Arti Kesungguhan

0
191
kesungguhan

Oleh : Alya Adzkya

Pengumuman super penting telah ditempel pagi tadi. Anak-anak kelas akhir berebutan melihat nilai di etalase. Tak terkecuali, Syifa. Dengan kepercayaan diri tingkat tinggi, ia melihat pengumuman hasil ujian.

“Yaaah, masa cuma dapat nilai tujuh?” ujar Syifa kecewa. Ia merasa usaha yang ia lakukan telah maksimal. Namun, mengapa hasil tak sesuai apa yang ia inginkan?

Kita pasti pernah mengalami kejadian seperti di atas. Merasa sudah meakukan usaha maksimal, tapi kenapa justru hasil yang kita peroleh tak memuaskan? Jika itu yang terjadi pada diri kita, ada baiknya kita mengintrospeksi diri. Sudahkah kita bersungguh-sungguh? Atau jangan-jangan kita hanya sombong, merasa apa yang kita lakukan sudah maksimal dan patut mendapatkan hasil yang memuaskan.

Imam Syafi’i pernah berkata :

العِلْمٌ لاَ يُعْطِيْكَ بَعْضَهُ حَتَّى يُعْطِيَهُ كُلَّكَ

“Ilmu takkan memberikanmu sebagiannya, sampai engkau memberikan seluruh totalitas jiwa dan ragamu untuknya.”

Dengan bersungguh-sungguh saja, kita baru akan mendapat sebagian dari ilmu. Apalagi jika kita tak bersungguh-sungguh? Lalu bagaimana jika kita sudah berusaha maksimal, dan ternyata hasil tak jua memuaskan? Mungkin, kita lupa melibatkan Allah dalam urusan kita. Sebagai manusia kita hanya bisa berusaha dan berdoa. Semua keputusan akhir atas apa yang kita usahakan ada di tangan Allah, bukan? Lantas, mengapa tak kita libatkan Sang Maha Pembuat Keputusan dalam urusan-urusan kita?

Usaha itu penting. Namun, jika kita hanya berusaha tanpa berdoa, itu sombong namanya. Doa juga penting, tetapi jika kita hanya berdoa tanpa usaha, itu hanya omong kosong belaka. Luruskan niat, maksimalkan ikhtiar, maka Allah akan menyelesaikan semua urusan kita. Bagi Allah, tak ada yang tak mungkin, bukan? Semua berada dalam kekuasaannya.

Allah berfirman dalam Q.S An-Najm ayat 39-40. “Dan sesungguhnya manusia tidak akan mendapatkan kecuali apa yang telah ia usahakan. Dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan ia lihat (hasilnya)”