Meraih Keajaiban Usai Sedekah

1
365
kisah sedekah

Oleh: Anna Jameela

10 September 2012

Tanggal itu adalah hari yang paling bersejarah dalam hidup saya. Yakni  menanti kelahiran anak kedua saya. Kini dia udah besar, usianya sudah hampir dua setengah tahun.
Berdasarkan HPL (hari perkiraan lahir), seharusnya tanggal sembilan, saya harus sudah melahirkan. Tapi hingga tanggal sepuluh masih belum ada tanda-tanda melahirkan.

Akhirnya, malam harinya, tepat usai sholat Maghrib, saya ditemani suami kontrol ke dokter spesialis kandungan, untuk USG dan mengetahui apakah bayi dan air ketuban masih baik-baik saja.
Setelah dilakukan pemeriksaan, atas saran dokter, saya di stripping. Walaupun kondisi bayi sehat, air ketuban baik, semua normal, namun dokter ambil tindakan akan dibuat jalan lahir, hingga pembukaan dua.

Kata dokter, jika selama seminggu tidak ada tanda-tanda pembukaan tambahan, maka jalan terakhir adalah dibelah alias operasi.

Pulang USG, saya menuju Rumah Bersalin, menceritakan kepada bidan yang akan menangani saya saat persalinan nanti. Setelah diskusi, kami pun memutuskan menginap, jaga-jaga dan khawatir pembukaan akan bertambah pada tengah malam, mengingat jarak rumah dan tempat bidan ini lumayan jauh. Bidan mengatakan, kasus seperti saya banyak  terjadi. Ada yang bertambah pembukaannya, ada yang tidak, tapi biasanya kasus stripping tiga hari bayi baru lahir, walaupun ada yang cepat tapi jarang terjadi.

Hingga tengah malam bidan bertanya, apakah sudah terasa his/kontraksi?. Saya jawab belum, karena memang saya tidak merasakan apa-apa. Yang aneh dari kehamilan saya ini adalah sudah lewat hari H kok kepala bayi belum masuk jalan lahir juga. Bahkan saat bidan memeriksa dengan memasukan jari pun kepala bayi tidak tersentuh sama sekali. Masih tinggi, kata bidannya. Hingga masuk waktu sebelum Subuh, saya merasakan sakit yang teramat sangat disertai cairan putih dan bercak darah yang keluar sedikit demi sedikit.

Saat diperiksa, bidannya mengatakan masih belum, baru pembukaan dua setengah. Saya sedikit shock, karena di pembukaan yang masih sedikit pun, sakitnya sudah luarbiasa. Padahal harapan saya segera pembukaan tujuh atau delapan.
Jam tujuh pagi

Bidan yang menangani saya pamit berangkat kerja ke Rumah Sakit, saya dijaga dua asisten beliau yang memang sudah profesional.
Tapi sebelum berangkat beliau menengok ke kamar seraya berkata,
“Gimana, Mbak? Sakitnya masih bertambah atau masih sama?”

“Masih sama, Bu.”
“Ya sudah. Aku tinggal dulu ya, nanti ada bidan lain yang jaga, tenang  aja, mereka sudah pengalaman semua, nanti kalau sudah pembukaan lengkap, mereka telpon saya. Biasanya kasus stripping itu mbak ada yang sampai satu minggu bahkan lebih, paling cepat tiga hari.”

Mendengar penuturan bidan  tersebut, saya semakin shock. Dalam kondisi menahan sakiit yang teramat sangat, saya harus mendengar sebuah pengakuan paling cepat tiga hari.
Saya mencoba menguatkan diri sendiri, meyakinkan bahwa anak saya pasti lahir pagi ini juga atas ijin Allah.

Saya optimis dengan berkata lirih dalam hati.

“Tiga hari itu kata bidan, bukan kata Allah!”
Saya membangun pikiran positif bahwa Allah sesuai prasangka hamba-Nya.

Di tengah konflik batin yang mendera, saya dekati suami dan berkata lirih,
“Mas, keluar deh, cari Mesjid terdekat, kita  infaq, gak papa niatin aja semoga Adek lahiran pagi ini juga, paling cepat tiga hari itu kata manusia, bukan kata Allah!”

Saya meyakinkan suami yang kala itu juga gundah kalau sampai harus menanti waktu selama itu, sementara istrinya terlihat meringis menahan sakit.

Selama suami keluar, saya terus menerus membaca do’a Nabi Yunus ketika berada dalam perut ikan Nun. Berucap lirih, sembari shalawat serta istighfar.
Ketika sakit kembali mendera saya berdzikir, dan terus berdo’a.

Singkat cerita.

Tepat pukul sembilan pagi, saya sudah tidak kuat, ternyata pembukaan sudah lengkap, yakni pembukaan delapan. Ketuban pecah.
Saya masuk ruangan tindakan.

Tepat pukul setengah sepuluh pagi itu juga, anak kedua saya lahir.
Alhamdulillah…. Allahuakbar…..

Bidan mengatakan  tidak percaya saat dihubungi asistennya, bahwa saya sudah pembukaan lengkap. Karena memang kebanyakan kasus seperti saya, kalau tidak lahirnya seminggu dan paling cepat tiga hari atau caesar.

“Saya malah menyangka tiga hari lagi Mbak, melihat lambatnya pembukaan serta kasus seperti ini langka, tadi jam tujuh pagi saya berangkat, jam sembilan sudah pembukaan lengkap. Termasuk cepat sekali proses lahirannya.” Begitu penuturan bidannya.

Kadang hal yang tidak mungkin dan di luar nalar manusia bisa saja terjadi apabila Allah berkehendak. Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Kun Fayakun!

Di samping itu perbanyaklah sedekah. Karena Allah mencintai hamba-Nya yang murah hati serta lapang dalam memberi.

Semoga Allah senantiasa memudahkan kita dalam melakukan sedekah dan kebaikan-kebaikan lainnya. Aamiin ya Mujibasailin!