Belajar Dari Sebatang Padi

1
1096
sebatang padi

Oleh: Ahmad Yusuf Abdurrohman

***

“Belajarlah, kapan pun di mana pun serta dari apa pun yang kau temui dalam hidup ini.” 

Entah kapan saya menemukan kata-kata indah ini. Sudah sejak lama, kalimat ini yang menjadikan diri semangat untuk belajar dari apapun yang ditemui dalam hidup ini.

Sejalan dengan prinsip seorang muslim, yang dinukil dari sabda Rasulullah bahwa belajar itu dimulai dari saat kita masih dalam buaian seorang ibu. Sampai kita beristirahat di liang lahat.

Saat ini, marilah kita belajar dari apa yang Allah ciptakan di sekitar kita. Karena, dalam ciptaan Allah terdapat banyak tanda-tanda kekuasaan-Nya yang bisa menambah keimanan kita.

Marilah kita berjalan, menyusuri pematang sawah di senja hari. Lihatlah cahaya mentari yang melambai ucapkan salam perpisahan pada kita sebelum ia pergi untuk kembali esok hari. Angin yang sejuk membelai wajah dengan aroma khasnya. Tak lupa, batang padi yang berwarna hijau kekuningan seakan melambaikan jemarinya yang berisi bulir-bulir padi berwarna kuning keemasan.

Cobalah kita renungkan, bukankah ciptaan-Nya begitu indah?

Lihatlah lebih dalam lagi, bahwa ada yang bisa kita pelajari dari sebatang padi. Tahukah dirimu apa pelajaran itu, Sahabat?

Ya, seringkali kita dengar sebuah peribahasa, “Seperti ilmu padi, kian berisi kian merunduk.”
Semakin banyak yang kita miliki, hendaknya semakin rendah hatilah diri ini.

Sudah menjadi tabiat manusia, untuk berbangga atas apa yang dimiliki. Itulah mengapa, terkadang akan merasa sulit untuk menerapkan ilmu padi ini. Padahal, Islam juga sudah memerintahkan hal ini; agar tak berbangga diri atas apa yang dimiliki.
Karena hakikatnya, apa yang kita miliki di dunia ini adalah milik-Nya dan akan kembali lagi kepada-Nya.

Lalu, jika semua sudah diminta kembali lagi oleh pemiliknya. Apa yang bisa dibanggakan dari diri ini?

Marilah kita meneladani generasi terdahulu. Generasi terbaik umat ini. Apakah mereka berbangga dengan apa yang Allah berikan?

Tidak … tidaklah ada dari generaai sahabat yang berbangga dengan apa yang mereka miliki. Mereka mengakui bahwa semuanya adalah milik-Nya.

Dan dalam Islam, tak ada kedudukan tertinggi di sisi Allah kecuali karena takwa yang bersemayam dalam jiwa.

Marilah kita simak perkataan Abu Ubaidah bin Jarah yang termaktub dalam kitab “Al Ishoobah fii tamyiizi shahabah” karya Ibnu Hajar Al Asqalani.
“Wahai sekalian manusia, saya adalah salah seorang keturunan Quraisy. Siapa saja dari kalian baik yang berkulit merah atau hitam, jika takwanya lebih dariku, maka ia lebih utama dariku.”

Marilah kita belajar menundukkan diri, mengakui bahwa kita bukanlah sesiapa. Hanya seorang hamba yang segala sesuatunya hanya bisa bergantung dari pemberian Allah; Yang Maha Pemberi.

***

Jakarta, 03 Februari 2016