Beginilah Cara Tegas Dalam Mendidik Anak

2
502
mendidik anak

Oleh : Riska Kencana Putri

Anak merupakan anugerah sekaligus amanah yang wajib kita jaga. Kehadirannya memberikan kebahagian kepada kedua orang tua, menjadi penyejuk pandangan dan juga investasi akhirat kelak. Karena doa anak shalih adalah salah satu amalan yang tidak terputus meski kita sudah meninggal.

Namun, anak juga bisa menjadi ujian dan cobaan. Apakah dengan diberikannya anak, kita menjadi hamba yang bersyukur ataukah sebaliknya? Apakah kita bisa mendidik anak kita menuju ketaatan atau malah membiarkan mereka menuju kemaksiatan? Ini semua nanti akan diminta pertanggungjawabannya di hari akhir.

Anak merupakan amanah dari Allah, maka kita sebagai orang tua harus pandai-pandai dalam mendidiknya, agar kelak anak bisa menjadi manusia yang bertaqwa kepada Allah, mencintai Rasulullah SAW dan menjadi penegak kalimatullah. Dalam dunia parenting, banyak dipaparkan berbagai macam teori pendidikan anak. Mulai dari pendidikan usia golden age, hingga menginjak usia remaja. Islam sendiri sebagai agama yang sempurna memiliki metode dalam mendidik anak.

Allah, melalui Rasul-Nya memerintahkan kita – para orang tua — untuk bersikap tegas dalam mendidik anak, terutama dalam hal ibadah. Menurut Ali bin Abi Thalib ra, pendidikan anak di bagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap bermain (usia 0-7 tahun), tahap disiplin (7-14 tahun) dan tahap kemitraan (14-21 tahun).

Rasullullah SAW bersabda, “Perintahkanlah anak kalian shalat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka agar shalat ketika berusia sepuluh tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR Abu Dawud).

Diriwayatkan dari Umar, dari Abu salamah, ia berkata, “Ketika masih kecil aku pernah ditegur Rasulullah SAW. Waktu itu aku hendak mengambil hidangan, kemudian Rasulullah SAW bersabda kepadaku, “Hai, Nak! Bacalah basmallah, ambillah dengan tangan kananmu dan makanlah apa yang ada di dekatmu.”

Ketegasan orang tua tentu berbeda antara anak yang satu dengan yang lainnya. Ibarat memberikan obat, pasien yang satu akan sembuh dengan dosis 5 mg, tetapi bagi pasien yang lain dosisnya harus ditambah. Pun begitu dengan anak, ada yang menurut hanya dengan tatapan tajam, ada pula yang harus dipukul. Namun para orang tua harus ingat, memukul yang dimaksudkan hadits di atas adalah pukulan yang tidak membahayakan, tidak membekas dan bukan di bagian wajah. Tidak seperti sekarang ini, banyak kasus penganiayaan orang tua terhadap anaknya.

Allah juga memerintahkan kepada kita untuk bersikap lemah lembut. Dalam Q.S. Ali ‘Imran ayat 159, Allaf berfirman, “Maka karena rahmat Allah-lah engkau bersikap lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap kaku dan keras hati, tentu mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.”

Rasulullah SAW bersabda, “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha lembut dan menyukai kelembutan… “ (HR Muslim).

Bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang merupakan akhlak yang telah dicontohkan Rasulullah SAW. Namun bersikap tegas kepada anak di saat mereka melakukan kemaksiatan juga merupakan perkara yang wajib dilakukan para orang tua. Karena anak adalah amanah, setiap amanah akan diminta pertanggung jawabannya di akhirat.

“Ketahuilah setiap kalian adalah penangung jawab dan akan ditanyai tentang tanggung jawabnya. Seorang pemimpin yang memimpin manusia adalah penanggung jawab dan kelak akan ditanyai tentang mereka. Seorang laki-laki adalah penanggung jawab keluarganya dan kelak ia akan ditanyai tentang mereka. Seorang istri adalah penanggung jawab rumah tangga dan anak-anaknya, dan kelak akan ditanya. Seorang hamba sahaya adalah penanggung jawab harta tuannya dan kelak ia akan ditanya tentangnya. Ketahuilah, setiap kalian adalah penanggung jawab, dan kelak akan ditanyai tanggung jawabnya.” (HR Bukhari dan Muslim).