Kisah Mistis Mengiringi Perjalanan Hijrahku

0
460
kisah mistis
Oleh : Rina Perangin-Angin
(True Story)
Sebelum menulis ulang kisah ini, tak henti lisanku bertakbir seraya mengucap syukur. Sebab hanya karena pertolongan Allah, aku bisa melewatinya dan semoga Allah senantiasa mengistiqomahkan diri ini hingga bisa sampai ke Jannah-Nya kelak. Aamin

Bermula saat kelas 2 SMA semester 1. Tepat bulan Ramadhan, sekolahku mengadakan pesantren kilat. Angkatanku menjadi panitia, dan anak kelas 1 menjadi peserta. Dua minggu sebelum acara, kami para panitia berusaha menyiapkan semua dengan matang. Kami ingin membuat kesan yang baik karena bisa mengadakan Pesantren Kilat secara mandiri. Kenapa kukatakan mandiri? Sebab kami berusaha menekan biaya yang dikutip ke peserta dan sebagai gantinya, kami panitia lah yang akhirnya berusaha menutup besarnya dana pengeluaran, misalnya dengan cara berjualan coklat yang keuntungannya dimasukkan ke uang kas pesantren kilat.

Alhamdulillah. Allah maha memudahkan. Proposal telah disetujui Kepala Sekolah (Kepsek), dana sudah terkumpul bahkan lebih dari yang kami butuhkan. Kami optimis dapat melakukannya dengan sukses. Sehari sebelum acara, diadakanlah rapat terakhir. Sekalian pemantapan susunan panitia. Aku terpilih sebagai koordinator seksi dakwah.

Di hari pertama pesantren kilat, semua berjalan dengan lancar. Total peserta sekitar 60 orang, panitia 19 orang, ditambah guru pembina 3 orang. Kepsek juga terlihat antusias dalam menghadiri pembukaan pesantren kilat tersebut. Bahkan bila pesantren kilat tahun ini sukses, Beliau berjanji tahun depan akan mengundang Kepala Dinas untuk hadir. Benar-benar sambutan yang tak kami sangka sebelumnya.

Lanjut ke hari kedua, ketika pagi semua masih baik-baik saja. Kulihat jadwal acara. Setelah olahraga, peserta diarahkan untuk sholat dhuha lalu istirahat sejenak sebelum masuk ke materi. Materi? Aku baru sadar bahwa ustadz yang harusnya mengisi belum memberi kabar. Kemarin sih sudah oke. Tapi hingga 30 menit sebelum jadwal, beliau tak juga memberi kabar. Seharusnya, satu jam sebelum materi beliau sudah hadir. Itu akadnya. Setelah dihubungi, aku baru tau bahwa beliau terlambat karena ada keperluan mendadak. Kutarik nafas panjang-panjang. Inilah kalau bagian seksi dakwah. Harusnya siap menggantikan, atau setidaknya mengamankan peserta sampai ustadz datang.

Berbekal modal ilmu agama yang didapat dari organisasi yang kuikuti setahun terakhir, hari itu kucoba menggantikan ustadz untuk menyampaikan materi. Tentunya di forum Akhwat. Sebab forum akhwat dan ikhwan memang dipisah.

Alhamdulillah, Allah memudahkan. Tapi kemudian, ketua Pesantren Kilat bilang ada perombakan jadwal . semua seksi dakwah diminta rapat. Dengan bergerak cepat, aku beserta tim mengubah jadwal, jangan sampai Kepsek menyadari masalah ini.

Semua bisa diatasi. Untung saja aku memiliki tim yang luar biasa. Tibalah saat berbuka. Kalau tidak salah, 10 menit sebelum waktu bedug. Kami sudah membuat lingkaran, sekaligus masing-masing panitia memberi laporan tentang tugasnya hari ini apakah terlaksana dengan baik atau tidak. Sementara peserta, setiap waktu berbuka hingga selesai tarawih diambil alih oleh guru agama. Jadi kami memiliki sedikit ruang untuk istirahat.

