Menuju Akhirat Melalui Hati

1
156
indahnya dunia

Oleh : Dini Hartati

Kalbu atau yang lebih dikenal dengan hati mempunyai banyak makna bagi sang pemiliknya. Hati bisa membuat suatu kebaikan ataupun keburukan. Karna dengan hati akan timbul lah suatu niat yang kemudian akan terrealisasikan dalam suatu perbuatan, jika niat yang tertanam dalam hati baik maka beruntunglah si pemilik hati tetapi sebaliknya jika niat dalam hati buruk dan ia mengikuti kata hati nya maka merugilah ia.

Rasulullah SAW bersabda, ”Ketahuilah bahwa dalam tubuh ini ada segumpal daging, jika ia baik maka seluruh tubuh akan baik pula, dan jika ia rusak maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah bahwa itu adalah kalbu.” (HR Muslim).

Imam Al-Bukhari juga telah meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Telah ditakdirkan bagi anak Adam baginya dari zina yang pasti akan ia lakukan dan tak bisa dihindarinya. Adapun mata maka zinanya adalah melihat, zinanya telinga adalah mendengar, sedangkan zinanya lidah adalah berbicara dan zinanya tangan adalah menyentuh, dan zinanya kaki adalah melangkah, sedangkan zinanya hati adalah membayangkan dan berangan-angan, adapun yang akan membuktikannya atau akan mendustakannya adalah kemaluan.”

Hadist ini menjelaskan kepada kita bahwa segumpal daging atau hati sangat berpengaruh dengan perbuatan yang akan kita lakukan. Hati merupakan kunci kebaikan. Dengan hati yang baik, maka seluruh anggota tubuh kita pun akan baik. Sebaliknya, jika hati yang kita miliki buruk, maka buruklah seluruh perbuatan kita. Kita sering terlena dan seakan lupa bahwa Allah telah menganugrahkan hati kepada setiap manusia, dan kita sering sekali lupa bahwa dengan hati yang bersih bisa dekat dengan akhirat.

Ada apa dengan hati?

Memahami betapa pentingnya hati agar dapat dekat dengan akhirat, maka perlu bagi kita membaca sabda Rasulullah SAW yang menjelaskan kepada seluruh umat manusia bahwa hati merupakan raja. Apabila ia baik maka seluruh anggota tubuh nya akan baik begitu pula sebaliknya. Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya yang halal dan haram telah jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara yang masih samar yang tidak banyak diketahui orang, maka barang siapa yang berhati-hati dengan hal-hal yang syubhat berarti ia telah bersih agama dan kehormatannya. Sedangkan siapa saja yang terjerumus dalam hal-hal yang syubhat, berarti ia telah terjerumus ke dalam yang haram, seperti penggembala yang tengah menggembala di sekitar pagar yang hampir saja ia langgar. Ketahuilah bahwa setiap raja itu mempunyai pagar yang tidak boleh dilanggar. Ketahuilah bahwa pagar Allah di muka bumi adalah perkara yang haram. Ketahuilah bahwa dalam tubuh ini ada segumpal daging, jika ia baik maka seluruh tubuh akan baik pula, dan jika ia rusak maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah bahwa itu adalah hati. ” (HR Muslim).

Berdasarkan hadist tersebut di atas, dapat kita ambil pelajarannya, bahwa sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kita tentang hal yang halal dan hal yang haram, dan diantara keduanya ada perkara-perkara yang masih samar atau syubhat. Hanya hati yang bersih yang dapat melihat mana perkara-perkara yang halal dan yang haram ataupun syubhat. Oleh sebab itu, hati dapat dikatakan sebagai raja, yang apabila ia baik maka seluruh anggota tubuh akan baik. Dengan hati, kita juga dapat melakukan suatu perbuatan yang baik atau buruk yang dapat mendekatkan diri kita menuju akhirat.

Bagaimana mencari hatimu?

Ibnu Mas’ud radiallahu ‘anhu  berkata, “Carilah hatimu pada tiga keadaan, yaitu ketika mendengarkan bacaan Al-Qur’an, tatkala berada di majelis dzikir, dan ketika menyendiri menghadap Allah. Jika engkau tidak mendapati hatimu di tiga tempat ini, berarti kamu harus memohon kepada Allah agar menganugrahkan hati kepadamu, sebab sama saja engkau tidak punya hati.”

Kita sering mendengar bacaan Al-qur’an, tetapi tidak semua orang yang mendengarkan bacaan yang suci nan merdu bergetar hatinya. Begitu juga tatkala kita menghadiri majelis dzikir, banyak diantara kita yang tak tersentuh hatinya, tetapi bagi yang beriman akan dengan khusyuk menutup mata, menghayati bacaan, hingga banyak yang meneteskan air mata. Beruntunglah jika kita memiliki hati ini, dan yang terakhir ketika menyendiri menghadap Allah. Banyak diantara kita ketika sedang sendiri merasa jauh dari pengawasan Allah, tanpa sadar membuat hati ini seperti mati.

Penyakit hati

Hati juga dapat memiliki penyakit, sebagaimana disinggung di dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman, ”Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Al-Baqarah:10).

Penyakit hati berupa hati yang mati, sakit dan keras membatu, berada dalam kondisi sebagaimana yang telah Allah pertanyakan melalui firman-Nya, “Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya (untuk) menerima agama Islam, lalu ia mendapat cahaya dari Rabb-nya (sama dengan orang yang membantu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang membatu hatinya untuk menginggat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (Az-Zumar: 22).

Firman Allah yang lain menyebutkan, “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar, karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (Al-Hajj: 46).

