Kurengkuh Hidayah Dibalik Mati Suri

1
711
kematian

Oleh : Ova Yanti
(Kisah Nyata)

WahidNews, Sebelum kembali kurangkai kisah. Aku tak hentinya mengucap istighfar dan melantunkan dzikir. Dalam keadaan hati yang bergetar, semoga Allah Swt mengampuni segala dosa-dosa atas khilaf yang telah aku lakukan baik yang lalu maupun yang sekarang.

Sahabat, apakah kalian tau apa itu mati suri ? ada yang bilang, mati suri itu adalah dimana orang yang sudah meninggal dapat hidup kembali. Apakah kalian percaya? Bagaimana mungkin orang yang sudah divonis mati dapat hidup lagi. Sungguh hal ini, diluar nalar dan logika.Tapi kejadian ini, benar-benar terjadi. Dan yang mengalaminya adalah aku sendiri.

Waktu itu dipenghujung akhir tahun 2012. Jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam waktu Indonesia bagian barat. Tiba-tiba asam lambungku kumat. Perih yang menyerang bagian perutku membuat rasa sakit yang tak terperi. Tubuhku mulai menggigil menahan sakit, keringat dingin mulai keluar dari sekujur tubuh.

Suami yang melihat keadaanku waktu itu mulai terlihat panik. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran. Aku kedinginan dan meminta dia menyelimuti tubuhku dengan selimut sampai tiga lapis. Namun rasa dingin tak juga pergi. Napasku mulai terasa sulit untuk bernapas. Sesak. Perih.

Suamiku semakin khawatir dan ingin membawaku ke Rumah Sakit, tapi aku melarangnya. Pada saat itu, bidadari kecil kami tertidur pulas sekali. Aku tak ingin dia terjaga dari mimpi indahnya. Biarlah, sebentar lagi pasti sembuh. Kataku untuk menenangkan hati suami.

Tapi ternyata aku salah, rasa sakit ini kembali menyerangku bertubi-tubi. Hingga akhirnya aku tak sadarkan diri. Dalam hitungan menit kemudian, aku tersadar dan melihat sesosok tubuh tinggi besar dan berjubah hitam menarik tubuhku dengan paksa. Sosok itu mengcengkeram bagian paha kanan dan menarik-nariknya. Sakit… itu yang kurasa. Dia kembali mencengkeram bagian kanan tubuhku dengan sesuatu. Sakitnya luar biasa. Rasanya seperti ayam yang dikuliti dari dagingnya, atau rasanya seperti ditusuk-tusuk senjata tajam. Atau seperti luka yang menganga kemudian kita sirami dengan air jeruk.

Sosok itu sepertinya ingin mencabut nyawaku dengan paksa. Berkali-kali ia mengcengkeram dan menarik-narik tubuhku. Hingga akhirnya aku seperti terhempas pada suatu tempat yang tidak tau letaknya dimana. Aku berada pada sebuah ruangan. Sejauh mata memandang, aku tak menemukan sudut ruangan tersebut. Semua serba putih. Aku mencoba mencari pintu, tapi tak ada yang terlihat. Tolooong,,, aku ingin keluar dari sini. Teriakku. Tak ada yang mendengar, tangisku pecah dikesunyian.

Dalam tangis aku teringat akan suami dan anakku yang masih berumur dua tahun. Jika diri ini telah mati, siapa yang merawat mereka? Oh tidak! Ya Allah, tolong beri aku kesempatan untuk hidup kembali. Anakku masih kecil dan masih membutuhkan kasih sayang dariku. Ratapku pada Allah.

Dan,,,terlihat secercah cahaya diujung ruangan. Aku berlari menuju cahaya tersebut. Kembali diri ini merasakan terhempas dari posisiku berdiri. Kulihat tubuhku terbaring ditempat tidur. Ya Allah, apakah aku benar-benar telah mati? Oh tidak! Kulihat suamiku menangis, membaca doa dan memberi napas buatan serta menekan-nekan dada agar aku kembali bernapas. Dia memeriksa denyut nadi dipergelangan tangan, membuka mataku yang tertutup. Terlihat dia menangis dan memelukku.

Aku yang melihat fenomena itu, berontak. Tidak menerima kenyataan bahwa aku telah mati. Tidak! Tidaaakkk,,,aku belum mau mati. Dosaku masih banyak ya Allah, beri aku kesempatan untuk hidup kembali.

Sosok yang bertubuh tinggi besar tadi, kembali datang dan menarik tanganku. Membawaku pada sebuah lorong . terdengar suara berdengung bagai angin yang bertiup kencang.

Subhanallah,,,aku melihat sekumpulan orang-orang. Tatapan matanya hampa. Ada yang menangis, meratap, dan meminta tolong. Penderitaan dan kesedihan yang paling sedih sesedihnya yang aku lihat ada pada mereka. Terlihat penyesalan yang teramat sangat. Dan terlihat sebuah bejana besar diatas kepala mereka. Byurrr,,,air mendidih dituangkan ke kepala mereka, sehingga rambutnya pada rontok dan terkelupas dari kulit kepala.

