Aku Menikah Tanpa Ridho Mama (1)

0
248
pernikahan
sayang ibuOleh : Hanima Salwa

Aku adalah anak kedua, perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara, yang terlahir dari keluarga sederhana. Mungkin sebab itulah sifat femininku sedikit terkontaminasi oleh sifat maskulin kedua saudara lelakiku. Dan orang tuaku pun sama sekali tidak membedakan dalam mendidik anak-anaknya.

Mandiri dan gigih, itulah sikap pertama yang bapak ajarkan. Ya, bapak mengarahkannya ke arah yang positif, hingga aku pahami kini bahwa memang tak ada usaha sekecil apa pun yang akan sia-sia. Pemaaf  adalah sikap utama yang aku dapatkan dari sosok bapak. Hal itu memang tak mudah, tetapi bapak selalu menanamkan doktrin-doktrin positif kepada kami, anak-anaknya.

Kalimat yang sangat melekat dalam ingatan hingga saat ini, yaitu bapak sering mengatakan, “Nak, di dalam hidup jangan menampar apabila tidak mau ditampar. Jangan membalas mereka yang telah menyakitimu dengan menyakitinya kembali. Nak, jadi orang baik itu tidak akan pernah rugi.” Suatu yang kupahami, bahwa semua permasalahan akan menjadi baik apabila diatasi dengan cara yang baik pula, pun sebaliknya.

Sementara dari sosok mama, aku belajar banyak hal, terutama untuk menjadi wanita tangguh. Aktivitas merawat tiga anak sekaligus dan harus disibukkan dengan usaha sampingan warung kecil-kecilan, hal tersebut tentu saja tidaklah mudah. Aku sama sekali tidak pernah mendengar keluh kesahnya sedikitpun.

*

Keluarga kami terbilang sangat bahagia dan harmonis. Hingga suatu saat, tepatnya pada hari Kamis bulan kedua tahun 2010 ba’da shalat maghrib, adikku yang kala itu berusia sepuluh tahun, menemukan bapak tergeletak tak sadarkan diri di atas sajadah dengan koko, sarung, dan peci yang masih melekat. Melihat kejadian tersebut, keluargaku segera melarikan bapak ke rumah sakit terdekat. Allah berkehendak lain, malam itu juga bapak mengembuskan nafas terakhir. Saat kejadian, aku dan abang sedang tidak berada di rumah. Kami tengah menempuh pendidikan di luar kota. Aku kala itu mondok di salah satu Pesantren di Purwakarta. Sementara Abangku, tengah sibuk menyelesaikan tugas akhir kuliahnya di Bandung.

Shock! Itulah yang kurasakan saat itu. Sedih, karena tidak dapat menyaksikan senyum bangga bapak ketika melihat putra putrinya mampu menyelesaikan pendidikannya hingga selesai.

Dua tahun setelah kepergian bapak, mama memutuskan untuk menikah lagi dengan lelaki pilihannya. Aku tidak setuju dengan keputusan mama tersebut. Hal itu kuungkapkan secara langsung, dan meminta mama untuk mempertimbangkan kembali niatnya itu. Yang membuatku keberatan dengan rencana mama adalah, karena calon suami pilihannya terpaut empat tahun lebih muda darinya. Namun mama bersikap apatis. Beliau tidak mendengarkan saranku, juga kedua saudaraku yang lain. Dan akhirnya, pada bulan Juli 2012, Mama resmi menikah lagi tanpa persetujuan dari kami.

Aku benar-benar kecewa terhadap keputusan yang diambil mama. Hal tersebut sangat melukai perasaanku. Akibatnya, aku pun berubah drastis menjadi pribadi yang pemurung dan penyendiri. Sejak saat itu aku jarang pulang ke rumah, dan setiap harinya hanya mengurung diri di dalam kamar kontrakan. Kalau pun keluar, itu hanya untuk memenuhi kebutuhan perut dan kuliah saja.

Di saat yang bersamaan aku berkenalan dengan seorang lelaki melalui Facebook, Arman namanya. Seorang lelaki yang begitu empati, peduli, dan pengertian terhadap kondisiku saat itu. Dalam kondisi psikologis yang sedang down, membuatku begitu mudah mempercayai lelaki yang belum pernah kutemui sebelumnya. Setelah sekian lama dekat, lelaki yang biasa kupanggil Mas Arman itu menyatakan keinginannya untuk meminangku.

