Ketika Islam “Ditakuti” Pemeluknya

3
346
islam pobia
Oleh : Asadullah Al Faruq

WahidNews, Beberapa hari yang lalu, saya membaca berita mengenai salah satu buku baca anak, Anak Islam Suka Membaca, yang dikatakan ‘bermuatan radikalisme’. Ada pihak yang mengklaim bahwa buku karya Nurani Musta’in itu memuat kata-kata yang tidak layak untuk anak usia dini, misalnya kata jihad, bantai, bom, sahid, dan sebagainya. Ada kekhawatiran kata-kata tersebut akan terekam di dalam memori bawah sadar anak hingga ia dewasa, sehingga –menurut pihak yang mengkritik– anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang ‘radikal’.

Kritik positif yang bersifat membangun adalah sah dan boleh disampaikan kepada siapapun, oleh siapapun. Termasuk dalam kasus tersebut, jika dilandasi ketidaktepatan pemilihan kosa kata dalam buku bacaan untuk anak usia dini, maka ini merupakan kritik yang wajar. Menjadi tidak wajar, jika ada ketakutan dalam diri orang-orang Islam terhadap ajaran agamanya sendiri, seperti ketakutan mengucapkan kata jihad, syahid, syuhada dan fi sabilillah.

Kata-kata tersebut memang ada dalam ajaran Islam dan bukan suatu yang perlu dipersoalkan, namun mungkin menjadi permasalahan jika disampaikan pada waktu, tempat atau sasaran yang tidak tepat. Jadi, kata jihad dan semacamnya, bukanlah persoalan yang perlu dibesarkan karena agama lain pun memiliki istilahnya sendiri untuk menyebut kata yang semakna dengan jihad. Kristen misalnya, memiliki istilah perang suci, perang salib, dan sejenisnya. Jika apa yang tertulis dalam buku di atas memang patut dipermasalahkan, maka hendaknya saling menasihati dalam rangka menyampaikan kebenaran, dengan kesabaran dan diliputi rasa kasih sayang sebagai saudara seiman.

Ada hal menarik yang akhir-akhir ini berkembang, yaitu ketakutan yang muncul dari benak kaum muslimin terhadap agamanya sendiri, ISLAM. Ya, mereka takut kepada agamanya. Mereka takut untuk mempelajari, mengamalkan dan mendakwahkan ajaran agamanya sendiri karena khawatir disebut teroris, radikal atau konservatif kanan. Bukan sekedar permasalahan jihad atau pembahasan mengenai wala’ dan bara’, melainkan lebih kepada hal-hal yang bersifat amalan harian, kebiasaan mengikuti sunnah dan dakwah yang menyangkut akidah juga ditakuti.

Mungkin ada seseorang yang enggan hadir ke masjid untuk shalat berjamaah karena media mengkampanyekan salah satu kebiasaan para terduga teroris adalah selalu shalat berjamaah di masjid. Sungguh, shalat berjamaah tidak ada kaitannya dengan terorisme, namun dengan kekuatan media, pola pikir masyarakat digiring untuk ‘mewaspadai’ orang-orang yang ahli ibadah, terutama yang menjaga shalat jamaah. Padahal, shalat berjamaah di masjid bagi laki-laki merupakan suatu kewajiban – menurut pendapat yang terkuat – yang harus ditunaikan, bagian dari sunnah yang dicontohkan Rasulullah SAW, dan memiliki banyak keutamaan di dalamnya.

Ketakutan berlebih terhadap ajaran Islam semakin berkembang dengan stigmatisasi orang-orang yang mengamalkan sunnah sebagai bagian dari kelompok radikal. Seseorang yang memelihara jenggot dan memakai celana di atas mata kaki semata ingin mengikuti sunnah agamanya dituduh mengikuti ajaran radikal. Anehnya, pihak yang menuduh juga berstatus muslim. Kalaupun para terduga teroris ‘kebetulan’ memiliki ciri-ciri yang sama, namun apakah seluruh orang yang memiliki ciri sama dapat dipukul rata dengan tuduhan yang sama? Bagaimana jika ia memang serius mengikuti sunnah nabinya, sementara dirinya tidak memiliki sedikitpun hubungan dan pemahaman ‘radikal’ yang dituduhkan oleh pihak lain?

Stigmatisasi terhadap ajaran Islam sebenarnya merupakan bagian dari kampanye pihak-pihak yang membenci Islam untuk melancarkan de-Islamisasi (menjauhkan kaum muslimin dari ajarannya). Hal semacam ini dilandasi sikap Islamophobia dan berusaha menutup laju gerak dakwah Islam.

