Mengalah Demi Cinta

1
349
karena cinta

Oleh : Anna Jameela

Saya pernah membaca buku kisah sepasang suami istri yang baru menempati rumah baru mereka. Sang suami sangat menyukai warna biru sementara sang istri menyukai warna hijau. Terjadi perbedaan pendapat antar keduanya.

“Ma, warna tembok kita ‘kan krem, lebih cocok kalo dipasang gorden warna biru,” kata sang suami.

“Papa ini bagaimana sih, hijau dong, Pa. Biar keliatan seger, lebih cerah, gak norak,” jawab sang istri.

“Mama tuh yang norak, masa hijau. Jelek yang ada, bukannya cerah, Ma.”

“Ih, Papa! Papa tau apa sih tentang mode. Aku ini perempuan, Pa. Aku lebih paham tentang fashion dan interior. Jadi urusan rumah tangga itu urusanku. Papa bukan itu bagiannya, urus aja urusan yang lain.” Sang istri tidak mau kalah, merasa paling benar.

“Loh, kamu gak boleh gitu donk, Ma! Aku ini kepala rumah tangga, aku ini pemimpin, aku yang berhak mengatur segalanya, termasuk kamu. Kamu jangan membantah apa kata suami, ya! Aku bilang warna biru ya biru. Itu lebih cocok! Paham?!” Suara sang suami meninggi, setengah membentak merasa harga dirinya diinjak sebab dianggap tidak mengerti mode dan fashion.

Sang istri yang lembut perasaannya pun terdiam usai dibentak, ia tertunduk, dan menitikkan airmata. Sang suami yang melihat istrinya menangis tiba-tiba menjadi iba, ia mendekati sang istri, menggenggam tangannya, lalu dengan lirih berbisik di telinga istrinya, “Ma’afin papa ya, Ma. Tadi bicaranya agak keras sama mama. Papa menyesal. Mama memang benar, warna hijau memang lebih cocok daripada warna biru. Pokoknya, urusan interior rumah, papa serahin ke Mama deh, ma’afin ya, papa sayang sama Mama.” Sang suami pun memeluk istrinya.

Sang istri menjawab, “Papa nggak salah, kok. Mama yang salah, mama egois, Papa benar, warna biru lebih bagus dipasang di sini daripada warna hijau, mama minta ma’af ya, Pa.”

“Enggak, warna hijau aja yang dipasang, papa senang kok warna hijau,” sahut sang suami dengan lembut dan senyum menenangkan.

“Makasih ya, Pa. Kamu memang suami yang baik. Mama bersyukur sekali punya suami seperti Papa.”

Maka turunlah rahmat Allah ke atas keduanya. Dalam rumah tangga, hal terkecil bahkan sangat sepele sekalipun bisa menjadi bumerang. Bisa menjadi pertengkaran hebat apabila kedua belah pihak tidak ada yang mau mengalah. Dibutuhkan energi yang luar biasa untuk mau serta mampu mengakui kesalahan diri.

Suami yang sejatinya adalah seorang pemimpin sebaiknya bijaksana dalam mengambil sikap, pun sebaliknya istri harus mampu menempatkan diri serta tidak berbuat seenaknya sendiri. Namun, teori tersebut tidaklah mudah diaplikasikan, mengingat problematika rumah tangga yang beraneka ragam.

Ada saat di mana suami berada pada puncak stress akibat tekanan pekerjaan, adakalanya sang istri pun demikian, stres dengan berbagai jenis pekerjaan rumah serta mengurus anak-anak yang energinya kelebihan. Dalam kondisi keduanya sama-sama berada pada puncak stress, bertemu, lalu terjadilah riak kecil, maka hal remeh-temeh pun jadi masalah yang sangat besar. Karena emosi yang mendominasi keduanya.

Dalam keadaan demikian, maka setan pun memainkan perannya. Sang suami merasa benar. Istri pun demikian. Tidak ada yang mau mengalah. Masalah tidak selesai, tidak juga berujung, maka jadilah duri dalam daging. Hal semacam ini kerapkali terjadi. Komunikasi terputus, endingnya, perceraian. Padahal, di dalam rumah tangga, apabila ada satu pihak saja yang mau mengalah, seperti contoh kasus di atas. Maka, setan tidak akan mampu bertepuk tangan apalagi mendapat predikat juara akibat mampu memisahkan dua anak manusia dari ikatan suci pernikahan.

Orang-orang dewasa, seharusnya mampu bersikap bijak dan dewasa dalam berpikir. Bukan malah memperturutkan hawa nafsu. Satu hal yang patut diingat, kalau kita mampu mengalahkan ego supaya mampu meminta maaf serta mengakui kesalahan sendiri. Bukanlah mustahil apabila pasangan kita pun mau meminta maaf saat melakukan kekeliruan.

Sejatinya, meminta maaf bukan hanya karena sebab bersalah melainkan menghindari konflik berkepanjangan yang pasti tak berujung. Wallahu a’lam bishowab.