Aku bingung sekaligus terkejut. Entah pernyataan tersebut harus kuapresiasi atau kusebut konyol? mengingat saat itu kuliahku belum selesai. Karena sisa sakit hatiku terhadap Mama, akhirnya aku meminta Mas Arman datang ke rumah untuk menyatakan niatannya itu kepada keluargaku.
*
“Ridha orang tua itu ridhanya Allah juga, Nak.”

Itulah ucapan mama di depan Mas Arman dan abahnya ketika datang melamar. Ucapan mama tersebut membuat Mas Arman tersinggung. Ia mengerti bahwa Mama tidak merestui hubungan kami dan tidak menerima pinangannya. Aku tahu alasan mama tidak menerima lamaran pemuda itu, berawal dari kejadian beberapa bulan lalu, Mas Arman yang notabene orang lain, terlalu banyak ikut campur dan mengatur dalam urusan keluarga kami. Hal tersebut tentu membuat mama berang, dan beliau langsung menyampaikan rasa tidak sukanya itu. Namun bukannya meminta maaf, Mas Arman justru tidak terima. Lantas ia tunjuk dan hina mama di depanku dengan penuh emosi.

“Dulu apa Mama mendengarkanku? Lalu kenapa sekarang aku harus mendengarkan Mama?” Ucapan itu meluncur dengan mudahnya dari mulut ini. Terlihat seketika mata mama berkaca-kaca, begitu pun aku. Ah, jahat sekali aku ini! Durhaka!

“Baiklah. Mama izinkan kalian menikah, Nak, meski hati mama tidak ridha,” lirih Mama pada akhirnya.
*
Nopember 2012, aku dan Mas Arman resmi menikah. Satu hari paska pernikahan, aku langsung diboyong ke Karawang dan mengontrak di dekat kampus, karena waktu itu aku memang masih kuliah semester lima. Sejak saat itu pula komunikasiku dengan mama dan keluarga pun terputus, karena suamiku melarang keras.

Hari ke hari tabiat asli suamiku kian terlihat. Perangainya yang kasar dan ringan tangan semakin nampak. Tak jarang aku pun jadi bulan-bulanan emosinya jika kebetulan ia tengah pusing dengan masalahnya. Sering juga kupergoki ia tengah berselingkuh.

Pebruari 2013 aku positif hamil. Sayangnya, hal itu sama sekali tidak merubah kebiasaan buruknya, justru makin menjadi-jadi. Pukulan, tendangan, cekikan, tamparan, bahkan cacian semakin sering kuterima di masa kehamilan. Selama hampir dua tahun aku menerima perlakuan kasar tersebut. Ikhlas, tentu harus, mengingat ini adalah keputusanku dan tentu saja harus aku sendiri yang menanggung konsekuensinya. Oktober 2013 aku melahirkan, dan itu pun tanpa didampingi suami.

Puncak masalah rumah tanggaku pun terjadi. Untuk yang kesekian kalinya aku memergoki suamiku berselingkuh. Dengan baik-baik kucoba bicarakan dengan suami, mencari solusi dari masalah ini. Namun, bukannya solusi yang kudapat, malah kekerasan yang kuterima. Menyadari kondisi yang semakin memanas, aku bangkit dan lari meninggalkan kontrakan menuju rumah pemilik kontrakan dengan memeluk putri semata wayangku.

Saat itu jam menunjukkan pukul 22:10 WIB. Dari arah belakang kulihat suamiku ikut mengejar sambil menggenggam pecahan kaca. Sesampainya di rumah pemilik kontrakan, aku langsung menghambur masuk. Kuceritakan peristiwa tadi pada bapak dan ibu pemilik kontrakan, sambil berurai airmata.

Esoknya Mama datang menjemputku. Kupeluk erat Mama dan kuciumi punggung tangannya. “Maafkan aku, Ma,” lirihku penuh sesal.

“Mama sudah memaafkanmu, Nak. Sudah, ayo pulang.” Mama balas memeluk dan mengusap lembut kepalaku. Kulihat bulir bening mengalir di pipinya.

“Aku sayang Mama …”

Bersambung….. (Aku Menikah Tanpa Ridho Mama (2-habis) )