Islamophobia Umat Islam

Paradigma pemikiran telah bergeser. Islamophobia tidak hanya dialami oleh pihak-pihak yang membenci Islam, namun juga merasuk pada jiwa kaum muslimin. Sesama muslim mulai timbul prasangka, saling menuduh dan menjelekkan. Islamophobia seolah menjadi hal yang biasa pada diri kaum muslimin, seolah mereka meragukan ajaran agamanya sendiri, takut mengamalkan sunnah dalam agamanya, atau takut terhadap umat Islam yang berbeda pemahaman dengan mereka.

Islamopobhia di internal umat Islam bukan perkara yang bisa dianggap remeh karena ia justru akan mengancam kaum muslimin sendiri. Ia dapat mengancam ukhuwah Islamiyyah dan memecah belah persatuan kaum muslimin. Ujung akhir darinya berupa de-Islamisasi, baik dalam bentuk pemurtadan atau diajuhi ajaran Islam oleh penganutnya, sehingga Islam hanya dijadikan sebagai simbol ritual, sebatas ibadah dan doa. Padahal Islam lebih dari sekedar ritualitas ibadah. Islam adalah manhaj yang mengatur pemeluknya dari perkara kecil hingga persoalan paling besar karena Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna.

Sebenarnya Islamophobia merupakan gagasan kontroversial yang dicetuskan oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan kembali berjayanya kaum muslimin. The Pew Forum on Religion and Public Life dalam laporannya menyodorkan data tentang jumlah Muslim dunia yang melonjak hampir 100 % dalam beberapa tahun terakhir. Laporan yang berjudul Mapping The Global Muslim Population menyatakan bahwa hampir satu dari empat penduduk dunia mempraktikkan ajaran Islam. Eropa disebut sebagai benua yang mengalami perkembangan pertumbuhan penduduk muslim tercepat.

Mereka khawatir dengan perkembangan Islam, sementara agama-agama lain justru ditinggalkan oleh penganutnya. Banyak data yang menunjukkan bahwa di luar negeri sudah banyak gereja yang dijual karena ditinggalkan jemaatnya. Bahkan ada beberapa gereja yang dibeli umat Islam dan telah dijadikan Masjid. Gereja-gereja yang masih bertahan lebih banyak diisi jemaat lanjut usia dan kanak-kanak. Sikap orang-orang Barat yang membenci agamanya juga berimbas pada kebencian mereka terhadap Islam. Mereka seolah tidak rela Islam berkembang pesat, bahkan melebihi agama yang mereka anut.

Mengapa ada pihak-pihak yang membenci Islam berkembang pesat? Jawaban sederhananya adalah adanya perasaan kalah dari Islam dan tidak mengetahui bagaimana mengalahkan Islam. Mereka dalam kondisi frustasi dalam beragama dan tidak ingin melihat agama apapun (apalagi Islam) berkembang pesat. Perasaan inilah yang kemudian berubah menjadi Islamophobia.

Istilah Islamophobia memang cukup kontrovesial dan semakin sering digunakan setelah peristiwa serangan 11 September 2001. Islamophobia diartikan sebagai perasaan takut terhadap Islam dan penganutnya. Perasaan takut ini kemudian berkembang menjadi sikap benci dan diskriminasi, serta berbagai kebijakan yang ketat dan membatasi yang ditujukan kepada penganut Islam.

Hal yang lebih mengerikan adalah adanya upaya memasukkan Islamophobia dalam tubuh umat Islam. Kaum muslimin dibuat agar merasa takut terhadap agamanya. Mereka mulai diajarkan doktrin-doktrin sekuler, liberal dan mengedepankan akal, sehingga diarahkan untuk menafsirkan Al Qur’an lebih longgar dan bersifat permisif. Sunnah yang dianggap tidak sesuai dengan perkembangan zaman disebut usang dan ditinggalkan dengan dalih Islam harus sesuai perkembangan pada masa kini. Hasilnya, seseorang yang masih berpegang teguh terhadap ajaran agamanya, hidup berdasarkan Qur’an dan sunnah, serta menghidupkan syiar Islam, dianggap sebagai ‘musuh’ yang perlu diwaspadai. Hingga pada akhirnya, sesama muslim saling menuduh, menyalahkan dan memfitnah. Inikah yang kita inginkan, wahai kaum muslimin? Astaghfirullahal ‘adziim.