10 menit berlalu, waktu berbuka tiba. Hari itu, kulihat salah seorang bagian seksi konsumsi tak mau makan. Katanya perutnya sakit. Terpaksa sebungkus nasi berdua. Itu pun tak habis. Lalu, entah karena sedari pagi banyak masalah tak terduga, kepalaku mulai sakit. Sekilas kulihat bayangan hitam melayang di asbes. Aku beristighfar. Berusaha berpikir positif bahwa itu hanya ilusi karena terlalu letih. Tapi, rasa sakit di kepala semakin menjadi-jadi. Lalu perutku juga sakit. Seperti ada yang mengikat dengan tali. Semakin lama semakin kuat.

Aku mulai membaca ayat kursi. Teman di sebelah juga mulai menyadari ada yang aneh padaku. Salah seorang bilang, “Awas nanti dia kesurupan, panggil Bapak!” tapi orang yang lain bilang, “Nggak mungkin, dia yang paling pemberani di antara kita. Semalam saja dia menemani peserta ke kamar mandi pas jam 2 malam”.

Rasa sakit itu kian menjadi. Sangat sakit. Tiba-tiba lampu mati. Seksi keamanan sibuk mencari lilin dan senter. Lalu ada gelas yang pecah. Dan entah dari mana, ada asap pembakaran sampah. Anehnya, itu sudah maghrib. Siapa yang rajin membakar sampah malam-malam? Tak lama, suara teriakan peserta terdengar. Dalam kondisi sakit, aku masih tahu suara siapa itu. Suara salah seorang adik kelas yang menurut Sholiha, dia cukup taat. Kami sering sholat dhuha bersama di kelas saat istirahat sekolah. Sebagian panitia akhirnya pergi ke ruangan peserta untuk mengamankan. Setelah itu?? Aku mulai lupa. Yang kuingat, perutku terasa semakin sakit, samar-samar kulihat Pak Ramadhan (Guru BK yang terkenal sangat taat), disusul kemudian terdengar suara ayat kursi. Selebihnya aku tak ingat lagi apa yang terjadi.

Ketika sadar, aku sudah berada di basecamp panitia Akhwat. Di samping kanan ada Pak Ramadhan. Badanku terasa sakit, saat kulihat , seluruh tubuhku memar. Kesadara pun belum pulih seutuhnya. 10 menit kemudian, aku bertanya pada Pak Ramadhan apa yang terjadi. Kenapa badanku memar?Pak Ramadhan bilang aku kesurupan. Saat kesurupan, mataku sampai mengeluarkan tetesan darah. Entah darimana darah itu berasal. Bahkan untuk memindahkanku dari ruang makan ke basecamp butuh 10 orang yang mengangkat. 2 orang temanku yang akhwat dan 8 orang alumni (ikhwan). Astaghfirullah! Aku mulai berpikir, bagaimana mungkin untuk mengangkatku butuh orang sebanyak itu. Alumni? Bukankah alumni berbadan besar semua? Rata-rata tingginya 170-180cm, sedangkan aku hanya 155 cm dengan berat badan sekitar 50kg. Kenapa untuk mengangkatku sampai butuh 10 orang?

Kemudian Pak Ramadhan kembali menceritakan semua yang terjadi saat aku kesurupan. Salah satunya, ketika dibacakan ayat kursi, aku berontak dan alhasil salah satu meja mengalami kerusakan. Ya Allah, aku tak percaya. Bagaimana aku bisa menghancurkan meja? Meja itu masih baru, masih kuat. Aku semakin tak percaya. Tapi tak mungkin Pak Ramadhan mengada-ngada, sebab semua teman yang ikut menyaksikan mengatakan hal yang sama.

Aku terus beristighfar. Kulihat ada goresan di wajah Pak Ramadhan yang hingga sekarang pun masih meninggalkan bekas. Saat kutanya kenapa ada bekas goresan, kata Pak Ramadhan itu ulahku. Saat Beliau membacakan ayat kursi, aku berontak dan akhirnya mencakar wajah beliau. Ya Allah ampuni aku karena telah menyakiti beliau. Sesungguhya aku tak sadar saat melakukan itu.