Astaghfirullahal’adzim,,,aku bergidik ngeri. Aku ketakutan. Ya Allah, apakah ini Neraka? Dosa apa yang mereka perbuat? Apakah aku termasuk dari golongan mereka? Ampuni aku ya Allah,aku akui semasa hidup aku belum menutup aurat dengan benar. Tolong beri kesempatan. Ucapku dalam tangis.
Setiap kali diri ini  memohon ampun. Kembali tubuhku terhempas bahkan terpental. Kali ini aku berada pada sebuah halaman padang rumput yang luas dan hijau. Sejauh mata memandang terhampar permadani-permadani yang indah. Kulangkahkan kaki dengan takjub. Terlihat sebuah Istana yang terbuat dari intan putih. Masyaa allah indahnya. Aku ingin kesana, ingin melihat isinya. Kesedihan yang mendera hilang seketika. Aku lupa akan suami dan anakku. Lupa dari rasa takut akan siksaan yang terlihat tadi. Disini terasa nyaman dan tenang. Bahagia menyelinap disanubari.

Tapi anehnya, acap kali ingin kulangkahkan kaki menuju Istana tersebut, Istana itu seakan bergerak menjauh. Padahal jarak antara aku dan Istana tersebut hanyalah beberapa langkah.

Ya Allah,,, kenapa aku tidak bisa masuk ke Istana itu? Apakah itu surga? Aku ingin melihatnya. Tapi tak ada jawaban atas pertanyaanku. Yang kulihat malah sekumpulan orang-orang yang tersenyum ramah melambaikan tangannya kepadaku. Jagalah ibadahmu dan tetaplah berbuat baik pada sesama. Itu yang terdengar ditelingaku.

Dan brakkk! Aku kembali terhempas. Disamping terlihat suami yang langsung memelukku. Keadaanku lemas tak berdaya, seakan-akan diri ini baru saja menempuh perjalanan yang jauh. Aku tak mampu berkata sepatah katapun. Yang kulakukan menangis dan menangis.

Kurenungi kejadian yang baru saja menimpaku. Apakah yang kualami tadi hanya mimpi? Tapi kata suami, aku sempat tak bernapas selama setengah jam. Sehingga dia telah mengabarkan pada keluarga.

Yang pertama kali datang adalah kakak ipar. Melihat keadaanku yang lemas dan pucat, dia menganjurkan membawaku ke Rumah Sakit. Aku hanya diam menuruti apa kata mereka, karena pikiran ini masih melayang pada kejadian tadi.

Di Rumah Sakit, banyak saudara, keluarga dan teman-teman datang menjenguk. Ketika kuceritakan kejadian yang kualami, mereka takut dan ngeri. Mereka  bilang aku ‘mati suri’.
Wallahu a’lam bisha-shawab. Apapun itu, apakah mati suri atau hanya sekedar mimpi atau mungkin hanya halusinasi semata akibat menahan rasa sakit yang tak terperi. Ada ibrah yang dapat dipetik dari kejadian ini.

Setiap manusia pasti merasakan mati dan setiap manusia pasti melewati pintu kematian tersebut. Sedangkan kehidupan adalah bergabungnya anatara roh dan tubuh atau jasad.

Seperti firman Allah Swt.

“ setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, dan kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan, sebagai satu fitnah (ujian) dan hanya kepada kamilah kalian akan dikembalikan “ (al –anbiya : 35)

Kematian akan menyapa siapa pun, baik ia seorang yang shalih atau pendosa, orang yang bekerja ataupun yang berdiam diri saja dirumah. Yang berkuasa, yang miskin, kaya semua akan menemui kematian bila telah tiba ajalnya.

Mengingat mati akan melembutkan hati dan menghancurkan ketamakan terhadap dunia. Karenanya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan hasungan untuk banyak mengingatnya. Beliau bersabda dalam hadits yang disampaikan lewat sahabatnya yang mulia Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

“Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian).” (HR. At-Tirmidzi no. 2307, An-Nasa`i no. 1824, Ibnu Majah no. 4258. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata tentang hadits ini, “Hasan shahih.”)

Dalam hadits di atas ada beberapa faedah:

– Disunnahkannya setiap muslim yang sehat ataupun yang sedang sakit untuk mengingat mati dengan hati dan lisannya, serta memperbanyak mengingatnya hingga seakan-akan kematian di depan matanya. Karena dengannya akan menghalangi dan menghentikan seseorang dari berbuat maksiat serta dapat mendorong untuk beramal ketaatan.

