Ketika Sakaratul Maut Menjemput Orang Beriman

1
3936
sekarat

Oleh : Pipit Era Martina

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.” (QS. Qaf: 19)

Sakaratul maut datang tak pernah memberi informasi, ia selalu datang tanpa diketahui, tanpa permisi. Dan tak satu orangpun tahu bagaimana dan dimana kita akan menemui mati. Pernahkah terlintas bayangan akan kehidupan setelah mati? Atau pernah terbayang akan proses menemui kematian dan bertemu malaikat pencabut nyawa?

Sebenarnya bagaimana sakaratul maut itu terjadi?

Setiap manusia akan menemui ajalnya dengan cara yang berbeda-beda, ada yang dalam keadaan Husnul Khatimah adapula yang mati dalam keadaan Su’ul Khatimah. Pun malaikat yang menjemput tiap manusia itu berbeda.

Bagi orang yang beriman kedatangan malaikatul maut adalah seperti sebuah hadiah yang amat diinginkannya. Seperti bertemu dengan seorang sahabat yang lama tak pernah jumpa. Malaikat datang dengan membawa senyuman seraya menyapa dengan tutur kata yang teramat lembut. Sungguh indahnya.

Rasulullah SAW sendiri menjelaskan dalam suatu hadits, bahwa bagi hamba yang beriman ketika dirinya berpisah dengan dunia, menyongsong akhirat, maka malaikat akan mendatanginya dari langit, dengan wajah yang putih. Rona muka mereka layaknya sinar matahari. Mereka membawa kain kafan dari surga, serta hanuth (wewangian) dari surga. Mereka duduk di sampingnya sejauh mata memandang. Berikutnya, malaikat maut hadir dan duduk di dekat kepalanya sembari berkata, “Wahai jiwa yang baik_dalam riwayat lain_jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhoan-Nya.”

Ruh orang beriman akan keluar dengan mudah seperti lancarnya air yang mengalir dari mulut sebuah kendil. Setelah keluar ruhnya, maka setiap malaikat maut mengambilnya. Jika telah di ambil, para malaikat lainnya tidak membiarkan di tangannya sejenak saja untuk mereka ambil dan diletakkan di kain kafan dan hanuth tadi. Dan keluarlah keharuman yang semerbak dari tubuh jenazah orang beriman tersebut.

Kemudian nyawa yang telah dikafani itu diangkat ke langit. Setiap melewati sekelompok malaikat di langit mereka bertanya, ‘Nyawa siapakah yang amat mulia itu?’ ‘Ini adalah nyawa fulan bin fulan’, jawab para malaikat yang mengantarnya seraya menyebutkan sebuah nama, nama yang terbaik selama di dunia.

Membayangkannya saja sudah membuat melayang angan, senyum lebar ketika membayangkan kitalah yang berada disitu, kita yang diagungkan malaikat, berjalan dengan aroma yang sangat semerbak, dengan wajah yang bersinar bak matahari, dengan ekspresi wajah yang sangat indah memukau, beserta pujian-pujian indah yang dilayangkan para malaikat kepada kita seorang umat Nabi Muhammad SAW.

Sesampainya di langit, para malaikat meminta ijin kepada malaikat penjaga pintu langit untuk memberi ijin agar diperbolehkan untuk memasukinya dan dengan senang hati seraya senyum indah mereka mengijinkan masuk.

Satu demi satu, para malaikat mengawal orang beriman memasuki pintu-pintu langit dengan sambutan yang sangat hangat dan menyenangkan tentunya. Dan seluruh malaikat yang ada di langit tersebut ikut mengantar hingga sampailah pada langit ketujuh.

Sesampainya di langit ketujuh, disanalah Allah SWT berfirman :
“Tulislah nama hamba-Ku ini di dalam kitab ‘llliyyin. Lalu kembalikanlah ia ke (jasadnya di bumi, karena darinyalah Aku ciptakan mereka (para manusia), dan kepadanyalah Aku akan kembalikan, serta darinyalah mereka akan Ku-bangkitkan.”

Allahu Akbar, inilah kenikmatan yang tak pernah terbayangkan ketika Allah berkata kepada para malaikat untuk memuliakan orang beriman, disitulah kebesaran Allah benar-benar terbukti, nyata di depan mata, entah apa dan bagaimana perasaan bahagia yang dirasakan oleh orang mukmin tersebut, masihkan ia sanggup mengeluarkan air mata bahagia? Atau sudah keringkah air mata tersebut dikarenakan bahagia yang telah menghilangkannya?

Siapa dari umat yang tak inginkan kemuliaan dari Allah dan para malaikatnya? Namun apa pula yang kita janjikan untuk menjadi umat yang mulia di hadapan para malaikat yang di muliakan oleh Allah SWT?