Beberapa saat setelah merasa baikan, aku izin untuk sholat. Beliau menawarkan menemani mengambil wudhu, Beliau bilang saat mengambil wudhu beliau akan membelakangiku sehingga auratku tak akan terlihat, tapi aku menolak. Aku minta ditemani dengan teman akhwat. Teman dekatku. Saat perjalanan ke mushola, temanku ini juga kembali menceritakan betapa mengerikannya aku ketika kesurupan. Aku berubah begitu kuat. Tak hanya Pak Ramadhan yang jadi korban, tapi bebeberapa alumni yang mengangkatku pun kena cakar. Semula aku tak percaya, tapi ketika bertemu alumni tersebut, aku melihat memang ada luka di tangan mereka.

Saat sholat, entah apa yang kupikirkan. Aku merasa bersalah. Aku tanya sama Allah kenapa ini bisa terjadi. Dan kenapa harus aku yang mengalaminya. Aku terus berdoa. Air mataku mengalir begitu saja. Sampai akhirnya aku tertidur dalam sujudku. Aku sempat bermimpi, aku melihat semua yang terjadi saat aku kesurupan tadi. Sangat mengerikan!

Tak terasa waktu tahajjud telah tiba. Peserta sudah mulai bersiap-siap untuk sholat. Aku diminta ke ruang panitia lalu mereka bilang bahwa kejadian tadi malam yang tahu hanya panitia, Pak Ramadhan dan alumni yang mengangkatku. Peserta nggak boleh tahu demi kenyamanan mereka. Aku sedikit lega. Kuminta pada mereka untuk melupakan saja kejadian ini. Mereka setuju.

Dua hari kemudian ,pesantren kilat selesai. Selama dua hari semua berjalan lancar. Setelah berpamitan, aku pulang duluan. Berpikir semua masalah akan selesai. Tapi ternyata salah. Sejak kejadian malam itu, aku sering bermimpi buruk. Kadang aku juga seperti melihat bayangan hitam setinggi dua meter yang masuk ke kamarku lalu menembus dinding dan hilang begitu saja. Awalnya kuabaikan. Tapi makhluk itu malah semakin sering datang. Lama-lama aku malah merasa ada yang memegangku saat tidur. Tapi siapa? Aku tidur sendiri di kamar. Tak tahan lagi, ku beranikan menceritakan ini pada murobbi ku. Dia menanggapi cukup serius. Berbagai solusi diberi. Tapi tak ada yang ampuh.

Pernah Beliau menyuruhku untuk meruyah diri sendiri. Caranya menjaga wudhu, lalu sebelum tidur baca surah Al-Baqarah ayat 1-5, Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, dilanjutkan ayat kursi, lalu menyapu seluruh tubuh dengan tanganku sendiri. Dengan keyakinan dan harapan makhluk itu segera pergi, kulakukan sepenuh hati. Malamnya aku tidur nyenyak tanpa mimpi buruk. Aku senang. Tapi itu tak berlangsung lama.

Seminggu kemudian, makhluk itu datang lagi, seolah dia mendapat kekuatan baru. Pernah suatu waktu, dia tepat di hadapanku, kubacakan ayat kursi tapi dia tak juga pergi. Mungkin karena imanku lemah.

Aku mulai putus asa. Sejak kejadian malam itu, makhluk gaib yang entah berasal dari mana seperti mengikutiku kemana pun. Kecuali ketika sholat. Tapi tak mungkin aku sholat sepanjang hari. Hidupku mulai teusik. Tidur jarang nyenyak, yang anehnya porsi makanku bertambah sampai dua kali lipat tapi badanku justru semakin kurus.

Dua bulan telah berlalu, kini emosiku mulai tak terkontrol. Aku seperti dikuasai olehnya. Pernah satu waktu di sekolah, seorang laki-laki dari kelas lain mengganggu adik kelasku. Pemuda itu membuka kerudung adik kelasku, aku marah dan menamparnya sampai hidungnya berdarah. Yang aneh, aku tak ingat saat melakukannya. Aku tau sewaktu teman-teman yang memberi tahu. Astaghfirullah. Ya Rabb, apa yang terjadi padaku? Sesungguhnya tiada kekuatan melebihi kekuatan-Mu. Aku mohon kembalikan dia ke tempat dimana semestinya dia berada. Aku ingin hidup seperti sedia kala lagi, pintaku hari itu setelah sholat dhuha. Air mataku mengalir lagi. Aku betul-betul merindukan kehidupan yang dulu. Tidak seperti sekarang yang sangat terbebani dengan kehadiran makhluk tak di undang.

