Sabar…. Mungkin Tinggal Sebentar lagi!

1
508
sabar
Oleh : Newisha Alifa

(True Story)

Sabar… Satu kata berjuta makna. Eh, nggak, maknanya cuma satu; yaa… sabar adalah sabar. Penerapannya itu yang banyak dan luassss sekali. Kali ini, saya mau bahas tentang sabar di tengah kondisi yang mendorong kita untuk berbuat sesuatu dengan tergesa-gesa.
Ada dua pengalaman pribadi yang sukses membuat saya sadar, bahwa ketika kita sabar, maka pertolongan Allah akan datang dengan cara-Nya sendiri. Yaa, cara-Nya yang sering kali tak terduga!

#
ANDAI WAKTU ITU KUPILIH RESIGN MENDADAK…
Di antara lima perusahaan tempat saya pernah bekerja, perusahaan keempat ini bisa dikatakan the worst one. Gaji lebih kecil daripada perusahaan ketiga. Lingkungan kerjanya cenderung tidak sehat. Staff perempuannya pada ngerokok seenaknya, tanpa memasang tampang risih atau malu sama yang nggak ngerokok. Tidak ada area yang layak untuk dijadikan tempat shalat selama satu tahun lebih saya bekerja di sana. Bahkan di hari pertama saya menginjakkan kaki untuk interview, sebenarnya saya sudah merasa jijik, hanya dengan melihat kondisi toiletnya yang menurut saya tidak layak untuk ukuran ‘kantor’.

Namun lokasi yang cenderung dekat dengan rumah, juga kewajiban saya untuk melanjutkan kuliah hingga selesai, seolah MEMAKSA saya untuk bertahan di sana. Saya bertekad dalam hati, “Kalo udah lulus … aku bakal langsung hengkang dari sini!”

Seburuk apapun perusahaan ini, biar gimana juga, saya pernah makan dari hasil bekerja di sini. Pun tema tugas akhir yang saya kerjakan, juga mengambil riset berupa data-data perusahaan. Sampai akhirnya, September 2012 saya dinyatakan LULUS kuliah! Horeeeee!

Tanpa menunggu ijazah terbit dan wisuda yang baru akan diselenggarakan bulan Desember-nya, saya pun segera menyebarkan surat lamaran kerja ke berbagai perusahaan. Hingga pada bulan Oktober – Nopember, satu per satu lamaran kerja saya mulai berbuah panggilan interview. Niat saya untuk SEGERA resign dari sana, semakin menjadi-jadi. Saya semakin tidak betah dengan kondisi yang menurut saya tidak baik untuk kejiwaan saya, dan sebenarnya juga untuk karyawan lain.

Our environment can build our character! Terbiasa bergaul dengan orang-orang yang masa bodoh terhadap tata krama, pelan-pelan membuat saya pun jadi terbawa arus. Di sana, saya bisa tanpa rasa bersalah, bersikap tak sopan dengan mereka yang lebih tua. Padahal sebelumnya, saya sangat hati-hati dalam bersikap, terhadap mereka yang usianya di atas saya.

Tibalah satu tawaran kerja yang sangat menggiurkan di daerah Cikarang. Namun syaratnya : SAYA HARUS SEGERA BERGABUNG DI SANA. Mereka tidak berkenan untuk menunggu saya selama sebulan. Paling lama, dua minggu. Kalau tidak, maka calon user akan mencari kandidat baru, begitu kata pihak HR-nya. Sedangkan, peraturan dari perusahaan keempat tempat saya bekerja waktu itu, karyawan yang mau resign tidak bisa kabur begitu aja. Minimal satu bulan setelah pengajuan resign, baru boleh keluar. Karena kan harus ada proses training atau transfer job dulu ke karyawan baru.

Saya gusar bukan main. Rasanya ingin sekali segera kabur! Saya ngerasa nggak perlu surat keterangan pengalaman kerja dari sana. Tapi Allah tidak mau saya bersikap begitu! Allah tidak membiarkan saya untuk lari dari tanggung jawab. Allah tidak menginginkan nama baik saya hancur, karena resign dengan cara yang tidak baik. Seolah-olah tidak punya sopan santun.

Hati yang sebelumnya begitu menggebu-gebu untuk segera bekerja di perusahaan baru tadi, akhirnya berubah, saya menjadi enggan untuk bergabung. Saya kecewa dengan proses rekrutmen mereka yang –menurut saya– tidak profesional dan tidak bisa dipegang omongannya. Ketika dinyatakan diterima, akhirnya saya menolak tawaran tersebut. Padahal gaung bahwa saya akan resign dalam waktu dekat sudah tersebar kemana-mana.

