Mewaspadai Gerakan Ghazwul Fikri

1
673
perang pemikiran

Oleh : Afdalil Zikri

WahidNews, Topik atau tulisan tentang Ghazwul Fikri telah sering dibahas dalam berbagai kegiatan seperti seminar, diskusi ataupun dibahas dalam mata kuliah di perguruan tinggi agama Islam. Walaupun sudah sering dibahas tapi saya merasa tertarik untuk mencoba menulis kembali tentang topik Ghazwul Fikri. Ini beranjak dari kegelisahan saya tentang betapa dahsyatnya para kaum sekuler atau anti Islam melancarkan gerakan ini dan dampak yang ditimbulkannya.

Menurut bahasa Ghazwul Fikri terdiri dari dua suku kata yaitu Ghazwah dan Fikr. Ghazwah berarti serangan, serbuan atau invansi sedangkan Fikr berarti pemikiran. Jadi, menurut bahasa Ghazwul Fikri diartikan sebagai invansi pemikiran. Secara istilah dapat diartikan bahwa Ghazwul Fikri adalah penyerangan dengan berbagai cara terhadap pemikiran umat Islam guna merubah pemikiran umat Islam untuk lagi mempedomani ajaran Islam yang benar karena telah tercampur aduk dengan hal-hal yang tidak Islami.

Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa Ghazwul Fikri adalah upaya yang dilakukan oleh orang yang anti Islam untuk merubah pemikiran umat Islam agar tidak sesuai lagi dengan apa yang ada di dalam Al Quran dan Hadits. Upaya yang mereka lakukan itu dalam berbagai bidang diantaranya bidang pendidikan, ekonomi, sosial, media massa, hiburan, yayasan atau LSM.

Mengapa mereka melancarkan Ghazwul Fikri? Mereka yang anti Islam memahami bahwa segalanya telah mereka lakukan untuk melumpuhkan umat Islam dan menyimpulkan bahwa kehancuran kaum muslimin tidak bisa dilakukan dengan melakukan perang fisik. Karena dalam Islam ditegaskan dengan jelas konsep jihad fisabilillah, dengan konsep ini umat Islam tidak akan mungkin dikalahkan dengan peperangan fisik. Mereka yang anti Islam mencari cara untuk dapat memerangi kaum muslimin yaitu dengan cara yang soft yaitu dengan perang pemikiran. Penyerangan yang dilakukan dalam bentuk pikiran, tulisan, ide-ide, teori, propaganda dan argumentasi.

Cara ini merupakan bagian dari upaya mereka untuk memurtadkan kaum muslimin ataupun paling tidak untuk mendangkalkan aqidah dan akhlak kaum muslimin agar tidak lagi berpedoman kepada Al Quran dan Hadits. Sasaran dari Ghazwul Fikri ini adalah pola pikir, aqidah dan akhlaq. Dari berbagai literatur yang ada bahwa umat Islam telah banyak dirasuki pola pikir sekuler, komunis ataupun materialis. Ini tidak dapat dipungkiri bahwa buku-buku tentang paham-paham sekuler, komunis ataupun materialisme sangat banyak beredar di tengah-tengah masyarakat. Ini berkebalikan dengan buku-buku tentang Islam. Kalaupun ada buku-buku tentang Islam jumlahnya pun sangat sedikit.

Dalam menjalankan aksi Ghazwul Fikri ini mereka menggunakan beberapa metode, beberapa metode yang mereka lakukan itu antara lain menurut beberapa pakar adalah:
1.Tasywih, yaitu pengaburan. Ini adalah upaya untuk menghilangkan kebanggaan kaum muslimin terhadap Islam. Ini sudah terjadi, mereka membuat propaganda dengan menyebut Islam adalah agama teroris, kaum fundamentalis, pelaku bom bunuh diri, pemikiran umat Islam sempit dan hanya berorientasi akhirat. Mereka berupaya melakukan pengaburan akidah umat Islam bahwa Islam adalah agama yang susah mencapai tingkat kejayaan karena hanya memikirkan tentang syariat, ritual, dosa, pahala dan susah mencapai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ini dengan tujuan bahwa umat Islam tidak lagi bangga dengan agamanya.

