Anak Jauh dari Allah, Apa yang Salah??

0
206
tv

Oleh : Sabarina Br Perangin-angin

Pernahkan kita memperhatikan acara-acara TV yang biasa dikonsumsi anak-anak? Apa yang disuguhkan pada mereka? Hampir semua acara TV berisi kisah percintaan. Mulai dari kisah anak “SMP” yang sudah mengenal cinta, cinta segitiga, kisah anak SMA yang suka buat geng motor, atau kisah anak kuliah yang identik dengan hura-hura. Kira-kira, apa yang terjadi bila anak usia belajar terus-menerus dicekoki film tersebut? Mendidik atau justru merusak?

Kita tentu tahu bahwa anak-anak merupakan usia emas dalam belajar. Mereka dengan mudah mampu menyerap apa yang mereka dengar maupun lihat. Itu sebabnya, tak heran bila ada anak usia 6 tahun sudah menjadi hafidz atau hafidzah. Mereka mampu menghafal ayat Al Qur’an yang begitu banyak. Demikian juga sebaliknya, ketika mereka menonton kisah percintaan, mereka pun akan mulai mengikuti. Tak heran bila di zaman sekarang, anak SMP sudah pacaran, anak SMA sudah berani jalan sampai malam, anak kuliah sudah kehilangan mahkotanya. Na’udzubillah.

Begitulah bila hidup di tengah-tengah masyarakat yang tak memakai hukum Islam. Lah?? Kok ujung-ujungnya aturan Islam? Ya iyalah, sebab hanya Islam yang mampu mengatur kehidupan tanpa menghilangkan fitrah kita sebagai manusia.

Lihatlah bagaimana kondisi anak-anak bila jauh dari aturan Islam. Pacaran misalnya, sudah menjadi hal yang bisa. Anak seusia SMP yang seharusnya masih fokus belajar, eeh sudah punya mantan sekian. Mereka justru bangga ketika ditanya sudah brapa mantannya? Baru 3. Pemandangan mojok alias pacaran sepulang sekolah menjadi hal yang biasa. Bahkan mereka dengan ‘pede’ menunjukkan itu. Astaghfirullah. Urat malu mereka seolah telah hilang. Padahal kata Rasulullah SAW, rasa malu merupakan salah satu tanda keimanan.

Itu fenomena anak SMP jaman sekarang. Lalu bagaimana anak SMA-nya? Ya lebih parah. Hamil di luar nikah bagi anak SMA sudah sering terjadi. Ujung-ujungnya? Ya aborsi. Sungguh semua fenomena ini menyimpulkan betapa jauhnya anak dengan Allah. Atau justru ada sebagian anak yang tak lagi mengenal Tuhannya.

Itu baru fenomena dari segi pergaulan. Bagaimana dengan pendidikan? Sudah sesuaikah?

Kita tentu sepakat bahwa pendidikan dikatakan berhasil jika menghasilkan generasi-generasi yang berakhlak, yang mementingkan kejujuran dan bertanggung jawab. Dan yang tak kalah penting, pendidikan harus mampu membuat generasi semakin mengenal Tuhannya. Sedangkan hari ini? Pendidikan justru memproduksikan hal yang berbanding terbalik. Yang kurang akhlaknya. Pernah lihat kan bagaimana adab murid bertemu dengan gurunya? Harusnya memberi salam, jangankan mengucapkan salam, ditegur pun mungkin tidak. Apalagi jika bertemunya di luar lingkungan sekolah. Padahal, guru harus dihormati, tak peduli di sekolah atau di luar sekolah tetap harus dihormati.

Jujurkah generasi sekarang? Tidak!! Justru sangat jauh dari kejujuran. Mengcontek pada saat ujian, membeli kunci saat UN. Itu menjadi rahasia yang sudah diketahui umum. Lalu apakah pendidikan ini dikatakan berhasil?? Tidak!!!

Mengapa semua itu bisa terjadi?

Mari kita teliti lebih dekat. Fenomena pacaran bisa terjadi hanya karena jika mereka diizinkan. Contohnya ya kayak di zaman sekarang. Pacaran itu boleh. Kalau nggak pacaran malah dibilang nggak normal. Tak ada aturan yang tegas bagi yang pacaran. Kalau pacaran dibebaskan, apa yang terjadi? Ya kebablasan. Misalnya hamil di luar nikah. Lalu? Setelah hamil di luar nikah ternyata tak ada hukum yang tegas juga. Perzinaan yang dilakukan atas dasar suka dengan suka itu dianggap boleh. Kalau pun diperkosa, ya tetap saja tak ada hukuman yang tegas. Eh, si wanita yang justru disalahkan karena tak pandai menjaga diri.

Sekarang coba bayangkan ketika kita memakai hukum Islam. Pacaran dilarang. Bagi yang melanggar akan dihukum dengan hukuman yang tegas, misalnya dicambuk 100 kali. Itu misalnya ya! Kira-kira bakal ada lagi anak muda yang berani pacaran??? Ya jelas nggak ada, semua pada takut.

Atau misalnya ketika kita memakai tolak ukur Islam, otomatis acara-acara yang ditayangkan di TV akan disaring dengan penyaringan terbaik. Film yang lulus hanya film-film yang mengajarkan kebaikan, pentingnya akhlak, dan dibalut dengan pakaian yang syar’i juga. Jadi saat ditonton dijamin nggak ada pemikiran-pemikiran jahat plus mesum yang timbul tanpa diundang.

Segi pendidikan, jika memakai dasar Islam, pastilah kurikulumnya dipilah-pilah. Disesuaikan dengan kemampuan anak. Disesuaikan dengan minat bakat anak. Jadi nggak semua pelajaran harus dipelajari. Kan kasihan si anak. Dan yang terpenting, pendidikan dalam Islam bertujuan untuk menghasilkan generasi yang dekat dengan Tuhan. Itu yang penting.

Langsung terlihat kan perbedaannya. Semua pasti bisa tewujud. Insya allah. Caranya? Ya pahami Islam lebih dalam, sampaikan kepada yang belum tau. Selesai.

Terakhir, bila anak bandel, jangan salahkan dia saja. Karena itu bukan mutlak kesalahan anak. Semua punya andil. Termasuk orang tua. Bila TV tak mampu menyiarkan tayangan yang bermutu, orang tualah yang bertanggung jawab dalam menyaring apa saja yang boleh ditonton. Selain orang tua siapa lagi yang berperan membentuk kepribadian anak? Guru. Untuk para guru, yuk tanamkan nilai-nilai akhlak pada murid! Jangan lupa dicontohkan juga, sebab murid cenderung mengikuti apa yang dilakukan gurunya. Kalau guru merokok ya murid juga merokok. Supaya nggak merokok gimana? Ya gurunya jangan merokok di depan siswa.

Oke, itu saja dulu. Semoga bermanfaat buat saya dan buat yang membaca. Sekian. Wassalam.