Awas, Propaganda LGBT

0
396
propaganda lgbt

Oleh : Riska Kencana Putri

Beberapa waktu lalu, media sosial kembali heboh dengan ditemukannya akun twitter yang merupakan komunitas homo. Lebih mengejutkan lagi, seperti yang diungkap oleh metropolitan.id, follower akun ini sudah mencapai lebih dari 3.000 followers. Kebanyakan dari mereka adalah pelajar, terutama anak-anak SMP.

Mengagetkan, bukan?! Tapi ini bukan hal yang baru. Kaum penyuka sesama jenis ini sebenarnya sudah lama ada di sekitar kita. Tapi mereka cenderung malu untuk mendeklarasikan diri mereka sebagai kaum homo. Baru setelah di sahkannya undang-undang perkawinan sejenis di beberapa negara, mereka mulai menampakkan dirinya.

Kaum LGBT yang merupakan kepanjangan dari Lesbia, Gay, Bisex dan Transgender terlihat semakin giat mensejajarkan diri mereka di hadapan public. Dengan dalih HAM mereka memaksa untuk “diakui” eksistensinya. Di Bali, tahun lalu, ada pernikahan antara lelaki dengan lelaki yang digelar, dihadiri oleh keluarga dari kedua belah pihak.

Mungkin masyarakat belum begitu ambil pusing dengan masalah ini, dengan berita yang tidak begitu terekspos oleh media elektronik menjadikan masyarakat acuh. Padahal, kaum LGBT ini sedang giat-giatnya menyasar masyarakat. Kemarin saja, seminar tentang LGBT sudah berhasil memasuki kampus di Lampung. Belum lagi muncul ikatan solidaritas mahasiswa UI untuk kaum LGBT.

LGBT Bukan Sifat Bawaan

Para pelaku LGBT selalu menggunakan “sifat bawaan” sebagai argumentasi mereka. Mereka menyatakan bahwa penyimpangan mereka bersifat genetis, ada sejak lahir. Pendapat inilah yang kemudian disebarluaskan oleh media sehingga menjadi opini umum hingga menghasilkan pembenaran atas prilaku mereka.

Begitu pula dengan penyakit yang mereka bawa, yaitu HIV/AIDS. Awalnya penyakit ini dikenal dengan nama Gay-Related Immune Deficiency (GRID), yaitu penyakit yang ditularkan oleh pelaku gay. Namun, di tahun 1970-an, homoseks bukan lagi menjadi masalah kejiwaan. (www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2014/08/21/27679/gay-politik-jauh-lebih-berbahaya.html)

Dalam Islam sendiri, Allah menciptakan dua jenis manusia saja, laki-laki dan perempuan. Tidak ada istilah banci ataupun bencong. Bahkan Allah melaknat siapa saja yang menyukai sejenisnya, seperti kaum Sodom, di jaman Nabi Luth as, yang telah Allah azab dengan hujan batu.

Dalam Islam jelas sekali keharamannya. Tidak Allah ciptakan naluri yang ada pada diri manusia melainkan untuk melestarikan keturunan dengan cara pernikahan. Mana mungkin di dapat keturunan jika pernikahan dilakukan sejenis? Mengadopsi? Meminjam rahim? Ini jelas menyalahi kodrat sebagai manusia.

Bahkan, hukuman yang Allah tetapkan melalui lisan Rasul-Nya untuk kaum ini adalah hukuman mati. Sebagaimana sabda beliau saw :
“Siapa saja yang kalian jumpai melakukan perbuatan nabi Luth as, maka bunuhlah pelaku dan pasangannya.” (HR Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah)

Waspadai LGBT

Kita perlu waspada karena ternyata LGBT ini bisa dengan cepat “menular”, apalagi dengan adanya media elektronik yang begitu canggih menjadikan akses penyebaran opini eksistensi mereka semakin besar.

Di sini bukan hanya orang tua saja yang wajib khawatir terhadap anak-anaknya, tapi pemerintah juga harus bertindak tegas. Jangan sampai Indonesia dengan mayoritas muslim terbanyak mendapatkan azab Allah karena melegalkan hubungan sejenis, sebagaimana Amerika. Bukankah jika kita diam, masyarakat diam, negara diam akan semakin mempercepat azab Allah? Bukankah azab-Nya tidak hanya berlaku untuk pelaku saja, tapi juga termasuk orang beriman yang ada di sekitarnya?