2.Taghrib, atau pembaratan. Dari defenisi ini dapat dipahami bahwa ini adalah upaya mendorong umat Islam untuk meniru gaya hidup, budaya, pendidikan ala barat. Mereka menanamkan kepada generasi muda Islam bahwa hidup yang lebih modern adalah gaya hidup ala barat. Gaya hidup seperti yang diajarkan oleh Islam adalah kuno dan tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman. Film, musik, makanan yang lebih modern itu adalah berasal dari barat tak peduli itu halal atau haram yang penting mengikuti gaya barat. Ini bertujuan agar nilai-nilai Islam yang kita anut kering dalam jiwa kita. Firman Allah SWT dalam Surat An Nisa ayat 4 yang artinya
“mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu semua menjadi sama (dengan mereka)…

3.Tasykik, atau menimbulkan keragu-raguan dan pendangkalan dalam jiwa kaum muslimin terhadap agamanya. Yang menjadi sasaran jelas sekali adalah sumber hukum Islam yang utama yaitu Al Quran dan Hadits. Mereka melancarkan aksi dengan mempertanyakan apakah Al Quran yang ada sekarang itu memang benar-benar asli atau orisinal agar kaum muslimin tidak lagi mengkajinya.
“mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian hingga kalian murtad dari agama kalian jika mereka mampu (Q.S. Al Baqarah : 217)

Semua metode di atas tidak akan terlaksana tanpa sarana. Lalu dengan apa mereka melakukan Ghazwul Fikri. Pertama, melalui pers atau media massa. Tidak dipungkiri bahwa saat ini media menempati urutan teratas dalam pembentukan opini publik. Melalui kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi dari berbagai belahan dunia dengan cepat dapat kita akses baik melalui TV, radio ataupun internet. Mereka berupaya membentuk opini sesat yang tanpa didukung oleh fakta-fakta yang ada. Pemberitaan yang dikemas sedemikian rupa untuk memojokkan umat Islam. Kita lihat saja teror bom yang terjadi akhir-akhir ini di beberapa negara termasuk Indonesia dengan mudah mengatakan bahwa pelakunya cenderung dari umat Islam.

Padahal Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi sekalian alam). Bahkan ada pernyataan bahwa mereka sengaja membuat sebuah drama teror bom yang seolah-olah pelakunya adalah umat Islam. Ini bertujuan agar Islam makin dibenci di berbagai belahan dunia. Kedua, melalui pendidikan. Pendidikan adalah upaya yang bisa menimbulkan dampak yang jelas. Generasi Islam diberi kesempatan untuk mencicipi pendidikan diluar negeri (baca:barat). Mereka diajarkan paham-paham sekuler, sosialis atau materialis yang bertentangan dengan Islam sehingga setelah tamat mereka menjadi pemikir-pemikir sekuler, sosialis ataupun meterialis dengan menganggap bahwa pemikiran Islam tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Ketiga. Sosial, mereka menanamkan prinsip toleransi yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Masih segar di ingatan kita bahwa suara adzan dengan menggunakan pengeras suara dilarang dengan alasan mengganggu kenyamanan umat agama lain adalah bentuk Ghazwul Fikri. Dasar mereka mengatakan bahwa menjalankan agama cukup pribadi dengan Tuhan yang tahu. Bukan mengatasnamakan kaum mayoritas yang hidup di bumi pertiwi ini tapi masalah toleransi, toleransi seperti apalagi yang mereka inginkan dari umat Islam?

Ketiga hal di atas hanya beberapa dari banyak sarana yang mereka gunakan dalam Ghazwul Fikri dan masih banyak lagi bidang lainnya tapi saya membatasi hanya pada tiga bidang tersebut. Lalu setelah tahu tentang Ghazwul Fikri ini apa yang dapat kita lakukan dalam menangkalnya. Kita harus pandai mengenali musuh dan meningkatkan kualitas keimanan dan kepribadian kita, kritis dalam menyaring informasi dan mengkaji lebih dalam lagi Al Quran dan Hadits. Jadilah muslim yang kaffah dan tidak malu menampakkan identitas kita sebagai Muslim agar tidak mudah dipecah belah dengan invansi pemikiran yang mereka lakukan. Hanya kepada Allah aku berserah diri.