang seorang pemuda shalih dan taat pada Allah tetap bersikap tenang dalam duduknya. Ia meyakini Allah pasti akan memberinya seorang bidadari lain yang telah ditentukan dengan istimewa oleh-Nya. Bahkan dengan ikhlas ia menyerahkan seluruh mahar dan antaran yang sebelumnya ingin ia berikan untuk melamar si gadis kepada Abu Darda’, agar sahabatnya tersebut bisa berbahagia.

Dari kisah Salman Al Farisi ini, kita dapat memetik makna bahwa cinta tak selamanya harus memiliki. Salman lebih memilih memberikan kebahagiaan wanita itu bersama sahabatnya; Abu darda’, daripada memaksakan cinta yang nantinya hanya akan menjadi prahara dalam rumah tangga. Masya Allah, betapa tulus cara Salman Al Farisi dalam mencintai gadis itu karena Allah.

Begitulah, sahabat. Kadangkala dalam hidup ini kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Tidak selalu beruntung pada cinta yang kita tanamkan. Namun jangan lantas karena itu kita menjadi seorang yang putus asa dan hilang kendali. Terkadang sampai ada yang bunuh diri karena sakit hati. Astaghfirullah. Yakinlah sahabat, Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui.

Allah menjawab doa kita melalui tiga cara. Pertama, Allah katakan Ya dan diberinya sekarang. Kedua, Allah katakan tunggu, Aku ingin lihat lebih lagi usahamu. Ketiga, Allah katakan tidak, Aku akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Siapa yang tahu, setelahnya Allah akan mengganti rasa kecewa Salman dengan bidadari yang lebih menawan hati.

Akhirnya, semoga kisah ini bisa menjadi paradigma baik dari cara mencinta karena Allah SWT, aamiin.