Tiket Mutlak Penghafal Al-Qur’an

1
253
wisuda akbar

Tiket Mutlak Penghafal Al-Qur’an
Oleh : Alya Adzkya

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (H.R Bukhari)

Banyak orang yang berkeinginan menjadi penghafal Al-Qur’an. Lagipula siapa yang tak ingin menjadi keluarga-Nya? Mendapat jaminan syafa’at dan dimasukkan ke syurga tertinggi pula. Namun ternyata, menjadi ahlul qur’an tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ada syarat dan ketentuan yang harus kita penuhi.

Dan, apakah syarat mutlak agar kita bisa menjadi salah satu dari keluarga Allah? Salah satu tiket mutlak yang harus dimiliki penghafal Al-Qur’an adalah istiqomah. Seorang penghafal Al-Qur’an dituntut untuk selalu istiqomah melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an kapan pun dan dimanapun ia berada. Menurut Syekh Muhammad Ar-Ra’i seorang penghafal qur’an harus meluangkan waktunya minimal empat jam dalam sehari untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Rasulullah bersabda, “Selalulah kalian bersama Al-Qur’an, demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya. Sesungguhnya Al-Qur’an itu lebih cepat hilangnya daripada unta yang terlepas dari ikatannya.” (Muttafaq ‘Alaih)

Al-Qur’an tak mengenal senioritas. Siapa saja yang senang berlama-lama dengannya, maka ialah yang lebih kuat hafalannya. Tak ada jaminan orang-orang yang sudah khatam al-qur’an dalam waktu sekian bulan, atau sekian tahun semua hafalannya akan utuh terjaga. Tidak, jika ia tak komitmen untuk istiqomah dengan hafalannya sendiri.

Lalu, bagaimana cara agar kita istiqomah dalam menjaga hafalan qur’an yang kita punya?

Rasulullah bersabda, ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ( H.R. Muslim)

Jadi, istiqomah itu tak harus banyak. Tak masalah sedikit, asalkan kita bisa terus menjaganya agar diamalkan setiap hari. Tak apa kita mengulang hafalan dua halaman setiap hari. Asalkan kita bisa berkomitmen untuk terus-menerus mengamalkannya setiap hari. Sambil terus memperbaiki kualitas, kita juga belajar untuk meningkatkan jumlah hafalan yang kita ulang. Dari dua halaman menjadi tiga halaman. Dari tiga halaman bertambah lagi menjadi empat. Dari empat berproses menjadi lima halaman. Begitu seterusnya hingga kita bisa istiqomah murajaa’ah bil hifzi (mengulang dengan hafalan) satu hari satu juz.

Khusus untuk para Huffaz yang telah selesai menyetorkan hafalannya, Syekh Muhammad Ar-Ra’i menuliskan dalam bukunya “Cara Mengajarkan Al-Qur’an.” : Setelah khatam 30 juz santri diharuskan mengkhatamkan Al-Qur’an kembali untuk melancarkan hafalan yang ia punya. Setiap hari muraja’ah 5 halaman, disetorkan hingga khatam. Dan itu membutuhkan waktu selama 4 bulan 20 hari.

Setelah selesai satu kali khatam muraja’ah, dilanjutkan setoran satu juz. Dan terus secara bertahap. Dari mulai 2 juz, 3 juz, 5 juz, 7 juz sampai 10 juz. Jika mampu menyetorkan 10 juz dalam satu kali pertemuan tanpa salah, maka baru bisa disebut Hafizh.

Lantas, apakah menjadi penghafal Al-Qur’an memang harus seberat itu? Tidak, muraja’ah bukanlah beban. Tapi ia adalah kebutuhan. Saat satu kali saja tertinggal, rasanya ada yang hilang. Ada yang kurang. Bukankah Allah sudah berjanji dalam Q.S Al-Qamar ayat 17, 32, 22 dan 40.

> ولقد يسّر نا القران للذّكر فهل من مدّكر

Menurut Tafsir Qurthubi, penjelasan ayat ini adalah : “Kami telah memudahkan Al-qur’an untuk dihafal. Maka adakah orang yang memohon untuk dimudahkan dalam menghafalkannya?”

Sudah sepatutnya kita memohon kepada Allah, Yang Maha Memampukan segala sesuatu agar dimampukan serta dimudahkaan dalam menjaga ayat-ayat-Nya. Karena segala kemudahan dan kesusahan hanya bisa terjadi atas kehendak-Nya.

Sebuah doa ketika khataman qur’an berikut mungkin bisa mewakili keinginan kita agar terus bersama al-qur’an.

> اللّهمّ اجعل القران لنا فى الدنيا قرينا  وفى القبر مونسا  وفى القيامة شفيعا  وعلى الصراط نورا  والى الجنة رفيقا ومن النار سترا وحجابا والى الخيرات كلها دليلا واماما

“Ya Allah jadikanlah Al-Qur’an sebagai teman kami di dunia, pengiring saat dalam kubur, pemberi syafa’at pada hari kiamat, cahaya di atas titian shirat, sahabat menuju surga, penghalang dari api neraka, serta sebagai bukti dan pemimpin bagi semua kebaikan.”