Ujub: Penyakit Hati yang Bisa Menenggelamkan Diri

1
794
dilarang ujub

Oleh : Aannisah Fauzaania*

—–

“Ukhti, kita foto bareng yuk.”

“Boleh, selfie aja….”

Kemudian ckrek! Jadilah sebuah foto bersama dengan ragam ekspresi. Akhwat pertama kemudian mengambil ponselnya dan melihat foto yang baru saja diambil.
Setelah mengamati sejenak, dalam hatinya ia bergumam,
“Eh, ternyata wajahku lebih putih daripada dia ya.
Ternyata hidungku lebih bangir ya,
Ternyata…
Ternyata…”

Astaghfirullahhaladzim..
Sahabat, dalam kehidupan sehari-hari kita tentu telah sering berada dalam situasi seperti di atas, dan sering tidak sadar pula telah berperilaku ujub. Ketika merasa lebih baik dari orang lain, kemudian membanggakan diri secara berlebihan, dari situlah kita telah lalai dan melakukan perilaku ujub yang buruk.
Perilaku ini, jika tidak segera dihilangkan tentu saja akan semakin memperkeruh hati, karena jika tidak terkendali pada akhirnya bisa tumbuh menjadi kesombongan diri.

Sebenarnya apakah arti dari ujub sendiri?

Ujub adalah sikap mengagumi diri sendiri, yaitu ketika kita merasa memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki orang lain. Imam al-Ghazali pernah berkata “Perasaan ujub adalah kecintaan seseorang pada suatu karunia dan merasa memilikinya sendiri, tanpa mengembalikan keutamaannya kepada Allah.”

Dalam hadits yang ma’ruf disebutkan,

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
“Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan: (1) tamak lagi kikir, (2) mengikuti hawa nafsu (yang selalu mengajak pada kejelekan), dan ujub (takjub pada diri sendiri).” (H.R. Abdur Razaq, hadist hasan)

Perasaan ujub tentu saja memiliki banyak kerugian untuk diri kita, kerugian tersebut diantaranya

1.Membatalkan pahala yang akan diberikan Allah SWT.

Ujub akan membatalkan tabungan pahala yang seharusnya bertambah dalam diri kita. Sebagai permisalan, ketika kita baru saja menyelesaikan murojaah Al-qur’an kemudian kita memposting status di media,
“Alhamdulillah, hari ini rajin udah murojaah 10 lembar. Semoga besok bisa semakin banyak lagi.”
Dari situ, tabungan pahala kita yang seharusnya akan naik malah sebaliknya akan berkurang akibat sifat ujub.

Rasulullah S.a.w bersabda:
“Tiga hal yang membinasakan : Kekikiran yang diperturutkan, hawa nafsu yang diumbar dan kekaguman seseorang pada dirinya sendiri.” (HR. Thabrani).

2. Akan mudah terjerumus dalam takabur.

Seseorang yang merasa dirinya lebih baik dari yang lain, pasti akan mulai timbul benih kesombongan dalam dirinya. Hatinya akan mulai menjadi beku dan tidak bisa lagi menerima kebenaran dari orang lain yang dianggapnya setingkat lebih rendah dari dirinya. sehingga ilmu yang ia dapatkan pun akan berhenti di tempat tak bertambah-tambah.

Nabi s.a.w bersabda, ”Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat perasaan sombong meskipun hanya sebesar biji sawi. (HR. Nasa’i)

3. Menyebabkan pelakunya menjadi lupa akan dosa yang diperbuat.

Seseorang yang mempunyai sikap ujub dalam dirinya, pasti akan merasa bahwa dirinyalah yang paling baik di antara yang lain, sehingga ia merasa tidak pernah melakukan kesalahan yang menimbulkan dosa. Orang tersebut akan menjadi pribadi yang dengan mudah mengumbar kesombongan karena sering melupakan dosa-dosa kecil yang diperbuatnya.

Nabi bersabda, “Andaikan kalian tidak pernah berbuat dosa sedikitpun, pasti aku khawatir kalau kalian berbuat dosa yang lebih besar, yaitu perasaan ujub.” (HR. Al Bazzar).

4. Menyebabkan kerugian bagi diri di dunia dan akhirat.

Nabi s.a.w bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang suka menyebut-nyebut kembali pemberiannya, seorang yang durhaka, dan pecandu minuman keras.” (HR. Nasa’i)

Umar r.a pernah berkata,”Siapapun yang mengakui dirinya berilmu, maka ia seorang yang bodoh dan siapapun yang mengaku dirinya akan masuk surga, maka ia akan masuk neraka.”

Qatadah berkata, “Barangsiapa yang diberi kelebihan harta, atau kecantikan, atau ilmu, atau pakaian, kemudian ia tidak bersikap tawadhu’, maka semua itu akan berakibat buruk baginya pada hari kiamat.”

5. Akan mendapatkan hukuman yang mengerikan di akhirat kelak.

Akibat sifat ujub di dunia, seseorang bisa menerima hukuman berat karena buruknya perilaku ini.
Dalam sebuah hadist diriwayatkan,
“Ketika seorang lelaki berjalan dengan mengenakan pakaian yang necis, rambut tersisir rapi sehingga ia takjub pada dirinya sendiri, seketika Allah membenamkannya hingga ia terpuruk ke dasar bumi sampai hari Kiamat.” (HR. Al-Bukhari)

Sebenarnya, masih banyak lagi kerugian lain dari sifat ujub yang akan membuat diri tenggelam dalam jurang keburukan.
Maka dari itu sahabat, marilah kita menjauhi sifat ujub. Jangan terlalu bangga akan kelebihan diri, bersyukurlah pada apa-apa kebaikan yang telah Allah beri, karena sesungguhnya tanpa kuasa Allah kita hanyalah sebongkah daging tanpa guna.

Semoga kita termasuk dalam hamba yang senantiasa ingin memperbaiki hati, aamiin.

*Aannisah Fauzaania, seorang pegiat aksara dari tanah ampera.