Mengalah Demi Cinta

Must Read

Terungkap, Ternyata Masker Kain Cukup Efisien Tangkal Corona

Wahidnews.com - Seluruh dunia sedang dilanda bencana dengan mewabahnya Virus Corona atau COVID-19, yang oleh World Health Organization (WHO)...

Terbukti Efektif Obati Covid-19, Interferon Buatan Kuba Dipesan Puluhan Negara

WAHIDNEWS.COM - Ditemukan satu obat yang diyakini ampuh untuk mengobati orang yang terkena virus Corona atau COVID-19. Obat itu...

Kabar Gembira, Semua Pasien Positif COVID-19 di Kota Malang Sembuh

Malang (wahidnews.com) – Alhamdulillah, akhirnya mulai bermunculan informasi yang tidak bikin panik masyarakat di tengah epidemi virus COVID-19. Kabar...

Oleh : Anna Jameela

Saya pernah membaca buku kisah sepasang suami istri yang baru menempati rumah baru mereka. Sang suami sangat menyukai warna biru sementara sang istri menyukai warna hijau. Terjadi perbedaan pendapat antar keduanya.

“Ma, warna tembok kita ‘kan krem, lebih cocok kalo dipasang gorden warna biru,” kata sang suami.

“Papa ini bagaimana sih, hijau dong, Pa. Biar keliatan seger, lebih cerah, gak norak,” jawab sang istri.

“Mama tuh yang norak, masa hijau. Jelek yang ada, bukannya cerah, Ma.”

“Ih, Papa! Papa tau apa sih tentang mode. Aku ini perempuan, Pa. Aku lebih paham tentang fashion dan interior. Jadi urusan rumah tangga itu urusanku. Papa bukan itu bagiannya, urus aja urusan yang lain.” Sang istri tidak mau kalah, merasa paling benar.

“Loh, kamu gak boleh gitu donk, Ma! Aku ini kepala rumah tangga, aku ini pemimpin, aku yang berhak mengatur segalanya, termasuk kamu. Kamu jangan membantah apa kata suami, ya! Aku bilang warna biru ya biru. Itu lebih cocok! Paham?!” Suara sang suami meninggi, setengah membentak merasa harga dirinya diinjak sebab dianggap tidak mengerti mode dan fashion.

Sang istri yang lembut perasaannya pun terdiam usai dibentak, ia tertunduk, dan menitikkan airmata. Sang suami yang melihat istrinya menangis tiba-tiba menjadi iba, ia mendekati sang istri, menggenggam tangannya, lalu dengan lirih berbisik di telinga istrinya, “Ma’afin papa ya, Ma. Tadi bicaranya agak keras sama mama. Papa menyesal. Mama memang benar, warna hijau memang lebih cocok daripada warna biru. Pokoknya, urusan interior rumah, papa serahin ke Mama deh, ma’afin ya, papa sayang sama Mama.” Sang suami pun memeluk istrinya.

Sang istri menjawab, “Papa nggak salah, kok. Mama yang salah, mama egois, Papa benar, warna biru lebih bagus dipasang di sini daripada warna hijau, mama minta ma’af ya, Pa.”

“Enggak, warna hijau aja yang dipasang, papa senang kok warna hijau,” sahut sang suami dengan lembut dan senyum menenangkan.

“Makasih ya, Pa. Kamu memang suami yang baik. Mama bersyukur sekali punya suami seperti Papa.”

Maka turunlah rahmat Allah ke atas keduanya. Dalam rumah tangga, hal terkecil bahkan sangat sepele sekalipun bisa menjadi bumerang. Bisa menjadi pertengkaran hebat apabila kedua belah pihak tidak ada yang mau mengalah. Dibutuhkan energi yang luar biasa untuk mau serta mampu mengakui kesalahan diri.

Suami yang sejatinya adalah seorang pemimpin sebaiknya bijaksana dalam mengambil sikap, pun sebaliknya istri harus mampu menempatkan diri serta tidak berbuat seenaknya sendiri. Namun, teori tersebut tidaklah mudah diaplikasikan, mengingat problematika rumah tangga yang beraneka ragam.

Ada saat di mana suami berada pada puncak stress akibat tekanan pekerjaan, adakalanya sang istri pun demikian, stres dengan berbagai jenis pekerjaan rumah serta mengurus anak-anak yang energinya kelebihan. Dalam kondisi keduanya sama-sama berada pada puncak stress, bertemu, lalu terjadilah riak kecil, maka hal remeh-temeh pun jadi masalah yang sangat besar. Karena emosi yang mendominasi keduanya.

