Mengapa Kita Harus Belajar?

1
284
pentingnya belajar
Oleh: Ahmad Yusuf Abdurrohman

***

“Mengapa kita harus belajar?”
Mungkin, itulah salah satu pertanyaan yang muncul dari lisan para pelajar yang belum memahami dengan benar apa yang diharapkan dari proses belajar.
Atau mungkin, ada di antara kita juga ada yang belum memahaminya. Meskipun, tiga lembar ijazah mulai dari SD sampai SMA telah kita miliki.

Pernahkah dirimu merasakannya, Kawan?
Merasa apa yang dipelajari beberapa tahun tak berdampak banyak bagi kehidupanmu?

Jika itu terjadi padamu, cobalah dirimu merenung lebih dalam lagi. Mungkin itu karena dahulu niat yang ada dalam kalbu bukan karena Allah. Bukan ikhlas mengharapkan ridho-Nya. Hanya sekedar tuntutan dari kedua orang tua, saudara, dan orang terdekat kita.

Bukankah sejak dahulu kita sudah diajarkan bahwa semua amalan atau perbuatan yang kita lakukan semuanya tergantung dengan niatan yang ada dalam kalbu?

Marilah kita menyimak kembali apa yang dahulu pernah dipesankan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” [1]

Itulah mengapa, dalam belajar dan menuntut ilmu kita harus kembali membenahi niat yang ada dalam kalbu sebelum memulainya. Karena, jika kita meniatkan agar memperoleh ridho Allah maka itu akan bernilai ibadah. Serta, akan dihitung sebagai amal shalih yang bisa mendekatkan kita menuju jalan surga-Nya.

Kita perlu mengingat kembali apa yang Rasulullah ucapkan tentang seorang penuntut ilmu.

“Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” [2]

Ini adalah salah satu hadits yang menjelaskan bahwa menuntut ilmu adalah salah satu jalan yang mendekatkan kita menuju surga-Nya yang abadi.

Maka, maukah kita menempuh jalan menuju surga itu? Jawabannya ada pada diri kita sendiri. Karena, Allah sudah menyediakan jalannya. Tinggal kita mau menempuhnya atau tidak.

Sebenarnya, banyak jalan yang bisa kita tempuh untuk mendapatkan ilmu. Terutama, di zaman ini sudah banyak media yang bisa memudahkan kita untuk mendapatkan ilmu. Artikel tentang keislaman sudah banyak yang tersebar luas. Namun, kita harus menyaring yang benar-benar sesuai dengan aqidah salafusshalih. Yang dengannya kita akan benar-benar menempuh jalan yang lurus menuju ridho-Nya.

Tahukah dirimu, Kawan?
Segala sesuatu dalam hidup ini memerlukan ilmu. Tak ada satu pun yang berlepas diri dari ilmu. Mulai dari perbuatan yang sederhana, sampai perbuatan yang sulit. Mulai dari yang berhubungan dengan perkara dunia, sampai yang berhubungan dengan perkara akhirat.

Maka tak heran, jika Imam Syafi’i berkata, “Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka hendaknya dengan ilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaknya dengan ilmu. Barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka dengan ilmu juga.” [3]

Sudah jelas, semua hal memerlukan ilmu sebelum memulainya.
Hal ini juga yang dijadikan istilah masyhur dalam istilah para penuntut ilmu, “Al ilmu qabla qauli wal amal. Ilmu itu, (didahulukan) sebelum ucapan dan amalan.” [4]

Maka, hendaklah menuntut ilmu menjadi prioritas utama bagi kita semua. Selagi ruh masih bersatu dengan jasad kita. Selagi nafas masih berhembus. Selagi masih ada waktu dari usia kita.

Semoga Allah memberikan berkah bagi ilmu yang kita miliki, serta memberikan kemudahan bagi kita semua untuk melaksanakan dan mengajarkannya pada orang lain. ^^

***

Referensi:

[1]  HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits

[2] HR Muslim

[3] Perkataan Imam Syafi’i

[4] Judul Bab dalam Kitab Hadits Bukhari

***

Jakarta, 25 Januari 2016