Sepulang sekolah, aku bertemu Pak Ramadhan. Dia menanyakan kabarku. Kujawab baik. Terus Pak Ramadhan bilang aku terlihat semakin kurus, sering melamun , ada apa? Tangis pun pecah. Kuceritakan kejadian yang kualami sekaligus meminta solusi. Beliau diam sesaat. Lalu katanya, Aku harus berubah, harus hijrah. Mungkin makhluk gaib itu menyukaiku, dan akan semakin menyukai bila auratku tidak tertutup sempurna. Mulailah menutup aurat secara sempurna, perbanyak baca Al-quran, dan secepatnya menikah. Niatkan semua karena Allah. Ingatlh, makhluk gaib tak menyukai wanita atau pria yang sudah menikah. Maka menikahlah.

Sesampai di rumah, aku kembali mencerna saran Pak Ramadhan. Merasa kurang yakin, kutanya pada guru agamaku, dan beliau pun menjawab hal yang sama.

Dengan Bismilah, hari itu, setelah hampir tiga bulan diganggu makhluk gaib, kuputuskan berhijab secara sempurna. Memakai gamis yang longgar dan kerudung yang lebar. Semua baju yang kurang layak kubakar. Semua karena Allah. Aku tak peduli jika setelah ini makhluk gaib iitu masih mengganggu atau tidak. Saat itu, aku hanya ingin lebih dekat dengan Allah. Bermodalkan dua pasang gamis dan kerudung lebar, kuniatkan untuk istiqomah menutup aurat. Nggak masalah bila hanya berganti dengan dua busana itu. Aku pasti bisa.

Keesokannya, aku ke warung dengan gamis dan kerudung lebar. Semua tetangga melihat. Mereka bingung. Hari selanjutnya mulai ada bisik-bisik tetangga. Gosip itu menyebar  hingga sampai ke telingaku. Aku difitnah hamil dan gamis yang kupakai hanya untuk menutupi kehamilan itu. Astaghfirullah, Ya Allah aku berlindung dari segala fitnah yang menimpaku. Sekali lagi, diuji. Mungkin ini cara Allah mengetahui seberapa teguhnya keinginanku untuk menutup aurat.

Aku mencoba ikhlas. Semua akan baik-baik saja. Seminggu seminggu kemudian, fitnah itu pun sampai ke telinga ibuku. Ibu marah dan malah menyuruhku melepas gamis. Berpakaian seperti biasa yakni hanya memakai celana jeans dan kaos. Aku memilih diam. Sebab tak pantas rasanya berdebat dengan ibu sendiri. Rasulullah pun mengajarkan untuk berbakti pada orangtua terutama ibu. Dalam sebuah hadits, Rasulullah sampai menyebut ibu 3 kali dan ayah sekali. Karena itu, aku tak berani menjawab. Tapi keesokan harinya, ibu masih memerintahkan hal yang sama.

Merasa tak tahan, hari itu kujelaskan masalah sebenarnha. Kuceritakan mengenai makhluk gaib yang selalu mengikutiku yang akhirnya menyadarkanku untuk berhijrah. Karena selama ini, perihal aku kesurupan dan diikuti makhluk gaib, Ibu sama sekali tak tahu. Akhirnya Ibu memelukku dan merestuiku berhijab syar’i.

Allahu Akbar! Demi Allah yang maha memudahkan, semua terjadi atas kehendak-Nya. Aku bersyukur. Lewat perantara gangguan makhluk gaib yang kini telah kembali ke asalnya, aku sadar betapa dulu aku sangat jauh dari-Nya.

Buat pembaca, sekadar mengingatkan. Makhluk gaib itu ada. Tapi ingatlah, bahwa kita manusia lebih mulia. Jangan pernah takut. Sesungguhnya tiada kekuatan yang lebih kuat dari Allah. Mintalah pertolongan pada Allah, niscaya Dia akan menolong setiap hamba yang berserah pada-Nya!