24.3 C
Jakarta
Tuesday, January 26, 2021

Tentang Maaf

Must Read

Antara Banjir Dan Kegagalan Sistem Kapitalisme

Banjir Buah Kegagalan Sistem Kapitalisme Oleh: Devita Deandra (Aktivis Muslimah) Awal tahun 2021 ini di warnai duka dan bencana yang datang...

Golput Meningkat, Demokrasi Menuju Sekarat?

Golput Meningkat, Demokrasi Menuju Sekarat? Oleh : Fani Ratu Rahmani (Aktivis dakwah dan Penulis) Istilah golput atau golongan putih ini sudah...

Kampus Merdeka: Kala Akademisi Tunduk pada Titah Korporasi

Kampus Merdeka: Kala Akademisi Tunduk pada Titah Korporasi Oleh : Ummu Hanan (Aktifis Muslimah) Konsep kampus merdeka memunculkan pro dan kontra....




Oleh : Newisha Alifa

WahidNews, Salah satu ciri kesabaran yang ‘katanya’ tak berbatas itu adalah sifat pemaaf yang tak pernah kehabisan stok. Dan sering kali kita mendengar atau membaca kalimat, “Allah aja Maha Pemaaf, masa kita manusia nggak? Berarti kita lebih sombong dong dari Allah?”

Mario Teguh yang konon bukan ahli agama, pada satu episode di acaranya menanggapi, “Ya betul, Tuhan Maha Pemaaf. Tapi kita bukan Tuhan. Ingat itu.”

Sebagian orang mungkin akan bilang “Sudah saya maafkan.” Namun memaafkan dengan melupakan adalah DUA HAL YANG BERBEDA.

Saya pernah sangat sulit mendapatkan maaf dari orang lain atas kesalahan yang saya lakukan dengan tidak sengaja. Seorang teman yang saya curhati waktu itu, dengan jujur berkata, “Kalau semua orang maafin kamu, Neng. Kamu nggak bakal belajar dari kesalahan. Kamu bakal ngegampangin perbuatan salah yang kamu lakuin, karena merasa toh semua orang tetap nerima kamu dengan segala kesalahanmu.”

Saat itu, kami hanya ngobrol via chat facebook. Tapi si Uni yang satu itu berhasil menohok gunung batu es yang terlanjur berdiri kokoh menguasai hati saya. Ahh, apa yang dia sampaikan, benar adanya! Ketika kita berbuat salah, selalu ada dua cara orang lain menyikapinya. Memaklumi dan mensupport agar kita tidak down, ATAU menunjukkan kekecewaannya dengan marah, memusuhi bahkan memaki kita. Sudah sunnatulloh nya begitu.

Jika hari ini, kita kembalikan lagi ke statement “Allah saja Maha Pemaaf.” Bukankah kita juga tahu bahwa Allah menolak permohonan maaf mereka yang KAFIR SETELAH BERIMAN? Setidaknya ada lima ayat dalam Al-Qur’an yang membahas masalah itu. Ali Imran ayat 90, 100 dan 106, Al-Maidah ayat 5, serta At-Taubah ayat 66.

Menurut saya, itu tanda bahwa dalam bertobat, kita mesti bersungguh-sungguh. Nggak bisa abis maksiat, tobat, maksiat, tobat, maksiat lagi… eh, keburu kiamat (kematian). Akhirnya nggak sempat taubat lagi deh. Naudzubillahimindzalik.

Jadi wajar, jika hari ini ada yang begitu sulit lagi mempercayaimu, sedang berkali-kali kau melakukan kesalahan yang sama padanya …

Yaa Rabb … Semoga hati ini senantiasa khusyu’ dan bersungguh-sungguh dalam permohonan taubat kepada-Mu. Dan semoga hati ini selalu dilapangkan untuk memaafkan kesalahan hamba-Mu yang lain, sebagaimana Kemurahan-Mi mengampuni dosa-dosa kami.

Aamiin, Aamiin, Yaa Robbal Alamiin.

8 Jan 2016.

0
0
vote
Article Rating

1 COMMENT

Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
- Advertisement -

Latest News

Antara Banjir Dan Kegagalan Sistem Kapitalisme

Banjir Buah Kegagalan Sistem Kapitalisme Oleh: Devita Deandra (Aktivis Muslimah) Awal tahun 2021 ini di warnai duka dan bencana yang datang...

More Articles Like This

0 0 vote
Article Rating
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x