Tabir Hitam Yang Ku Pilih

1
294
cadar

Oleh : Farah Riza

WahidNews, Sewajarnya naluri seorang perempuan, aku suka keindahan. Penampilan rapi yang serasi dan sesuai tempat. Sesuai tempat bermakna tidak ‘salah kostum’ dalam pikirku. Saat hadir di sebuah pengajian, hijab lebar dan gamis kupakai. Bila hadir di acara pesta, baju sedikit glamour jadi pilihan. Bepergian keluar rumah maka atasan kaos dengan bawahan celana jeanslah yang paling kusuka. Bahkan celana ‘cargo’ dengan kantong di sana-sini ala ‘army’ juga sering kupakai saat pergi ke luar rumah.

Namun itu semua sudah berakhir setengah tahun ini. Bagaimana kebiasaan teman-teman dekat kita, maka pengaruh cara berpikir pun akan seide. Berawal dari aktif di sebuah komunitas menulis, aku tak sengaja dekat dengan mereka yang sering membahas hukum Islam. Di situlah, cara pandangku mulai terbuka. Bagaimana seharusnya seorang muslimah menjaga martabatnya. Cara bergaul hingga pakaian syar’i pun sering kami bahas.

Entah apa yang ada di hati ini. Tiba-tiba Ramadhan tahun lalu, kuputuskan meninggalkan semua warna dan model pakaianku. Hitam. Ya … warna hitam kujatuhkan sebagai pilihan untuk tabir bagi auratku. Gamis lebar beserta hijabnya, hingga kaos kaki dan sarung tangan pun sewarna.

Islam memang tidak mengatur tentang pilihan warna. Hanya anjuran memakai pakaian dan perhiasan yang tidak menyolok dan menjadi sebab menarik perhatian. Namun entah mengapa, keinginan memakai warna hitam begitu mendorong hati.

Tidak mudah kuputuskan pilihanku. Beragam rasa gelisah muncul menghantui. Apakah suami mengijinkan? Apakah nanti tidak menjadi satu pertanda duka cita?

Tanda duka cita. Benarlah itu pertanda duka cita. Warna hitam itu telah mengubur kegelisahanku sebagai wanita yang rentan nafsu duniawi.

Bagaimana gelisahnya aku tentang pakaian yang akan kupakai ke acara ini, acara itu. Apakah warna antara hijab, pakaian, dan segala dari atas ke bawah telah serasi? Apakah pakaian ini sudah kupakai kemarin? Bagaimana kata orang kalau hijab yang kupakai tadi sama dengan kemarin alias tidak berganti? Apakah pakaianku tidak ketinggalan jaman? Cocokkah dipakai ke sini atau ke situ? Ah … sungguh sebuah nafsu karena takut dengan pendapat orang meski jarang muslimah yang menyadari hal ini.

Semua kegelisahan tadi bahkan masih banyak lagi, baru kusadari telah hilang saat aku menetapkan pilihan penutup auratku. Meski diawali dengan komentar-komentar aneh seperti, “Mbak pindah aliran ya?”
namun seiring waktu, orang terbiasa melihatku.

Tiada lagi kegalauan saat harus memilih model atau warna apa pakaian yang akan dipakai. Ke mana saja, kapan saja, aku tak lagi berpikir panjang, cukup mengambil hijab dan gamis yang bersih. Semua berwarna hitam, jadi apalagi yang menjadi kebingungan memilih warna. Hati pun tenang dari godaan mata saat melihat beragam keindahan model dan motif pakaian di etalase toko.

Terlepas dari kondisi tiap perempuan yang tentu berbeda. Aku memang hanya ibu rumahtangga, jadi tidak terikat pakaian seragam sekolah atau kantor. Namun yang terpenting bagi tiap muslimah, bukan warna pakaianmu, tapi niat berpakaian yang untuk menutup aurat secara syari karena Allah. Jauhkan nafsu duniawi berpakaianlah dengan niat karena-Nya, bukan yang lain.

Seperti dijelaskan dalam firman Allah :

“Katakanlah kepada wanita beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang ( biasa ) nampak daripadanya.”
( An-Nuur : 31 )

Bersihkan hati dan pandangan kita dari niat yang diselubungi nafsu. Bukan karena pakaian dunia ataupun fisik sempurna, melainkan hanya pakaian takwalah yang mulia di pandangan Allah.

Kediri, 13 Rabiul Akhir 1437