Bahagia Bersama Cinta, Bukan Harta!

0
371
Oleh : Pipit Era Martina
Kebanyakan dari kita salah dalam mengartikan kata ‘bahagia’. Selama ini kebanyakan manusia menyangka bahwa bahagia itu bila memiliki harta yang berlimpah, rumah mewah, kedudukan tinggi, mobil wah serta terkenal di mata banyak orang.
Ketahuilah! Jika memang harta itu memberikan sebuah mahkota kebahagian, sungguh Qarun adalah manusia yang paling bergelimang bahagia dengan kekayaan yang ia miliki.
Pun, sama halnya dengan kedudukan yang paling tinggi, andaikata kedudukan itu mampu menyirami kita dengan bahagia, maka Fir’aun adalah manusia yang paling berbahagia.
Namun apa yang terjadi?
Justru hingga sampai pada zaman kita ini mereka menjadi dua tokoh yang terkenal karena keangkuhan dan kedurhakannya pada Allah. Kita mengenal mereka dari semua keburukan, sama sekali tak terlintas kebaikan sedikit pun. Meski mungkin di zaman beliau, kaumnya merasa beruntung dan bahagia atas kehadiran mereka.
Maka sahabat sekalian … ketahuilah!
Bahwa kebahagiaan hakiki itu bukan berasal dari pernak pernik dunia. Bukan dari apa yang kita hasilkan dan banggakan, melainkan dari apa yang kita kerjakan. Dari semua yang kita persembahkan kepada Sang Pemberi nikmat. Hanyalah ahlul iman yang mengetahui hakikat kebahagiaan mereka di permukaan bumi ini, yaitu untuk beribadah kepada Allah Azza wa Jalla.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah R.A : “Barangsiapa yang menginginkan kebahagiaan abadi, maka hendaklah ia terus menerus berada di pintu ibadah.” [Madarijus salikin (1/740)]
Inilah yang disebut kebahagiaan yang hakiki. Bahagia yang sebenar-benarnya bahagia. Seseorang akan merasakan arti bahagia apabila jiwa raganya, lahir bathinnya berada di atas ketaatan kepada Allah SWT, komitmen di atas ibadah kepada-Nya dan berada dalam pelukan cinta-Nya.
Sedangkan mereka yang bahagia bersama kekuasaan di dunia tanpa mengikut sertakan ibadah di dalamnya atau tanpa ada cinta kepada Allah di dalam hatinya, maka rugilah mereka. Sekali pun mereka adalah manusia terkaya di bumi, bahkan memiliki kedudukan yang tinggi. Bahagia yang mereka rasakan semu dan kelak akan berakhir dengan kesempitan dan kesengsaraan.
Allah SWT berfirman: “Barangsiapa yang berpaling dari peringatanku maka sungguh baginya kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta, hingga ia berkata; wahai Rabbku, kenapa engkau bangkitkan aku dalam keadaan buta padahal aku dulunya melihat, maka Allah menjawab; demikianlah karena dulu (di dunia) Kami datangkan ayat-ayat Kami namun engkau melupakannya maka demikian pula hari ini Kami melupakan kalian.” (QS. Toha: 124-126)
Sahabat …
Berusahalah untuk tidak melupakan dari mana kita diciptakan, siapa yang memberi kehidupan, siapa pemilik asli diri ini, siapa pencipta dunia beserta isinya. Karena ada masa dimana kita benar-benar membutuhkan pertolongan dan uluran tangan Allah SWT. Jika selama di dunia kita enggan mengulurkan tangan untuk kebaikan, enggan melangkahkan kaki untuk penuhi perintah-Nya, melanggar segala apa yang Allah larang, menolak apa yang Allah inginkan untuk kita lakukan. Maka, kelak janganlah heran jika Allah pun enggan mengulurkan pertolongan, meski kita meminta dengan airmata dan darah yang bercucuran. Bukan karena Allah tidak memiliki kasih sayang pada umat-Nya, melainkan perbuatan kitalah yang membuat Allah tidak mempedulikan kita.
Seorang guru yang senantiasa mengajarkan kesopanan, pastilah mengharapkan perlakuan yang sama dari seorang muridnya. Seorang ibu yang bertaruh nyawa melahirkan kita, mendidik dan mengurus kita hingga dewasa, pastilah berharap jika kita bisa memberikan seulas senyum bahagia di bibirnya. Lalu apa yang akan terjadi jika seorang murid dan anak durhaka dan keluar dari apa yang kita berikan? Meski rasa kasihan itu ada, namun tetaplah ada masanya dimana seorang guru dan seorang ibu lelah dalam menyikapinya hingga akhirnya mereka menyerah.
Begitu pula dengan Allah, Allah SWT  yang jelas-jelas telah memberi kita banyak pintu untuk dilalui, banyaknya bahagia yang ditawarkan. Namun apa? Manusia memilih jalan sesuai dengan nafsunya, mengikuti bisikan setan yang ia percaya. Mengkhianati cinta Illahi, membalasnya dengan hati penuh kedurhakaan. Maka jangan salahkan Allah jika kedurhakaan itu berbalas siksaan di kemudian hari.
Wahai sahabat, janganlah kita tertipu dengan kebahagiaan yang tidak membahagiakan. Kebahagiaan yang menjerumuskan ke lorong siksaan. Ingatlah! Bahagia di dunia bersama harta dan tahta itu hanya sementara, cinta Allah-lah satu-satunya bahagia yang kekal abadi hingga ke pintu surga.
Raihlah kebahagiaan yang hakiki bersama cinta Illahi berlandaskan keimanan dan ketaqwaan, bukan dengan kemaksiatan yang justru menyesatkan.
Rasakanlah kelezatan bahagia karena cinta-Nya, maka kita akan benar-benar merasakan ketenangan dan ketentraman jiwa. Bahagia sebenar-benarnya bahagia ialah bahagia dari dalam dan luar hati. Bahagia yang hakiki, bahagia bersama cinta Illahi, di bawah naungan Illahi dan dalam pandangan Illahi.
Yuk sahabat sekalian, teruslah semangka (semangat karena Allah) dalam meraih cinta-Nya, jangan pernah lelah dalam berusaha untuk memperbaiki diri, meningkatkan iman dan taqwa dalam diri.

Keep fighting & Keep Istiqamah

Lampung, Selasa 16 Februari 2016