Ada Apa di Balik Valentine’s Day (1)

1
199
valentine's day

Oleh : Asadullah Al Faruq

Tanggal 14 Februari seolah telah ditetapkan sebagai “Hari Kasih Sayang” atau biasa dikenal dengan istilah “Valentine Day”. Banyak orang, terutama kaum muda, merayakannya dengan berbagai bentuk dan kegiatan. Tak hanya di Amerika atau di Eropa, negeri-negeri muslim juga sangat meminati perayaan hari tersebut. Di Indonesia, muda-mudi juga banyak yang terbuai dalam perayaan hari kasih sayang.

Sebagai seorang muslim, apakah kita diperkenankan merayakan Valentine Day? Untuk menjawab pertanyaan ini, sebaiknya kita memperhatikan apa dan bagaimana Valentine Day itu, sehingga kita akan mengenalnya dan dapat menghukumi boleh tidaknya merayakan hari tersebut. Apakah selama ini kita mengetahui sejarahnya? Ataukah sekedar ikut-ikutan? Padahal Allah SWT memperingatkan kita, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra’: 36)
MENGINTIP SEJARAH VALENTINE’S DAY

Secara etimologis, Valentine berasal dari kata Valentinus, artinya kartu ucapan selamat yang dikirimkan kepada orang-orang yang disayangi. Ken Swiger dalam artikelnya, “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan, “Kata “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang berarti, “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat, dan Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimroe dan Lupercus, tuhan (dewa)-nya orang Romawi”.

Kisah yang paling terkenal di Romawi terkait perayaan 14 Februari adalah perayaan Romulus, pendiri kota Roma yang diyakini disusui oleh seekor serigala betina, sehingga serigala itu memberinya kekuatan fisik dan kecerdasan pikiran. Bangsa Romawi memperingatinya dengan peringatan yang megah. Diantara ritualnya, menyembelih seekor anjing dan kambing betina, lalu dilumurkan darahnya kepada dua pemuda yang kuat fisiknya. Keduanya mencuci darah itu dengan susu, setelah itu dimulailah pawai besar dimana kedua pemuda tadi berada di depan rombongan. Keduanya membawa dua potong kulit yang mereka gunakan untuk melumuri segala sesuatu yang mereka jumpai. Para wanita Romawi sengaja menghadap kepada lumuran itu dengan senang hati, karena meyakini akan dikaruniai kesuburan dan melahirkan dengan mudah.

Menurut The Catholic Encyclopedia for School and Home (New York, May 14, 1965), setidaknya ada tiga versi sejarah asal mulanya Valentine Day. Versi PERTAMA, adalah kisah pendeta Valentine yang hidup di masa Kaisar Romawi Claudius II (abad 4 M) dijatuhi hukuman mati pada tanggal 14 Februari karena pendeta tersebut menyebarkan ajaran Kristen. Jadi, menurut versi ini, perayaan tanggal 14 Februari sama dengan memperingati hari kematian pendeta yang menyebarkan ajaran Kristen!

Versi KEDUA, Kaisar Claudius berkeyakinan bahwa pasukannya yang masih lajang memiliki semangat, militansi dan kesetiaan yang lebih besar daripada mereka yang sudah menikah. Atas dasar itu, kaisar mengeluarkan maklumat berupa larangan menikah. Namun Pendeta Valentine dengan diam-diam menikahkan orang-orang di gereja. Akibatnya, pendeta dipenjarakan.

Pendeta Valentine saat dalam masa penahanan berkenalan dengan gadis yang sedang sakit, putri seorang penjaga penjara. Wanita itu disembuhkan oleh sang pendeta, hingga terjalinlah hubungan asmara antara keduanya. Wanita tersebut kemudian mampu mengkristenkan 46 orang anggota keluarganya. Sebelum sang pendeta dihukum mati, dia sempat berkirim sebuah kartu yang bertuliskan, “Dari Valentine yang setia kepada si jantung hati.” Oh, berarti kalau kita sok romantis pada tanggal 14 Februari, bukankah kita turut memperingati romantisme Pendeta Valentine sebelum dihukum mati?!

Versi KETIGA, sebuah tradisi Romawi baru berkembang di kalangan muda-mudi ketika agama Kristen tersebar di Eropa. Setiap bulan Februari, mereka mengadakan pertemuan bersama. Mereka menulis nama-nama gadis pada secarik kertas, lalu dimasukkan ke dalam kotak. Para pemuda secara bergiliran mengambil satu kertas dan gadis yang namanya tertera dalam kertas yang dipilih setiap pemuda akan menjadi kekasihnya sepanjang tahun. Sang pemuda akan mengirim kartu kepada gadis pilihannya dengan bertuliskan, “Atas nama para Dewi, aku kirimkan kepadamu kartu ini”.

Para pendeta Kristen menilai bahwa tulisan di kartu itu akan menguatkan kepercayaan Romawi, sehingga akan mempersulit misi Kristenisasi. Mereka memutuskan untuk tetap melestarikan tradisi itu, tetapi mengganti tulisan pada kartu menjadi, “Atas nama Valentine, aku kirimkan kepadamu kartu ini”. Menurut para pendeta, kata Valentine mewakili simbol agama Kristen, sehingga dianggap lebih sesuai dengan ajaran Kristen. Pada akhirnya, Paus Gelasius menjadikan Valentine sebagai lambang cinta dan Valentine Day dimasyarakatkan secara internasional.

Berdasarkan sejarah tersebut, kita dapat menyaksikan bahwa perayaan Valentine Day sama sekali bukan dari Islam. Lebih mencengangkan lagi apa yang diungkapkan oleh Zulkifli Nordin, seorang ulama negeri Jiran. Zulkifli mengatakan, “VALENTINE” adalah nama seorang pendeta. Namanya Pedro St. Valentino. Tanggal 14 Februari 1492 adalah hari kejatuhan Kerajaan Islam Spanyol. Pendeta ini mengumumkan hari tersebut sebagai hari ‘kasih sayang’ kerana Islam dianggap dzalim. Tumbangnya Kerajaan Islam Spanyol dirayakan sebagai Hari Valentine.

Semoga kita semua mengambil pelajaran. Jadi, mengapa kita ingin menyambut Hari Valentine ini padahal hari itu adalah hari jatuhnya kerajaan Islam di Spanyol? Memang ada versi lain mengenai hari jatuhnya kerajaan Islam di Spanyol, namun setidaknya hal tersebut dan sejarah yang telah dikupas di atas bisa membuat bahan pemikiran kita, apakah kita masih perlu ikut-ikutan merayakan Valentine Day?

BERSAMBUNG…..  Bagian 2