Ada ketakutan terhadap orang lain yang mengamalkan ajaran Islam secara konsekuen. Ada kebencian bagi orang yang menghidupkan sunnah di zaman yang multi fitnah. Keadaan yang demikian benar-benar menunjukkan bahwa di tubuh umat Islam telah terjangkiti virus mengerikan yang dapat merusak keimanan dan ukhuwah. Virus itu tak lain adalah Islamophobia.

Sadarlah, Karena Kita Bersaudara!

Sungguh mengherankan jika ketakutan terhadap Islam justru dialami oleh kaum muslimin sendiri. Ya, ketakutan sebagian kaum mengamalkan sunnah Rasulullah SAW secara konsisten juga merupakan bagian dari Islamophobia. Perlakuan diskriminasi, kebencian, saling menuduh atau prasangka buruk adalah wujud dari Islamophobia yang harus dihindari. Ingatlah, bahwa kita, umat Islam, apapun golongan atau organisasinya, adalah bersaudara. Ikatan persaudaraan kita bukan sekedar ikatan darah, melainkan ikatan keimanan.
Lantas, mengapa kita masih terus menyimpan rasa takut terhadap saudara kita yang hendak mengamalkan sunnah agamanya? Apakah hanya karena perbedaan madzhab, tata cara shalat, atau beda organisasi, kemudian sudah layak kita memusuhinya, meskipun mereka juga beragama Islam?

Pihak-pihak yang membenci Islam mungkin sedang tertawa karena kemenangan mereka menularkan virus Islamophobia, sehingga mampu menggoyahkan kokohnya ukhuwah Islamiyyah. Melalui media dan berbagai sarana, mereka hendak memadamkan cahaya Islam, dan umat Islam-lah yang dijadikan sebagai bidak-bidak dalam papan catur misi de-Islamisasi mereka. Sampai kapankah kita akan terus berada dalam ‘jerat ketakutan’ ini, hingga tidak peduli lagi dengan saudara seiman? Ah, entahlah, mungkin sampai waktu yang hanya Allah yang mengetahuinya.

Ada setidaknya dua hal yang perlu dilakukan oleh umat Islam dengan hati yang rela. Pertama, hendaknya mereka menyadari bahwa ukhuwah Islamiyyah jauh lebih penting dari sekedar persoalan khilafiyyah, sehingga mereka tidak akan dengan mudah tercerai-berai. Sikap husnudzan harus dikedepankan dan menyingkirkan sejauh-jauhnya segala bentu prasangka yang bermuatan negatif sebelum ada klarifikasi. Umat Islam hendaknya bersatu karena pihak-pihak yang membenci Islam telah berpadu lintas agama dan lintas wilayah, serta bergabung dalam makar-makar de-Islamisasi. Jika umat Islam terpecah-belah, maka mereka laksana sekawanan domba yang berpencar di bawah ancaman sekelompok srigala.

Kedua, hendaknya setiap muslim mampu menyaring segala informasi dari berbagai media. Media adalah senjata yang paling efektif untuk membentuk opini publik. Tak sedikit kebenaran yang dipoles sehingga terkesan layak disebut sebagai keburukan, begitu pula sebaliknya. Berbagai kepentingan ada di dalamnya yang menjadikan berita tak lagi obyektif. Mereka mengemasnya dengan satu slogan, kebebasan pers. Oleh karena itu, seorang muslim harus cerdas memilih dan memilah informasi. Tidak asal ambil dan sebarkan, melainkan biasakan tabayun (klarifikasi) atas segala informasi yang diperoleh. Dengan demikian, diharapkan dapat meminimalkan terjadinya fitnah antar sesama muslim. Seperti kasus buku baca anak pada awal tulisan ini, hendaknya masing-masing pihak saling ber-tabayun, sehingga dapat saling memberikan informasi. Jika ada kesalahan, maka perbaikan dapat lebih mudah dilakukan. Insya Allah.

Ketika umat Islam takut dengan ajaran agamanya, takut mengamalkan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka sunnah akan ditinggalkan. Tak ada lagi Islam tanpa sunnah. Islam hanya sebatas ritual ibadah yang tidak boleh menyentuh perkara dunia dan negara. Pada masa itu, Islam akan mudah dihancurkan dan suatu saat Islam hanya tinggal nama sebagaimana terjadi di Amerika dan Spanyol. Apakah kita baru akan tersadar ketika Islam hanya tinggal namanya???