Amalan yang Pahalanya Setara Haji dan Umrah

0
729
pahala haji

Oleh : Indri Novia Miranti

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah…”(QS. Al-Baqarah: 196)

Setiap muslim tentunya merindukan baitullah untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Sayang, tidak semua orang bisa mewujudkan harapannya tersebut. Selain karena biaya yang harus dikeluarkan terbilang ‘mahal’, untuk saat ini yang menjadi hambatannya adalah karena terganjal kuota.

Namun Allah SWT Maha Adil. Dia menyediakan jalan alternatif untuk meraup pahala haji dan umrah tanpa harus menunggu kuota, serta tidak perlu memakai ONH. Semuanya bisa didapat dari amalan mudah dan murah yang bisa dilakukan oleh siapapun, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW di dalam hadits-haditsnya.

1. Melaksanakan shalat fardhu berjamaah di masjid dalam kondisi sudah bersuci.

Mengerjakan shalat lima waktu berjama’ah di mesjid menjadi tantangan tersendiri. Apalagi bagi mereka yang di siang harinya disibukkan oleh aktivitas rutin. Nabi Muhammad SAW menyiratkan dalam haditsnya tentang keutamaan serta ganjaran yang didapat jika kita melakoninya.

Dari Abu Umamah, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk menunaikan shalat fardhu, pahalanya seperti pahala haji orang yang berihram.” (Shahih: Shahih Abu Dawud, no. 558)

Dari Abu Umamah, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berjalan menuju berjamaah shalat wajib, maka dia seperti berhaji. Dan barangsiapa berjalan menuju shalat tathawwu’ (sunnah) maka dia seperti berumrah yang nafilah (istilah lain sunnah).”(Hasan: Shahih Al-Jami’, no. 6556).

2. Shalat shubuh berjama’ah di masjid, kemudian duduk berdzikir sampai terbit matahari lalu shalat dua raka’at.

Ini yang lebih berat lagi. Mungkin untuk shalat shubuh berjamaah bisa, tetapi saat harus tetap berdiam diri di masjid dan duduk berdzikir, ini yang cukup sulit. Ba’da Shubuh adalah waktu yang sangat rawan ngantuk. Banyak orang yang memilih untuk melanjutkan tidurnya dengan dalih agar bisa fit menjalankan aktivitas di siang harinya, padahal secara medis kurang baik.

Para ulama terdahulu telah membiasakan mengerjakan amalan ini. Sebagaimana Ibnu Qayyim menuturkan pengalamannya dengan Ibnu Taimiyah, gurunya. Ia menuturkan, “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah suatu hari shalat Shubuh. Setelah shalat, beliau duduk berdzikir kepada Allah hingga pertengahan siang. Kemudian berpaling kepadaku dan berkata, ”Ini adalah kebiasaanku pada waktu pagi. Jika aku tidak melakukannya, tubuhku tak bertenaga.” (Al Wabilush Shayib, hal. 63)

Selain itu, hal ini juga merupakan uswah nabi SAW. Diriwayatkan Dimak bin Harb pernah bertanya kepada Jabir bin Samurah, “Apakah engkau pernah menemani Rasulullah?” Jabir menjawab, “Ya, beliau biasa tidak beranjak dari tempat beliau shalat Shubuh. Apabila matahari terbit beliaupun bergegas meninggalkan tempat shalat. Dulu para sahabat memperbincangkan masa jahiliyah yang membuat mereka tertawa, sedangkan Rasulullah hanya tersenyum.” (HR. Muslim, no. 670)

Semoga kita masih tetap bisa berusaha menunaikannya. Apalagi setelah mengetahui rewardnya, sebagaimana yang tertuang di dalam hadits dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa shalat Shubuh berjamaah kemudian duduk berdzikir mengingat Allah hingga matahari terbit, setelah itu shalat dua rakaat, amalan itu baginya sama seperti pahala haji dan umrah.” Anas berkata: Rasulullah SAW melanjutkan, “Sempurna, sempurna, sempurna!” (Hasan: Shahih At- Tirmidzi no. 480, 586; Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 464; Ash-Shahihah,no. 3403) (dishahihkan oleh Al-Albani)

Ibnu Abbas dan para ulama menyebut dua rakaat pada hadits di atas dengan istilah shalat isyraq. Dinamakan Isyraq (terbit) karena dikerjakan beberapa saat setelah terbitnya matahari yakni sekitar 15-20 menit sesudahnya. Kata Isyraq bisa kita jumpai di dalam QS. Shad ayat 18 yang berarti pagi. Namun hakikatnya, shalat isyraq adalah shalat Dhuha yang dikerjakan di awal waktu. Sedangkan yang dikerjakan di akhir waktu menjelang tergelincirnya matahari dinamakan shalat awwabin, sebagaimana perkataan ulama.