“Gak jadi ku ambil,” kata saya usai menerima telepon dari perusahaan tersebut.
Teman-teman termasuk supervisor saya kontan terperangah. “Kenapa nggak diambil? Sayang tau! Kamu kan udah ngambil cuti beberapa kali buat bolak-balik ke sana,” tutur seorang teman.
Wajah supervisor saya seketika sumringah. “Bagus deh kalo kamu nggak jadi resign. Saya pusing cari pengganti kamu. Tapi iya sih sayang juga. Emang kenapa kok nggak kamu ambil?”

“Aku nggak sreg aja. Bagiku, kalo di awal udah nggak sreg atau meragukan, biasanya kesananya makin nggak ngenakin. Aku mau tempat kerjaku setelah ini bisa bikin gue bertahan lama, Mba. Bukan gak lama, abis itu gue resign lagi.” Saya menjelaskan pada mereka apa alasan saya membatalkan rencana pengunduran diri saat itu.

Saya kembali menunggu dan berusaha melamar pekerjaan kemana-mana sejak Desember 2012. Hingga akhirnya… pada Maret 2013, saya diterima di perusahaan tempat saya bekerja sekarang! Sejak proses interview, calon user yang kini menjadi dua supervisor saya ini, buaiiiik-nya bukan main. Keduanya BERSEDIA menunggu saya selama satu bulan (One month noticed) untuk menunaikan kewajiban saya pada kantor lama, baru kemudian bergabung dengan mereka.

Perusahaan ini lebih bonafit dibanding perusahaan waktu itu. Take home pay (gaji dan tunjangan) yang ditawarkan juga lebih tinggi, selisihnya bahkan hingga satu juta rupiah! Dan lembur pun masih dihitung di luar gaji pokok. Sedangkan di perusahaan yang lama, lembur dianggap sebagai loyalitas. Jadi tidak dihitung lagi sebagai tambahan penghasilan. Saya pun mengajukan surat resign ke Chief Accounting –di atas supervisor– saya.

Selama sebulan saya melakukan training kepada karyawan baru yang akan menggantikan posisi saya. Saya masuk ke sana dengan baik-baik. Pun saya keluar dari sana dengan cara yang baik pula. Saya tunaikan kewajiban yang memang semestinya saya tunaikan. Dan pada akhirnya, hak-hak saya berupa uang cuti, surat paklaring, beserta kartu Jamsostek pun saya dapatkan! Yang terpenting adalah nama baik saya juga terselamatkan!

Seandainya waktu itu saya memilih kabur, maka Jamsostek saya pun tertahan di sana. Karena pihak perusahaan memang sengaja menyimpan kartu jamsostek karyawannya. Pun Jamsostek tidak bisa dicairkan TANPA SURAT PAKLARING dari perusahaan lama. Nama saya juga pasti akan tercemar sebagai orang yang tidak punya sopan santun. Mungkin saya di-blacklist oleh orang-orang di sana, sekiranya suatu saat saya butuh sesuatu dan meminta bantuan mereka.
Saya dilepas dengan senyum oleh rekan-rekan, bos, juga pihak personalia. Diberikan satu dua kado kenang-kenangan. Bisa dibilang saya ‘husnul khotimah’ dari sana. Semuanya terasa indah ketika kita berkenan sejenak untuk bersabar.

#
KALAU SAJA SAYA KELUAR KANTOR SEBELUM BEL ISTIRAHAT BERBUNYI …
Persis kemarin, saya kebagian lembur. Di antara ratusan karyawan, yang lembur di tanggal 2 Januari 2016 hanya sebelas orang.  Saya bersama teman akrab yang satu bagian, berencana makan siang di luar kantor. Kami ingin makan mie ayam Bangka. Apalagi, lidah sudah bosan dengan rasa menu makanan kantin yang itu lagi, itu lagi.

Jam istirahat di hari Sabtu, pukul 12.05. Usai pinjam motor ke karyawan bagian lain, sekitar pukul 11.50an, teman di sebelah saya ini ngajakin supaya segera berangkat. “Udah. Ayo kita jalan sekarang!” ajaknya.
“Tanggung, Mba. Tunggu sampai bel aja. Lagian nggak enak sama yang lain, kalo kita udah istirahat sebelum bel,” sahut saya yang tumben lempeng dan disiplin.
“Yaelah, hari Sabtu ini,” sanggahnya.
“Justru karena ini lagi lembuuurrr. Makanya nggak enak kalo kita semena-mena,” jawabku. Akhirnya dia pun setuju untuk menunggu sampai bel.