– Mengingat mati di kala dalam kesempitan akan melapangkan hati seorang hamba. Sebaliknya, ketika dalam kesenangan hidup, ia tidak akan lupa diri dan mabuk kepayang. Dengan begitu ia selalu dalam keadaan bersiap untuk “pergi.” (Bahjatun Nazhirin, 1/634)

Ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas adalah ucapan yang singkat dan ringkas, “Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (kematian).” Namun padanya terkumpul peringatan dan sangat mengena sebagai nasehat, karena orang yang benar-benar mengingat mati akan merasa tiada berartinya kelezatan dunia yang sedang dihadapinya, sehingga menghalanginya untuk berangan-angan meraih dunia di masa mendatang. Sebaliknya, ia akan bersikap zuhud terhadap dunia. Namun bagi jiwa-jiwa yang keruh dan hati-hati yang lalai, perlu mendapatkan nasehat panjang lebar dan kata-kata yang panjang, walaupun sebenarnya sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian).”

disertai firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati,” sudah mencukupi bagi orang yang mendengar dan melihat. Alangkah bagusnya ucapan orang yang berkata

“Ingatlah mati niscaya kau kan peroleh kelegaan, dengan mengingat mati akan pendeklah angan-angan.”

Adalah Yazid Ar-Raqasyi rahimahullahu berkata kepada dirinya sendiri, “Celaka engkau wahai Yazid! Siapa gerangan yang akan menunaikan shalat untukmu setelah kematianmu? Siapakah yang mempuasakanmu setelah mati? Siapakah yang akan memintakan keridhaan Rabbmu untukmu setelah engkau mati?”

Kemudian ia berkata, “Wahai sekalian manusia, tidakkah kalian menangis dan meratapi diri-diri kalian dalam hidup kalian yang masih tersisa? Duhai orang yang kematian mencarinya, yang kuburan akan menjadi rumahnya, yang tanah akan menjadi permadaninya dan yang ulat-ulat akan menjadi temannya… dalam keadaan ia menanti dibangkitkan pada hari kengerian yang besar. Bagaimanakah keadaan orang ini?” Kemudian Yazid menangis hingga jatuh pingsan. (At-Tadzkirah, hal. 8-9)

Sungguh, hanya orang-orang cerdas cendikialah yang banyak mengingat mati dan menyiapkan bekal untuk mati. Sahabat yang mulia, putra dari sahabat yang mulia, Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengabarkan, “Aku sedang duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala datang seorang lelaki dari kalangan Anshar. Ia mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, ‘Ya Rasulullah, mukmin manakah yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.’

‘Mukmin manakah yang paling cerdas?’, tanya lelaki itu lagi. Beliau menjawab:

“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1384)

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata, “Ad-Daqqaq berkata, ‘Siapa yang banyak mengingat mati, ia akan dimuliakan dengan tiga perkara: bersegera untuk bertaubat, hati merasa cukup, dan giat/semangat dalam beribadah. Sebaliknya, siapa yang melupakan mati ia akan dihukum dengan tiga perkara: menunda taubat, tidak ridha dengan perasaan cukup dan malas dalam beribadah. Maka berpikirlah, wahai orang yang tertipu, yang merasa tidak akan dijemput kematian, tidak akan merasa sekaratnya, kepayahan, dan kepahitannya. Cukuplah kematian sebagai pengetuk hati, membuat mata menangis, memupus kelezatan dan menuntaskan angan-angan. Apakah engkau, wahai anak Adam, mau memikirkan dan membayangkan datangnya hari kematianmu dan perpindahanmu dari tempat hidupmu yang sekarang?” (At-Tadzkirah, hal. 9)

Sahabat fillah yang dirahmati Allah, kalian tau apa yang terjadi pada diri ini setelah kejadian tersebut? Ketakutan demi ketakutan terus menghantui. Pandanganku semakin liar menatap setiap penjuru. Takut kalau-kalau malaikat pencabut nyawa itu kembali datang menghampiri dan mencabut nyawaku seketika. Sementara dosa-dosa ini masih banyak seperti pasir dilautan, sulit untuk dihitung dengan ibu jari.

Terekam perjalan hidup yang kulalui hanyalah kesia-siaan. Shalat yang sering tertinggal, pakaian masih membalut tubuh dengan celana jeans yang ketat, jilbab yang dililit mengikuti trend mode.Padahal suami sering  menasehati, tapi selalu ada alasan untuk berkelit. Semua butuh proses, Abi. Dan proses itu nggak mungkin kan secara instan. Nasehat demi nasehat terabaikan.

Dan sejak kejadian itu, aku benar- benar ingin berubah. Allah telah menegurku, Allah begitu sayang padaku. Allah telah memberi hidayah-NYA padaku. Haruskah aku menjadi kufur dan tidak bersyukur?

Bismillah,,,kumantapkan hati untuk berhijrah dan semoga istiqomah. Aamin, aaminn, aamin. Insyaa allah.

Sahabat fillah. Masihkah kita terlena dengan dunia yang fana ini? Sementara keabadian  ada di akhirat sana. Ada Surga dan Neraka. Pilihan ada padamu. Mati itu sakit sahabat, jika kita selalu mengingat mati, semoga Allah meringankan sakitnya. Maka dari itu mari berbenahlah, carilah bekal untuk menuju akhirat nanti dengan amalan-amalan shalih. Karena hanyalah amalan shalihlah yang dapat menempatkanmu di surganya Allah.

Takengon, 25/01/2016