Dalam keadaan demikian, maka setan pun memainkan perannya. Sang suami merasa benar. Istri pun demikian. Tidak ada yang mau mengalah. Masalah tidak selesai, tidak juga berujung, maka jadilah duri dalam daging. Hal semacam ini kerapkali terjadi. Komunikasi terputus, endingnya, perceraian. Padahal, di dalam rumah tangga, apabila ada satu pihak saja yang mau mengalah, seperti contoh kasus di atas. Maka, setan tidak akan mampu bertepuk tangan apalagi mendapat predikat juara akibat mampu memisahkan dua anak manusia dari ikatan suci pernikahan.

Orang-orang dewasa, seharusnya mampu bersikap bijak dan dewasa dalam berpikir. Bukan malah memperturutkan hawa nafsu. Satu hal yang patut diingat, kalau kita mampu mengalahkan ego supaya mampu meminta maaf serta mengakui kesalahan sendiri. Bukanlah mustahil apabila pasangan kita pun mau meminta maaf saat melakukan kekeliruan.

Sejatinya, meminta maaf bukan hanya karena sebab bersalah melainkan menghindari konflik berkepanjangan yang pasti tak berujung. Wallahu a’lam bishowab.

1 COMMENT

1
Leave a Reply

avatar
0 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of

Latest News

Terungkap, Ternyata Masker Kain Cukup Efisien Tangkal Corona

Wahidnews.com - Seluruh dunia sedang dilanda bencana dengan mewabahnya Virus Corona atau COVID-19, yang oleh World Health Organization (WHO)...

Terbukti Efektif Obati Covid-19, Interferon Buatan Kuba Dipesan Puluhan Negara

WAHIDNEWS.COM - Ditemukan satu obat yang diyakini ampuh untuk mengobati orang yang terkena virus Corona atau COVID-19. Obat itu disebut Interferon Alpha 2b Human...

Kabar Gembira, Semua Pasien Positif COVID-19 di Kota Malang Sembuh

Malang (wahidnews.com) – Alhamdulillah, akhirnya mulai bermunculan informasi yang tidak bikin panik masyarakat di tengah epidemi virus COVID-19. Kabar yang menggembirakan itu datang dari...

Positif COVID-19, Putri Spanyol Meninggal Dunia

SPANYOL (wahidnews.com) – Kabar duka datang dari Kerajaan Spanyol. Putri Kerajaan Spanyol, Maria Teresa dari Bourbon-Parma meninggal dunia pada hari kamis tanggal 26 Maret...

Komunitas Muslim di Inggris Bersatu Lawan Virus Corona

London (wahidnews.com) - Wabah virus covid-19 masih melanda negara Inggris. Dalam rangka merespon wabah tersebut, Badan amal Muslim Hands yang berbasis di Nottingham telah...

Popular Post

Selamat Jalan Malaikat Kecilku…

Oleh : Farah RizaTubuh mungil berbungkus kafan putih itu menebar aroma melati. Derai air mata pun membasah di dada kami kala itu. Melepasmu untuk...

Muhasabah : Makna Bertambahnya Usia

Oleh : Ova YantiHari ini, genap sudah usiaku tiga puluh tahun. Merenungi tentang usia, tidak salahlah kalau aku, menghubungkannya dengan hari yang biasa disebut...

Di Balik Kalimat “Semua Akan Indah Pada Waktunya”

Kali ini kita membahas tentang kalimat, "akan indah pada waktunya". Menulis atau mengucapkan kata-kata merupakan hak yang bebas dilakukan oleh siapapun, tanpa terkecuali. Namun, pernahkah...

33 Pesan Rasulullah SAW Untuk Para Wanita

33 Pesan Rasulullah SAW Untuk Para WanitaWanita, engkaulah racun, engkaulah madu. Dari dirimu pula generasi penerus akan dilahirkan, bahkan di tanganmu tempat pembentukan generasi...

Bersyukur Dengan Hati, Lisan dan Perbuatan

Oleh: Pipit Era MartinaMensyukuri nikmat yang telah Allah berikan, tidaklah cukup hanya dengan mengucapkan kata ‘Alhamdulillah’ saja. Namun, ternyata ada beberapa cara mensyukuri nikmat...

More Articles Like This

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com