Ketidaksempurnaan Sebagai Makhluk

0
411
ketidaksempurnaan

Oleh : Newisha Alifa

Beberapa hari yang lalu, saya temukan susunan kata yang sangat indah [menurut saya]. Bunyinya kurang lebih begini, “Ketidaksempurnaan manusia sejatinya adalah bentuk kesempurnaan manusia sebagai ciptaan-Nya.” Can you get the point, Guys?

Bahwa quote-quote semacam : “Nobody’s perfect” | “Tidak ada manusia yang sempurna”

Atau “Kesempurnaan hanya milik Allah”

Memang benar adanya. Dan menurut saya, ketidaksempurnaan entah manusia, malaikat, setan, jin, hewan, tumbuhan dan makhluk Allah lainnya, adalah salah satu dari KEPASTIAN yang tak terbantahkan dalam dunia ini. Ah, entahlah jika masih ada yang merasa sebaliknya. Mungkin dia merasa manusia sempurna.

Bisakah kita samakan sudut pandang kita dulu, Saudaraku? Bahwa sempurna selalu berarti tidak ada kekurangan, apalagi maaf, kecacatan.

Ketidaksempurnaan kita sebagai manusia ciptaan Allah, justru itulah esensi KESEMPURNAAN kita sebagai seorang makhluk. Bahwa karena kita HANYA makhluk, maka kita tidak sempurna. Sebab kembali lagi, kesempurnaan sejatinya hanya milik Allah Sang Maha Pencipta.

Duhai Rabb …
Sungguh hamba bersyukur atas ketidaksempurnaan yang Kau Kehendaki ini.

Ketidaksempurnaan secara fisik.
Ketidaksempurnaan secara materi.
Ketidaksempurnaan kecerdasan.
Kecacatan iman yang masih tergerogoti hawa nafsu dan sebagainya.
Kecacatan dalam bersikap terhadap sesama.
Dan segala bentuk kekurangan diri yang sering kali tak hamba sadari.

Ketika bercermin, “Kenapa aku tak secantik Raisa, yaa?”

Ketika ingin sekali makan di resto mahal, “Pengen makan di situ, tapi gak punya duit.”

Manakala iri menjalar jiwa, “Hebat, yah. Mereka bisa diterima di Universitas Negeri, bahkan ada yang jadi lulusan salah satu Universitas terbaik kelas internasional!”

Belum lagi, ketika melihat mereka para hafidz, hafidzah, “Kenapa sih emak bapak dulu gak nyekolahin anak-anaknya di pesantren aja, biar saya jadi penghafal qur’an?”

#

Masalah-masalah yang ada itu, sejatinya adalah nikmat yang sering kali gagal untuk diri ini pahami. Bahwa Allah tak hanya tempat kembali, ketika nanti kita memejamkan mata tuk selama-lamanya. Tetapi Allah adalah tempat kita kembali berlutut, bersungkur, bahkan bersujud. Menyerahkan diri atas ketidakberdayaan kita sebagai makhluk, yang amat sangat butuh pertolongan-Nya dalam menghadapi problematika hidup.

Oh, Duhai Rabb semesta alam… Puji dan syukur, karena Kau izinkan hamba mengecap kekurangan, kekecewaan, kegagalan, penantian, rasa sakit, dan segala masalah lainnya yang sukses menguras air mata. Karena dari masalah-masalah itu, hamba menjadi sempurna sebagai makhluk-Mu dengan sifat ‘ketidakberdayaan’. Sebab dari masalah-masalah itu, Kau izinkan hamba memetik semesta hikmah yang bisa membuat diri ini senantiasa bersyukur.

Alhamdulillah wa syukurillah.

Ya. Kamu benar, aku tidak sempurna. Dan tidak akan pernah sempurna. Karena aku manusia dan aku mensyukurinya.