Always Be Positive !

1
402
prasangka baik

Oleh : Pipit Era Martina

Suatu hari di tepi sungai Dajlah, Hasan Al-Bashri melihat seorang pemuda duduk berduaan dengan seorang perempuan. Di sisi mereka terletak sebotol arak. Kemudian Hasan berbisik dalam hati, “Alangkah buruk akhlak orang itu dan baiknya kalau dia seperti aku!”

Tiba-tiba Hasan melihat sebuah perahu di tepi sungai yang sedang tenggelam. Lelaki yang duduk di tepi sungai tadi segera terjun untuk menolong penumpang perahu yang hampir lemas karena karam. Enam dari tujuh penumpang itu berhasil diselamatkan.

Kemudian dia berpaling ke arah Hasan Al-Bashri dan berkata, “Jika engkau memang lebih mulia daripada saya, maka dengan nama Allah, selamatkan seorang lagi yang belum sempat saya tolong. Engkau diminta untuk menyelamatkan satu orang saja, sedang saya telah menyelamatkan enam orang.”

Bagaimanapun Hasan Al-Bashri gagal menyelamatkan yang seorang itu. Maka lelaki itu berkata padanya, “Tuan, sebenarnya perempuan yang duduk di samping saya ini adalah ibu saya sendiri, sedangkan botol itu hanya berisi air minum biasa, bukan anggur atau arak.”

Hasan Al-Bashri tertegun lalu berkata, “Kalau begitu, sebagaimana engkau telah menyelamatkan enam orang tadi dari bahaya tenggelam ke dalam sungai, maka selamatkanlah saya dari tenggelam dalam kebanggaan dan kesombongan.”

Lelaki itu menjawab, “Mudah-mudahan Allah mengabulkan permohonan Tuan.”

Semenjak itu, Hasan Al-Bashri semakin merendahkan hati dan berpikir positif. Bahkan ia menganggap dirinya sebagai makhluk yang tidak lebih daripada orang lain.

Ibnu Qayyim rahimahullah dalam kitabnya, Madarijus Salikin 1/177, memberikan nasihat yang sangat indah kepada kita :

Bila Allah membukakan bagimu pintu (kemudahan dalam melakukan) shalat malam, maka jangan engkau memandang orang yang tidur dengan pandangan merendahkan.

Bila Allah membukakan bagimu pintu (kemudahan dalam melaksanakan) puasa, maka jangan engkau memandang orang yang tak berpuasa dengan pandangan merendahkan.

Bila Allah membukakan untukmu pintu (kemudalahan untuk) berjihad, maka jangan engkau memandang orang yang tak berjihad dengan pandangan merendahkan.

Boleh jadi orang yang tertidur, tak berpuasa dan tak berjihad lebih dekat kepada Allah daripada dirimu

Beliau juga mengatakan :

Engkau tertidur di malam hari lalu menyesal di pagi harinya lebih baik daripada engkau terjaga beribadah di malam hari lalu berbangga dipagi harinya. Karena orang yang bangga diri, amalannya tidak akan naik ke sisi Allah

Be positif, hindari su’udzan yang hanya akan menimbulkan penyakit hati dan menjalar ke seluruh tubuh sehingga bisa mematikan hatimu. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain…” (QS. Al-Hujuraat: 12)

Telah diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir sebuah keterangan yang bersumber dari Ibnu Juraij, berkenaan dengan sebab turunnya surah Al-Hujuraat ayat ke-12. Bermula dengan kebiasaan Salman al-Farisi yang langsung tidur mendengkur bila selesai makan. Lantas muncullah seorang yang datang dan mempergunjingkan perbuatan Salman tersebut. Lalu Allah SWT menurunkan ayat ke-12 tersebut yang melarang perbuatan mengumpat dan menceritakan aib orang lain.

Berdasarkan ayat di atas, jelas sekali bahwa Allah melarang orang beriman untuk berburuk sangka. Memang, buruk sangka atau su’udzan sudah merupakan budaya dalam masyarakat kita. Setiap kali kita melintas dan terlihat sedikit pemandangan ganjil atau menurut kita aneh, tanpa disadari dan dirasa hati ini berkata sesukanya tanpa ingin mengetahui fakta yang sebenarnya, hanya berbicara dalam hati sesuai dengan pikiran yang entah bagaimana.

