Ketika Pengetahuan Dikalahkan Oleh Perasaan

1
202
media sosial
Oleh : Muhammad Fajar Riyadi

WahidNews, Kalangan pelajar di negeri ini dapat dibilang semuanya sudah mengenal teknologi. Hanya beberapa saja yang mungkin masih bertahan dalam keterbatasan. Atau mamiliki tujuan lain, seperti menjaga diri atau karena masalah keuangan, sehingga tidak mengakses fasilitas. Perkembangan teknologi meroket kencang. Banyak sekali pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam waktu yang sangat singkat, cepat dan akurat. Tapi bukan ini yang fokus kita bahas.

Teknologi yang demikian mengagumkan semakin membuat akses sosial media menjadi mudah. Anak-anak, remaja, dewasa, bahkan mungkin kakek-nenek sekarang ini sudah tidak mau ketinggalan menggunakan sosial media. Mulai dari facebook, twitter, instagram, BBM, dan seterusnya.

Beranekaragamnya sosial media itu, kadang membuat satu orang bisa memiliki lima akun sekaligus dan semuanya aktif digunakan olehnya. Menakjubkan sekali. Jika mereka tidak pandai-pandai mengatur waktu, tentu sosial media tersebut akan banyak menguras waktu. Bayangkan saja jika mereka memainkan sosial medianya ditotal katakanlah tiga jam dalam sehari, maka satu bulan mereka sudah membuang waktu 90 jam dengan sia-sia. Kecuali jika itu mereka gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, seperti bisnis, dakwah dan lain-lain. Hal itu menjadi sia-sia ketika mereka hanya membuat status-status galau, atau upload foto-foto selfi. Nah, masalah inilah yang akan kita bahas.

Kesalahan yang saat ini merebak begitu luasnya di sosial media adalah beraneka status para pengguna yang secara terang-terangan mengungkapkan isi hatinya. Menumpahkan segala beban yang ada dihatinya. Rasa kesal, marah, kecewa, putus asa, patah hati, semuanya dituangkan begitu saja pada status mereka. Padahal, status itu akan dibaca oleh ribuan bahkan jutaan orang yang juga aktif di sosial media. Dan secara tidak sadar (atau mungkin sadar) mereka telah menyebarluaskan masalah pribadinya kepada orang lain yang sama sekali tidak memiliki keterkaitan dengan status itu.

Ada status yang berniat memberikan sindiran atau kritikan kepada orang yang memiliki masalah dengannya. Merasa dengan statusnya masalah segera selesai, tidak menimbulkan masalah lain. Ya ampun, di satu sisi tidak mau aibnya dibicarakan, tapi disisi lain justru membiarkan aibnya diketahui banyak orang. Bukankah membuka aib sendiri kepada khalayak umum tidak diperbolehkan?

Kesalahan ini dimulai dari perkembangan antara pengetahuan dan perasaan yang tidak seimbang. Dulu saat kita kecil, sama sekali tidak ada reaksi ketika ada orang yang mencium pipi. Setelah usia bertambah, pengetahuan dan perasaan mulai ikut berkembang. Seorang anak mulai bisa mengenal ayah ibunya, mengerti nama-nama benda, juga banyak hal lainnya. Lalu perasaan tumbuh mengiringi perkembangan pengetahuan. Normalnya, pengetahuan dan perasaan berkembang seimbang.

Sekarang? Bukan main! Anak-anak Sekolah Dasar saja sudah merasa paham tentang perasaan. Apalagi anak SMP, mereka bahkan sudah berani bermain fisik dengan lawan jenis. Dengan pengetahuan yang masih sangat minim, mereka dengan gagah berani melangkah, bermain-main dengan atas nama perasaan. Inilah sebabnya banyak sekali orang-orang yang menumpahkan isi hatinya yang tidak karuan ke sosial media. Logika dan pengetahuan kalah jauh berkembangnya dibandingkan dengan perasaan, sehingga yang lebih dikedepankan justru perasaannya. Tidak peduli nantinya apa yang akan terjadi setelah pelampiasannya itu.

Kapasitas pengetahuan dan permainan logika yang seimbang dengan perasaan, sudah tentu akan menjadikan setiap orang menimbang-nimbang segala hal yang akan dilakukan. Apa baik dan buruknya, serta apa kelebihan dan kekurangannaya. Semua dipertimbangkan. Jadi, tidak akan ada tindakan-tindakan yang dilakukan sembarangan dengan tanpa dasar yang jelas. Seharusnya anak-anak sekarang seperti ini.

Sebagai generasi Islam, mari kita benahi kesalahan-kesalahan itu sedikit demi sedikit. Pasti bisa. Yakin!