Selamat Jalan Malaikat Kecilku…

1
15651
bocah

Oleh : Farah Riza

Tubuh mungil berbungkus kafan putih itu menebar aroma melati. Derai air mata pun membasah di dada kami kala itu. Melepasmu untuk dipeluk bumi … lalu terbang bersanding dengan Allah di kerajaan-Nya. Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun. Pergilah, Nak, firman-Nya menguatkan kami,

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dgn sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, & buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun (Sesungguhnya kami milik Allah & sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya).’ Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna & rahmat dari Rabb mereka, & mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. Al-Baqarah: 155-157)

Sebagai manusia yang kerap lemah dalam iman, kami yang telah kehilangan buah hati  dan didera rasa sedih mendalam yang tak seketika mampu hilang sesaat usai kehilanganmu. Namun, cukuplah sedih ini tersimpan dalam kesabaran dan terlindungi dari larangan untuk meratap. Cukuplah sabda Rasul menjadi keyakinan kami.

Dari Ibnu Mas’ud r.a. berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda :
“Bukanlah termasuk golongan kami, orang yang memukuli pipi, merobek-robek pakaian, & berteriak dgn teriakan Jahiliyah (ketika ditimpa musibah).” [Hadits shahih. Riwayat Bukhari]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah bersabda,
“Sesungguhnya kesabaran itu terjadi pada saat awal benturan (musibah).” [Hadits shahih. Riwayat Bukhari (no. 1283) & Muslim (no. 926), dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu]

Namun, ujian kesabaran nampaknya belum usai. Banyak nada sumbang yang melemahkan ketabahan ini. “Kenapa tidak melahirkan ke dokter, Bu? Pasti dokter lebih cepat tahu penyakitnya dan tertolong.”

Aku yang lebih suka melahirkan di bidan pun hanya diam mendengar ucapan tadi. Seandainya begini, seandainya begitu. Berbagai ungkapanyang menyalahkan kami atas perginya si buah hati.

Sungguh kami takut hati ini mengingkari takdirnya. Tak kupedulikan semua kata-kata yang bisa membuatku menyesali sebuah takdir. Bukankah pengandai-andaian dalam cobaan sangat dilarang seperti disebut dalam sebuah hadist.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersemangatlah untuk meraih segala hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan Alloh dan jangan lemah. Apabila engkau tertimpa sesuatu (yang tidak menyenangkan) janganlah berkata, ‘Seandainya aku dulu berbuat begini niscaya akan menjadi begini dan begitu’ Akan tetapi katakanlah, ‘QaddarAllohu wa maa syaa’a fa’ala, Alloh telah mentakdirkan, terserah apa yang diputuskan-Nya’. Karena perkataan seandainya dapat membuka celah perbuatan syaitan.” (HR. Muslim)

Bahkan sebuah ucapan tentang anak-anakku selanjutnya mungkin akan bernasib sama seperti yang telah pergi meski tak membuatku risau, namun menambah rasa sedih yang belum usai. Namun, sungguh Allah telah menenangkan hamba-Nya dengan firman-Nya, “Sesungguhnya bisik-bisik itu untuk membuat sedih orang-orang yang beriman, dan dia tidak akan membahayakan sedikit pun, kecuali dengan izin Allah. [Al-Mujadilah : 10].

Yakin dengan hikmah di balik semua cobaan bagi orang yang bersabar. Mengikhlaskan buah hati yang telah kembali pada-Nya dan yakin dengan janji-Nya.

Dari Abu Musa Al Asy’ari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Jika anak seorang hamba meninggal, Allah berfirman kepada para malaikatNya: Kalian telah mencabut anak hamba-Ku. Mereka menjawab; ‘Ya.’ (Allah Tabaraka Wa Ta’ala) berfirman; ‘Kalian telah mencabut buah hatinya.’ Mereka menjawab; ‘Ya.'(Allah Tabaraka Wa Ta’ala) bertanya: ‘Apa yang dikatakan hamba-Ku.’ Mereka menjawab; ‘Dia memujiMu dan mengucapkan istirja’.’ Allah berkata: ‘Bangunlah untuk hamba-Ku satu rumah di syurga, dan berilah nama dengan Baitulhamd’.”HR. Tirmidzi no.1021 dihasankan oleh al-Albani

Sungguh rasa rindu ini menyeruak kala terbayang kelak Malaikat Kecil kami akan menyambut kedua orangtuanya ini. Bahagialah hati membaca kisah dalam sebuah hadist.

Dari Abu Hassan Radhiyallahu ’anhu, ia berkata:

Saya memberitahu Abu Hurairah, bahwa dua orang anakku telah meninggal dunia. Adakah berita (hadits) Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam yang dapat engkau sampaikan kepadaku yang dapat menyenangkan hati kami berkenaan dengan anak kami yang meninggal itu. Abu Hurairah menjawab: Ada! Anak-anak kecil (yang meninggal) menjadi kanak-kanak surga, ditemuinya kedua ibu bapaknya, lalu dipegangnya pakaian ibu bapaknya – sebagaimana saya memegang tepi pakaian ini – dan tidak berhenti (memegang pakaian) sampai Allah memasukkannya dan kedua ibu bapaknya ke-dalam surga. HR. Muslim no. 2635

Damailah Engkau buah hati kami di taman surga. Semoga Engkau dapat menjadi alasan kami untuk lebih mendekat pada Allah hingga tiba saat bersua kita.

Kediri, 16 Rabiul Akhir 1437