Lalu nyawa tersebut dikembalikan ke jasadnya di dunia. Lantas datanglah dua orang malaikat yang memerintahkannya untuk duduk. Mereka berdua bertanya, ‘Siapakah Rabbmu?’, ‘Rabbku adalah Allah SWT,’ jawabnya. Mereka kembali mengajukan pertanyaan ‘Apakah agamamu?’, ‘Agamaku islam,’ sahutnya. Mereka berdua lanjut bertanya lagi, ‘Siapakah orang yang telah di utus untuk kalian?’, ‘Beliau adalah Nabi Muhammad SAW.’ Jawabnya cepat. Namun mereka terus saja mengejar pertanyaan, ‘Dari mana engkau tahu?’  tanyanya. ‘Aku membaca Al-Qur’an kemudian aku mengimaninya dan mempercayainya.’  Tiba-tiba terdengarlah suara dari langit dan berseru, ‘(jawaban) hamba-Ku benar! Maka hamparkanlah surga baginya, berilah dia pakaian darinya lalu bukakanlah pintu ke arahnya.’ Maka menghembuslah angin segar dan harumnya surga (memasuki kuburannya), lalu kuburannya diluaskan sepanjang mata memandang.

Allahu Akbar, gambaran kematian bagi orang mukmin benar-benar membuat para umat semakin girang membayangkan bahwa itu adalah dirinya. Namun sekali lagi, pantaskah kita menjadi umat yang dimuliakan oleh-Nya? Cukupkah Iman dan Amal kita untuk memperoleh penghormatan para malaikat dan pintu surga?

Dan setelah para sanak keluarga meninggalkan tanah pemakaman, saat itu datanglah seorang (pemuda asing) yang tampan memakai pakaian yang sangat indah dan berbau harum sekali, seraya berkata, ‘Bergembiralah, inilah hari yang telah dijanjikan dulu bagimu.’ Orang mukmin bertanya, ‘Siapakah engkau? Wajahmu menandakan kebaikan.’ ‘Aku adalah amal shalehmu,’ jawabnya. Si mukmin lalu berkata, ‘Wahai Rabbku (segerakanlah datngnya) Hari Kiamat, karena aku ingin bertemu dengan keluarga dan hartaku.’

Sesungguhnya para malaikat tersebut sudah mengabarkan kabar bahagia kepada orang mukmin di ujung kematiannya. Di saat proses sakaratul maut hampir selesai, malaikat kembali menghampiri ruh orang beriman dan memberi penjelasan tentang tempat yang akan ia tinggali ketika di akhirat nanti. Tempat  yang selamanya akan di tempati, tempat yang abadi.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tak seorangpun di antara kalian yang akan meninggalkan  dunia ini kecuali telah diberikan tempat kembalinya dan diperlihatkan padanya tempat di surga atau di neraka.”

Dan orang mukmin tidak merasakan kesedihan sama sekali ketika sakaratul maut menghampirinya, justru rasa bahagialah yang menyelimuti rasanya. Kenapa? Bagaimana bisa?

Allah SWT berfirman :
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Rabb kami adalah Allah kemudian mereka beristiqamah, maka para malaikat turun kepada mereka (sembari berkata): ‘Janganlah kamu bersedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushilat: 30)

Jelas bukan? Senyumlah yang menghantarkan kematian ornag yang beriman. Maka, sebagai insan yang masih diberi banyak kesempatan untuk memijakkan kaki di bumi, belajarlah untuk tidak menangisi kepergian seorang umat. Hantarkanlah dengan bingkisan do’a, agar kematiannya ialah merupakan kematian yang ia idam-idamkan dan boleh jadi menjadi kematian yang membuka pintu bahagia lebihi bahagia di dunia.

Mau? Raih kematian dengan sejuta senyuman dari para malaikat?

Yuk, sama-sama kita mencoba menegakkan iman dalam jiwa, kuatkan keteguhan dalam diri, perdalam kembali perintah-perintah-Nya dan sesering mungkin menjalani sunnah-Nya. Gunakan waktumu sebaik mungkin, gunakan dan jangan sia-siakan, manusia tak pernah tahu kapan ia akan kembali.

Rasulullah SAW pernah memberikan anjuran dalam sebuah hadits yang disampaikkan lewat sahabatnya Abu Hurairah Ra.: “Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian).” (HR.Al-Tirmidzi)

Karena datangnya mati tak pernah permisi, tak pasti, dan tak memberi ciri-ciri. Oleh karena itu persiapkanlah segala sesuatunya untuk menyambut para malaikat datang menjemput.

Lampung, Rabu 16 Rabiulakhir1437  / 27 Januari 2016