Pentingnya Mendidik Anak Sejak Usia Dini

2
360
anak kecil

WahidNews, Ada suatu kisah, seorang anak kecil sebut saja Ahmad di ajak oleh ayahnya main ke suatu kebun. Di sana mereka berdua berkeliling mengelilingi seisi kebun, melihat tanaman-tanaman yang ada dalam kebun tersebut. Di suatu tempat dimana Ahmad melihat salah satu pohon bunga mawar yang bengkok, maka terjadilah perbincangan diantara keduanya. Ahmad menanyakan, wahai ayah mengapa tangkai mawar ini bengkok padahal yang lainnya tumbuh bagus. Ayah menjawab, ini terjadi karena orang yang merawat kebun ini tidak merawatnya dengan bagus sejak kecil, andaikata sejak kecil dulu tangkai bunga mawar ini diluruskan sekarang pasti akan tumbuh lurus. Begitulah kurang lebihnya perumpamaan yang telah dituliskan dalam kitab Ahklaqul Banin karangan Umar ibnu ahmad terhadap pentingnya mendidik anak semenjak kecil atau usia anak-anak.

Kadang kita miris melihatnya, banyak disekitar kita orangtua yang kurang memperhatikan pendidikan anak-anaknya, khususnya pendidikan agama. Bahkan di dunia yang serba modern ini, banyak dari orangtua yang salah dalam memperlakukan dan memperhatikan si anak. Mereka memfasilitasi benda-benda yang sebenarnya anak belum membutuhkan atau tidak terlalu membutuhkan benda tersebut, misal Handphone. Mereka memahami itu sebagai wujud kasih sayang, namun bisa jadi itu akan menjadi boomerang bagi si anak sendiri yang dampaknya akan sampai kepada orangtua. Hal inilah yang mendasari bahwa orangtua harus mengetahui cara yang benar mendidik anak dan memberikan pendidikan yang benar kepada anak.

Dalam QS. Lukman ayat 13, pendidikan pertama yang harus orangtua ajarkan pada anaknya adalah mentauhidkan Allah “dan (ingatlah) ketika Lukman berkata pada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran padanya, hai anakku jangan engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar” (QS. Lukman:13)

Mengajarkan birul walidain atau berbakti pada kedua orangtua ”Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kedua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Lukman:14). Dalam QS:16 Lukman anak juga diajarkan untuk bertanggung jawab dari apa yang dikerjakannya, karena setiap amal yang dikerjakan akan dimintai pertanggungjawaban kelak.

Dalam QS. Lukman juga dikatakan orangtua harus mengajarkan anaknya untuk mengerjakan sholat. Islam sendiri mengajarkan untuk mengajarkan anak sholat ketika berumur 7 tahun, dan pukulah anak jika di umur 10 tahun belum mau mengerjakan sholat, memukul disini sebatas untuk memberinya pelajaran akan pentinya sholat dan bisa dipahami sebagai orangtua harus benar-benar mendidik, memotivasi agar anak mau mengerjakan sholat. Dalam hal ini Nabi Saw bersabda :
مرو ألادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سنين, واضربوهم عليها وهم أبناء عشرسنين, وفرّقوا بينهم في المصاجغ
“Perintahkanlkah anak-anakmu mengerjakan sholat ketika mereka berumur tujuh tahun, pukullah mereka (jika tidak mengerjakannya) ketika berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka (HR. Abu Daud)

Mengajarkan pendidikan sejak kecil akan mempengaruhi karakter anak ketika telah dewasa bahkan ketika menginjak usia tua. Toh, mendidik anak adalah kewajiban kita selaku orangtua, sebagai mana hadits yang diwayatkan oleh Ibnu Majah
أكرمواأولادكم وأحسنوا أدبهم
“Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah akhlak mereka” (HR. Ibnu Majah)

Usia anak-anak akan lebih mudah menyerap apa yang diajarkan padanya, mempunyai daya ingat yang sangat tinggi, dsb. Dari kisah Ahmad yang diceritakan di depan, Itu menandakan kebiasaan baik/ karakter baik seseorang tidak mudah kita tanamkan secara instan, harus melalui proses panjang yang akan menimbulkan kebiasaan. Mari sedini mungkin kita kenalkan anak pada pencipta-Nya, kewajiban-kewajibannyanya, cara membedakan baik dan buruk agar anak-anak kita tidak bengkok (tidak hidup dalam jalan-Nya) dan mereka menjadi manusia-manusia lurus yang akan memberikan kebaikan kepada kita selaku orangtua.

by : Sarah Ufaira