Kritis Dalam Menerima Berita

1
735
menerima berita

WahidNews, Saudaraku sesama muslim, kita semua telah merasakan hidup di zaman yang serba modern seperti saat ini. Telah banyak kemajuan dari berbagai segi, baik itu gedung, sarana transportasi, telekomunikasi, dsb. Ini semua adalah konsekuensi dari kemajuan zaman, salah satunya adalah berkembangnya alat-alat komunikasi khususnya sosial media.

Hampir setiap hari kita dapatkan berbagai informasi walaupun hanya secara online. Banyak berita-berita yang kita dapatkan dimana secara kebenaran sendiri kita kadang meragukan, namun banyak juga yang menerima pemberitaan tersebut dengan mentah-mentah sehingga banyak pembaca yang terperangkap opini pembuat berita.

Dengan keleluasaan dan mudahnya berbagi informasi, banyak oknum yang tak bertanggungjawab dengan membuat informasi-informasi bohong. Baik itu untuk kepentingan politik, kekuasaan bahkan agama. Padahalnya dampak yang ditimbulkan akan sangat besar, yaitu kericuhan, perpecahan, pembodohan publik, pembunuhan karakter bahkan pembunuhan fisik oleh pihak tertentu.

Dampak berita-berita bohong yang di-share memang mempunyai dampak besar, namun jika pembuat berita itu sadar. Sebenarnya ancaman untuk orang-orang yang mempunyai tujuan demikian (melakukan kebohongan) sangat serius, karena bisa menjadikannya ke delam golongan orang munafik. Dalam hadits shahih dikatakan
أية لمنافق ثلاثة : اذا حدث كذب واذاوعد اخلف واذا ؤتمن خان
Pertanda orang munafiq ada tiga : apabila berbicara bohong, apabila berjanji mengingkari, apabila dipercaya khianat (HR. Buchori-Muslim)

Dengan perkataan mungkin kita hanya bisa membohongi orang yang mendengar, namun dengan tulisan di media sosial yang serba modern ini, kita tidak hanya bisa membohongi orang-orang disekitar kita, bahkan orang seduniapun akan menjadi korban apabila ia ikut membaca dan mempercayainya. Padahal ancaman Allah SWT terhadap orang-orang munafik sangatlah serius, sebagaimana firman Allah Swt:
ان المنافقين في الدّرك الاسفل من النّار
“Sesunggunya orang-orang munafik itu (diletakkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. (QS. An-nisa: 145)
Sedemikian bahayalah sebenarnya resiko menjadi golongan munafik, namun sulit juga untuk memberikan pemahaman pada setiap orang, khususnya orang-orang yang bertugas membuat berita.

Mereka bekerja tak lepas dari kepentingan dan kepentingan telah menutup kebenaran yang sebenarnya diketahuinya. Hanya kita sebagai masyarakat, tentu harus selektif dalam memilih berita agar tidak menjadi korban informasi. Karena dengan mempercayai mentah-mentah tanpa mengolah dan memahami ulang informasi tersebut, bisa jadi kita akan turut menyebarkan informasi yang tidak benar. Bahkan kebiasaan kita kadang ikut meng-share berita-berita yang ada di sosial media, seperti facebook, BBM, dsb. Maka perlu kita pikir ulang dan tidak sembarangan dalam membagikan informasi.

Jika kita sendiri mau mengikuti atau menggunakan metode yang ulama terdahulu telah gunakan dalam penilaian hadits, tentu kita tidak akan mudah membenarkan atau menyalahkan sebuah pemberitaan, bahkan kualitas berita tersebut dapat kita ukur validitasnya. Metode yang ulama terdahulu gunakan adalah metode Jarh wa ta’dil, sebuah metode yang digunakan untuk mengukur kualitas hadits dari segi perawi atau orang yang meriwayatkan hadits. Metode ini sangat penting, karena untuk mempertahankan kebenaran hadits itu sendiri dan keberlangsungan agama Islam. Andaikata hadits-hadits tersebut tidak mempunyai standar, maka berita-berita yang secara umum datang dari Nabi rawan digunakan oleh kelompok-kelompok/ orang tertentu untuk kepentingannya.

Maka dari itu metode jarh wa ta’dil sangat berguna untuk mengetahui kualitas perowi hadits, sehingga hadits yang diriwayatkan benar-benar apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah Saw, bukan dibuat-buat sendiri.

Seandainya dalam dunia pemberitaan kita juga mempunyai metode sebagaimana ulama terdahulu lakukan, maka kita tidak akan mudah kebakaran jenggot, tidak mudah diadu domba. Karena kita tidak mudah menelan mentah-mentah sebuah berita sebelum kroscek terlebih dulu dan mempelajari kebenarannya.

Harapannya adalah kita mampu melihat, menilai dan memahami sesuatu secara objektif sehingga tidak mudah diombang-ambingkan oleh berita yang simpang siur, berita yang mau mengadu domba. Kalau saja semua masyarakat telah mempunyai metode tersebut, tentu saja gejolak yang ditimbulkan karena media akan berkurang. Belajar dari ketatnya Islam dalam menyeleksi sebuah berita, semoga membawa Negara ini kepada Negara yang baldatun thoyibatun wa Rabbun ghofur.

by : Sarah Ufaira