Jam 12 lewat, kami mulai beranjak. Karena menurut perkiraan kami, dalam perjalanan menuju parkiran pastilah bel istirahat akan berbunyi. Benar, baru sampai gudang, bel pun berbunyi! Sesampainya di luar gedung, langit ternyata mendung. Seketika terbesit rasa khawatir dalam hati saya, KAYAKNYA MAU HUJAN NIH.
“Enak ya … langitnya adem banget,” ucap teman saya sambil memandangi langit yang mulai keabu-abuan.
“Bakal ujan nggak sih, Mba?” tanya saya padanya. Dia terdiam sejenak, lalu menjawab, “Kayaknya nggak deh.”

Langkah saya yang tadinya semangat, mulai berangsur melambat. Saya berjalan setengah ragu menuju parkiran. Kebetulan si bapak yang saya pinjam motor matic-nya juga mau keluar kantor bersama rekan sebagiannya yang lain. “Hujan nggak yah?” Si bapak melempar tanya pada saya.
“Nggak tahu nih, Pak. Mendung gini. Bikin deg-degan juga,” jawab saya nggak kalah galau.
Belum sempat menemukan motor yang saya cari, sebutir tetes mulai jatuh begitu saja. Saya refleks menadahkan tangan. Rintik-rintik gerimis kembali berjatuhan membasahi tangan dan jilbab saya. Oke fix! Hujannn beneran!
“Yah bener, hujan!” seru teman saya.

Saya pun dengan mantap mengembalikan kunci motor tadi ke pemiliknya. “Yakin nih kamu nggak jadi keluar?” tanya si bapak.
“Yakin, Pak. Hujan begini. Nggak deh,” jawab saya.
Dan beberapa detik kemudian, byaaaaarrrr… Rintik gerimis tadi berubah menjadi hujan deras! Kami bertiga segera berlari menuju security untuk berteduh, sekaligus mengambil menu catering untuk makan siang.

“Ya Allah, Mba. Allah baik banget sama kita, Mbaaaa ….” kataku. Teman saya nyengir. “Iya, ya. Kalo kita keluar, aduuuuh … kehujanan kita. Nggak bisa balik lagi ke kantor.”
Akhirnya kami pun masuk lagi ke area gedung pabrik. Dalam perjalanan menuju meja kerja untuk menyantap menu makan siang, samar-samar terdengar suara hujan semakin menderas disertai petir yang berdentum-dentum. Tak lupa saya lafazkan doa ketika hujan turun, ‘Allahumma shoyyiban nafii’an’. Dan tak henti-hentinya pula saya mengucapkan rasa syukur, karena Allah telah melindungi kami dari takdir kehujanan, yang pastinya akan menyusahkan kami nantinya. Kalau nggak basah kuyup pas balik ke kantor, ya berarti kami nggak bisa balik lagi deh, buat ngelanjutin pekerjaan yang belum selesai semua.

Hujan semakin menderas. Seingat saya, sekitar jam dua sampai setengah tiga, hujan baru berhenti. Sekali lagi, Allah Menunjukkan Kuasa-Nya pada saya. Betapa Dia selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang memilih bersabar dengan kebaikan dari sisi-Nya. Inilah bukti kebersamaan Allah bagi orang-orang yang bersabar!

#
Dua cerita saya di atas hanya bagian sederhana dalam kehidupan ini. Namun sejatinya, kesabaran juga bisa menyelamatkan banyak nyawa! Misalnya, mereka yang memilih MENEROBOS palang pintu saat kereta api akan datang. Benar memang, kita sebagai seorang muslim tidak boleh berandai-andai, karena seolah tidak ridha dengan Ketetapan Allah. Namun kita sangat dianjurkan untuk merenungi segala apa yang terjadi. Bukan sebagai bentuk ketidakridhaan, tapi sebagai bahan renungan dan pelajaran di masa yang akan datang. Jika para pengendara, mau bersikap disiplin. Bersedia menunggu sebentaaaaaaar sajaa… Entah berapa nyawa yang akan terselamatkan dari kecelakaan tragis.

Begitu pula dengan hal lainnya …
Jika kita mau bersabar sedikiiiitt saja, entah marabahaya apa yang akan Allah hindarkan dari kehidupan kita. Baik itu yang sifatnya sederhana seperti cerita saya di atas, maupun untuk hal-hal yang lebih serius, seperti hidup dan matinya seseorang.

Semoga waktu Anda tidak terbuang sia-sia dengan membaca tulisan saya yang sangat panjaaaaaaaaang ini. Terima kasih.

Bekasi, 3 Januari 2016