Sesungguhnya prasangka buruk itu datangnya dari setan. Mereka bergembira dan bersorak kala hati manusia bernyanyi mengikuti bisikannya. Dengan kelihaiannya, mereka terus merajuk dan membisikkan kata-kata negatif ke dalam hati manusia. Jika hati ini mengikuti apa yang dia mau, maka binasalah kita yang terperangkap dalam jerat penyakit hati. Sudikah kita menjadi sahabat setan?

Buruk sangka sering tak dirasa, datang tak pernah diduga. Namun, hal itu bisa kita hindari dengan cara mengawali doa-doa yang diajarakan oleh Rasulullah SAW. Islam mengajarkan kepada kita untuk tidak memperluas buruk sangka. Jika memang penyakit buruk sangka itu telah menyelimuti hati, segera ditahan dan cobalah untuk dihilangkan. Jangan sampai terucap dan berkembang menjadi sebuah ucapan.

“Sesungguhnya Allah memaafkan bagi umatku apa yang terlintas di jiwa mereka selama mereka tidak membicarakan atau melakukannya.” (HR. Bukhari no. 2528 dan Muslim no. 327)

Namun, bukan berarti Islam melarang kita untuk waspada atau berhati-hati dalam menyikapi situasi dan kondisi. Tempatkan semua pada tempatnya. Jika kita berada dalam lingkungan orang-orang shalih, haruskah kita takut dan menebarkan curiga? Atau ketika kita berada dalam lingkungan orang-orang dengan tampang menyeramkan, haruskah kita merasa aman atau menyebarluaskan pikiran negatif?

Di zaman sekarang ini, penjahat ataupun tindak kejahatan tidak pernah bisa terlihat dari sekedar pandangan sekilas. Be positife memang wajib, tetapi waspada juga perlu, hanya saja jangan berlebihan. Atasi pikiran negatif dan su’udzan dengan mengabaikan mereka dan berbincang dengan teman, atau lebih baik menghindar dari keramaian yang tampak mencurigakan, daripada su’udzan menguasai hati dan pikiran.

Penyakit hati yang satu ini bisa menjangkit siapa saja, baik itu orang biasa ataupun orang beriman. Oleh karenanya, biasakan untuk berbaik sangka atau husnudzan. Ingat! Tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT selagi kita berniat dan bersungguh-sungguh memperbaiki diri, merubah diri menjadi insan yang lebih baik dan lebih baik lagi. Jika keinginan kuat telah bersarang tetap di hati, maka bukan mustahil kita akan hidup dalam kebahagiaan tanpa ada buruk sangka. Melatih diri untuk mencari seribu satu alasan positif dalam memaklumi sikap atau perilaku orang terhadap kita adalah salah satu cara agar kita terhindar dari buruk sangka.

Saat ucapan salam kita tidak dijawab oleh orang lain, maka berbaik sangkalah, mungkin beliau memang tidak mendengarnya. Atau ketika ada seorang yang berkata akan prestasinya yang menjulang, maka jangan berburuk sangka bahwa dia berbuat riya, bisa jadi ia berkata demikian dengan tujuan untuk membangkitkan semangat kita dalam meraih sesuatu dan mengingatkan kita bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah jika kita mau berusaha.

Jadi para sahabat sekalian, yuk, mari belajar melatih hati dan pikiran untuk senantiasa menanamkan pikiran positif dan berbaik sangka terhadap apapun. Bermula dengan menjernihkan hati dan pikiran, senanglah di kala mendengarkan ceramah dan nasehat para ulama, resapi tiap bait kalimat yang tertuang indah dalam Al-Qur’an. Maka secara tidak langsung hati akan menjadi lebih adem dan pikiran menjadi jernih. Sertakan selalu pikiran yang bersih dan positif dalam menilai sesuatu, karena hitamnya hati hanya akan membutakan segala kebaikan yang ada di depan mata. Ketahuilah, sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui segala apa yang ada dalam hati dan pikiran makhluk-Nya dan tidak ada sedikitpun yang luput dari perhatian-Nya.

Be Positife, not be negatife!

Lampung, Ahad 27 Rabiulakhir 1437 / 07 Februari 2016