Banyak yang tidak mengetahui bahwa penyakit hati yang sering kita alami ialah ketika hati kita telah membatu. Hal ini sering kita lihat dan bahkan sering kita alami di dunia yang fana ini, misalnya ketika nasihat baik yang kita tolak, bahkan sulit nenerima masukan yang positif. Hati seakan  membatu untuk tidak bisa menerima saran dan pendapat orang lain.

Banyak diantara manusia yang hatinya membatu ketika dinasihati akan hal yang salah yang dapat menambah dosa-dosa. Tak jarang pula kata-kata kasar sering kita dengar di sekeliling kita, atau kita pernah mengatakan kata-kata yang kasar, tetapi hati tetap tenang dan merasa itu benar. Pada keadaan demikian, sebenarnya hati kita mulai membatu hingga tidak dapat merasakan hal-hal yang salah. Penyakit hati yang membatu ini telah dijelaskan dalam Al-Qur’an yang menggambarkan kondisi ini sebagaimana yang telah Allah firmankan.

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal, di antara batu-batu itu sungguh  ada yang mengalir sungai-sungai darinya, dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air darinya, dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. ” (Al-Baqarah: 74)

Banyak penyakit hati yang telah kita tahu, bahkan sering terjadi dalam diri sendiri. Jika kita tidak mau bertaubat, kita akan memiliki hati yang kelam atau gelap gulita, serta tidak ada cahaya di dalamnya. Ini diumpamakan seperti ruang kosong yang hanya ada diri sendiri. Tatkala merasa sendiri dikala keramaian, merasa frustasi, bahkan ada yang hanya mengalami hal-hal yang kecil tentang kehidupan langsung menganggapnya sebagai masalah besar dan merasa jauh dari Allah. Ia tidak menyadari bahwa Allah sangat dekat dengan urat nadinya. Banyak kasus di kehidupan nyata dimana orang yang sudah membatu hatinya, tega membunuh saudaranya, bahkan ada yang melakukan tindakan yang sangat tercela jauh dari ajaran agama Islam. Sungguh, Allah akan mengunci hati mereka yang tidak ingin bertaubat. Ketika hati telah terkunci, maka hati telah mati.

Al-Qur’an menjelaskan, “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata, (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga, (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Al-A’raf: 179).

Ini juga menginggatkan kisah di zaman Nabi Musa, sebagaimana dituturkan oleh Al-Qur’an, “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, ‘Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, sedang kamu mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah kepadamu.’ Maka takkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.”  (Ash-Shaff: 5)

Mengobati hati yang telah mati

Al-Qur’an telah memberitahukan kepada kita tentang adanya penyakit yang sangat berbahaya yang tertanam di dalam hati. Tentunya Allah juga memberitahukan kepada kita tentang obat yang manjur untuk melawan penyakit hati. Obat itu disampaikan melalui lisan Rasul-Nya, ”Sesungguhnya, iman itu akan usang di dalam hati salah seorang dari kalian sebagaimana usangnya kain, oleh sebab itu mintalah kepada Allah agar memperbaruhi iman yang ada di dalam hati kalian.” (HR Ath-Thabrani di dalam Al-Kabir dan dishahihkan Al-Albani)

Hadits yang lain menyebutkan doa Rasulullah SAW, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan pendengaranku, dan kejahatan penglihatanku serta kejelekan lisanku dan dari kejahatan hatiku dan dari kejelekan kematianku.” (HR Abu Dawud, Al-Hakim, dan dishahihkan Al-Albadi)

Rasulullah SAW juga berdoa“Dan bersihkanlah hatiku dari kotoran-kotoran sebagaimana dibersihkannya baju yang berwarna putih dari kotoran, dan jauhkanlah aku dari kesalahan-kesalahan sebagaimana engkau telah menjauhkan antara timur dan barat.” (Muttafaqun ‘alaih).

Kebaikan dan keburukan yang akan dilakukan hati.

Imam Muslim meriwayatkan bahwa Nuwas bin Sam’an berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kebaikan dan kejahatan. Beliau SAW bersabda, “Kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan kejelekan adalah semua yang mengganjal di dalam hati dan kamu tidak suka kalau perbuatan itu diketahui oleh manusia. (HR Muslim).

Hati yang hidup dapat mengantarkan kita melakukan perbuatan baik. Perbuatan baik yang dimaksud diantarannya kita dapat mengambil manfaat Al-Qur’an karena hanya hati yang hiduplah yang dapat mengambil manfaat Al-Qur’an, serta bersedia menerima petunjuk. Sedangkan keburukan yang dapat dilakukan oleh hati ialah meninggalkan kewajiban, seperti meninggalkan shalat dan ibadah-ibadah lainnya karena alasan-alasan yang tidak dapat diterima secara syar’i.

Kita dapat lebih dekat dengan akhirat, dengan mengetahui hati. Apabila seseorang menjadikan urusan akhirat sebagai tujuan yang dicarinya, maka Allah akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya, seperti yang telah dijelaskan dalam hadits Anas bin Malik, bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan yang dicarinya, maka Allah akan menjadikan kekayaannya berada dalam hatinya dan akan mengumpulkan urusan-urusannya yang terpencar-pencar serta akan mendatangkan dunia kepadanya dalam kondisi hina, dan barangsiapa yang menjadikan dunia  sebagai tujuan hidupnya, maka Allah akan menjadikan kemiskinannya  berada di depan matanya dan kekuatannya akan terpecah sehingga dunia yang ia cari tidak akan pernah mendatanginya selain apa yang telah ditetapkan untuknya. (HR At-Tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani)

Wallahu a’lam.