Alangkah Ruginya Jika Ilmu Tak Diamalkan

0
874
ilmu

Oleh: Aannisah Fauzaania

Menuntut ilmu, bagi seorang muslimin dan muslimat ialah perkara wajib, seperti disebutkan dalam hadits,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu diwajibkan bagi setiap orang Islam.” (Riwayat Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Ibnu Abdil Barr, dan Ibnu Adi, dari Anas bin Malik)

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ, وَمَنْ أَرَادَ الأَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ, وَمَنْ  أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
“Barangsiapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya; dan barang siapa yang ingin (selamat dan berbahagia) di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula; dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Begitu cintanya Allah dengan para penuntut ilmu, hingga dalam suatu riwayat disebutkan ketika dari langit terlihat suatu cahaya bersinar indah yang bersumber dari bumi, kemudian setelah didekati ternyata mereka itulah para mujahid dalam majelis ilmu. Allah dengan senang hati mengirimkan malaikat-malaikat untuk berdiri di sekitar majelis ilmu tersebut agar doa-doa yang mereka langitkan lekas terkabulnya.

Keistimewaan menuntut tertulis pun dalam hadits-hadits berikut,
مَنْ خَرَجَ فِى طَلَبُ الْعِلْمِ فَهُوَ فِى سَبِيْلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ
“Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang.” (HR. Tirmidzi)

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا ِإلىَ اْلجَنَّةِ
“Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (HR Muslim)

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوْا ، قَالُوْا : يَارَسُوْلَ اللَّهِ ، وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ ؟ قَالَ : مَجَالِسُ الْعِلْمِ
“Apabila kamu melewati taman-taman surga, minumlah hingga puas.’ Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah, apa yang dimaksud taman-taman surga itu?’ Nabi SAW menjawab, ‘majelis-majelis ilmu’.” (HR. Al-Thabrani)

Selain karena alasan wajib dalam agama, manfaat menimba ilmu untuk kebaikan dunia pun sangat banyak. Dengan ilmu kita bisa menggenggam dunia dalam tangan, dengan ilmu seorang manusia bisa meningkat derajatnya, dan dengan ilmu pun seorang bisa banyak bermanfaat bagi orang lain.

Mengutip sedikit kisah dari saudara saya. Awalnya beliau hanya terlahir dari orang tua yang bermata-pencaharian sebagai petani. Jangankan ingin barang mewah, mencukupi kebutuhan makan sehari-hari pun sulit.  Namun karena kemauan tinggi dari dirinya untuk terus menuntut ilmu dengan sekolah, maka dengan tekad kuat ia berusaha menyelesaikan jenjang pendidikan tingginya meski harus berlelah-lelah karena hidup menumpang dengan kerabat, serta mencari penghasilan tambahan untuk biaya kuliah. Berkat kegigihannya, pada akhirnya kini Allah berkenan mengangkat derajatnya. Ia bisa menjadi seorang PNS, banyak menyantuni anak yatim, hidup berkecukupan, bahkan kini bisa memberikan kehidupan yang lebih layak untuk kedua orang tuanya.

Kisah tersebut mengajarkan bahwa betapa berperannya ilmu dalam hidup seseorang. Ilmu yang menjadikannya berguna bagi masyarakat banyak, ilmu yang menjadikan orang tuanya bisa tersenyum atasnya.

Setelah kita menuntut ilmu, maka langkah selanjutnya yang mesti dilewati adalah menerapkan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Jika telah mampu, sebaiknya kita juga membagi ilmu yang telah kita miliki agar kelak bisa menjadi amalan jariyah yang pahalanya terus mengalir hingga ke waktu akhir. Namun sayangnya, saat ini banyak yang masih menerapkan pandangan ilmu sekedar tahu. Jadi ilmu yang telah didapatkan tidak digunakan sebagaimana mestinya. Tidak diterapkan dan diamalkan dalam kehidupan agar bisa semakin memperbaiki kualitas diri.

Imam Al Ghazali berkata dalam Ayyuhal Walad, “Meskipun kamu telah belajar ilmu selama seratus tahun dan sudah mengumpulkan {mengarang} sebanyak seribu kitab, itupun kamu masih belum di katakan orang yang mengharap rahmat Allah kecuali dengan mengamalkannya.”

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Setiap ilmu dan amal yang tidak menambah kekuatan dalam keimanan dan keyakinan maka telah termasuki (terkontaminasi), dan setiap iman yang tidak mendorong untuk beramal maka telah termasuki (tercoreng).” (Al Fawaid 86)

Bagaimana maksudnya mengamalkan ilmu?

Sahabat, dalam keseharian kita berbagai peristiwa pasti akan terlewatkan. Beberapa diantaranya yang meskipun berupa hal kecil akan memberikan tambahan ilmu bagi kita. Seperti misalnya ketika mengikuti pengajian, kemudian di dalamnya kita mendapat suatu ilmu bahwa barang siapa yang melaksanakan shalat Dhuha secara istiqomah, maka kelak akan dibangunkan rumah mewah di surga oleh Allah ta’ala. Setelah mengetahui ilmunya, maka sebaiknya kita pun mulai untuk belajar melaksanakan shalat Dhuha secara istiqomah. Berangsur-angsur menambah kebaikan, insya Allah akan menambah derajat keistimewaan kita di sisi Allah SWT.

Berbeda halnya jika telah mengetahui ilmunya, kemudian sepulang dari ta’lim seorang tersebut hanya menganggapnya angin lalu, maka sungguh merugilah ia. Karena telah mengetahui ilmunya namun diabaikan, maka artinya seorang tersebut tak mampu mengambil kebaikan dari majelis yang ia datangi tadi. Merugilah waktunya, merugilah dirinya.

Sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, “Tapak kedua kaki seorang hamba kelak di hari kiamat tidak akan bergeser hingga ia ditanya tentang  empat perkara diantaranya tentang  ilmunya, apa yang telah ia amalkan.” (HR. Tirmidzi, ia berkatan hasan shahih, dishahihkan Syaikh Albani)

Jika mengutip dari pepatah arab, “Ilmu yang tak diamalkan bagaikan pohon yang tak berbuah.” Mengapa dikatakan pohon tak berbuah? Karena ketika kita mengumpamakan menimba ilmu sama seperti menanam satu pohon, maka buah yang akan dihasilkan kelak adalah sama seperti ilmu yang telah diamalkan dan memberikan kebaikan bagi diri kita sendiri maupun untuk orang lain.

Jika pohon tak berbuah, maka hilanglah satu kebaikan dalam dirinya, ia tak bisa memberikan manfaat bagi orang yang ingin memakan buahnya untuk mengisi perut. Begitu pun manusia, jika memiliki ilmu banyak namun tak diamalkan, maka lebih rendah derajatnya dari seorang yang memiliki sedikit ilmu namun telah diamalkannya untuk terus memperbaiki kualitas diri.

MasyaaAllah, sahabat, ternyata sebegitu pentingnya mengamalkan ilmu. Dan akhirnya, semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung karena telah mengamalkan ilmu yang pernah kita dapatkan. Percayalah sahabat, ilmu yang baik jika diamalkan dengan baik pun akan menjadi titik cahaya teristimewa yang akan menjadikan kebaikan dalam diri kita.