Syaikh Utsaimin pernah ditanya tentang shalat isyraq dan shalat Dhuha. Beliau menjelaskan: “Shalat sunnah isyraq adalah shalat dhuha, akan tetapi jika ditunaikan segera sejak matahari terbit dan meninggi seukuran tombak, maka ia disebut shalat isyraq. Jika dilakukan pada akhir/pertengahan waktu maka dinamakan shalat dhuha. Karena para ulama berkata, `waktu Dhuha adalah sejak meninggi matahari seukuran tombak hingga sebelum matahari tergelincir (Dhuhur)`.” (Liqa Al-Bab Al-Maftuh, 141/24)

“Shalat awwabin adalah apabila anak unta kepanasan di waktu dhuha.” (HR. Muslim)

Shalat awwabin dilaksanakan beberapa menit sebelum waktu shalat dhuha selesai dan ini waktu dhuha yang utama (Shahih Fiqih Sunnah, 1/85-86)

Sekarang, bagaimana dengan muslimah yang shalat di rumah? Memang teks hadits di atas membatasi tempatnya di masjid. Namun, tidak dipahami bahwa masjid menjadi syarat tempatnya. Wanita memang lebih utama shalat di rumah. Apalagi ada atsar yang shahih bahwa Ibnu Mas’ud ra pernah melakukannya di rumahnya (HR. Muslim, no. 822). Selain itu, Syaikh Ibnu Bazz pun berpendapat bahwa apabila mengerjakan shalat dhuha di awal waktu (isyraq), saat matahari meninggi satu tombak di masjid atau di rumah, keduanya adalah baik. Wallahu a’lam.

Hadits yang lain menyebutkan, Rasulullah SAW lebih spesifik menyatakan dengan shalat Dhuha. Dari Abu Umamah dan ‘Utbah bin ‘Abd, Rasulullah SAW bersabda, ”Barang siapa yang shalat Subuh di masjid berjama’ah hingga mengerjakan shalat Dhuha, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang haji dan umrah dengan sempurna.” (HR. Thabrani, no. 7663, Hasan li ghairihi: Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 469)

Beliau juga bersabda, “Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam keadaan sudah bersuci untuk shalat fardhu maka pahalanya seperti pahala orang haji yang berihram. Dan barangsiapa keluar shalat Dhuha dia tidak bermaksud kecuali itu, maka pahalanya seperti pahala orang yang berumrah. Dan Shalat sesudah shalat yang tidak ada perbuatan sia-sia di antara keduanya ditulis di kitab ‘Illiyin. ” (Shahih: Shahih Sunan Abu Dawud, no. 522; Shahih Al-Jami’, no. 6228)

3. Menghadiri halaqah-halaqah ilmu, mempelajari serta mengajarkan kebaikan di masjid.

Rasulullah SAW menyebutkan keutamaan dzikir secara umum, termasuk juga di dalamnya adalah ta’lim atau kajian keislaman. Dari Abu Umamah, Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang berangkat ke masjid dia tidak menginginkan kecuali untuk belajar sesuatu kebaikan atau mengajarinya, maka baginya adalah seperti pahala orang yang beribadah haji dengan sempurna.” (HR. Ath-Thabrani).

Dalam riwayat lain dengan redaksi, “Barangsiapa berangkat di pagi hari menuju masjid, ia tidak menginginkan kecuali mempelajari suatu kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya pahala orang yang melaksanakan umrah dengan umrah yang sempurna. Dan barangsiapa berangkat sore hari menuju masjid, ia tidak menginginkan kecuali mempelajari suatu kebaikan atau mengajarkannya, maka ia mendapatkan pahala orang yang naik haji dengan haji yang sempurna.” (Hasan Shahih: Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no.82)

Amalan-amalan di atas bisa menjadi ringan, jika kita memang bersungguh-sungguh melakukannya. Bagi mereka yang sudah berangkat haji dan umrah, apakah masih perlu melakukan amalan tadi? Jawabnya perlu. Bagi Anda yang sudah haji mestinya lebih bersemangat lagi dalam beramal, termasuk diantaranya amalan-amalan tersebut di atas.

Jalan mudah menuju pahala haji ini bukan berarti mengalahkan keutamaan haji yang hakiki, serta menghilangkan ajaran yang pokok tentang syariat haji dan umrah. Apalagi sampai menggantikan kedudukannya, sekali-kali Bukan! Melainkan tak lebih menjadi ladang amal alternatif bagi mereka yang belum berkemampuan untuk pergi ibadah haji dan umrah secara langsung.

Al-Munawi dalam Al-Faidh Al-Qadiir jilid 6 hal.228 mengatakan, “Makna mendapat pahala haji atau mendapat pahala seperti pahala haji, tetapi tidak harus sama persis. Maka, amal-amal yang berpahala seperti/setara pahala haji dan umrah itu tidak menghapus kewajiban haji dan umrah.”

Sebab, Nabi Muhammad sekalipun yang mensosialisasikan amal-amal tersebut lewat haditsnya tetap melakukan ibadah haji dan umrah.

Semoga kita bisa melaksanakan keduanya, mengerjakan amalan yang pahalanya setara haji dan umrah, serta melaksanakan ibadahnya secara langsung ke Baitullah.
Aamiin, Yaa Mujiibas-Saailiin!