Kekecewaan yang Tertunda

0
163
kecewa

Oleh : Ridia Septiria

Siang mulai mengikis berganti malam. Aku masih setia di meja kerjaku, menyelesaikan beberapa hal yang akan ditampilkan saat pentas seni besok di sekolah, tempatku mengabdi ini. Saat itu suasana kantor memang sedang sepi, hanya ada aku, ustadzah Halimah dan Ustadz Suraj yang juga sama-sama dikejar deadline.

“Ustadzah, tidak shalat kan? Saya shalat Maghrib dulu ya, Ustadzah. Oh iya, saya titip buku ini untuk ustadz Nurkholis ya jika beliau kesini,” ijinku pada ustadzah Halimah.

“Iya Ria, insyaAllah. Kamu shalat dulu saja.”

“Maturnuwun Ustadzah.”

Ustadz Nurkholis adalah kepala sekolah tingkat diniyah. Orangnya sabar sih, tetapi tidak bisa mentolerir keterlambatan dalam tugas-tugas yang diberikan. Jadi harus tepat waktu dan tepat juga isinya.

“Loh Ustadzah, bukunya belum diambil ya?”

“Ustadz Nurkholis belum ke sini, Ria.”

“Oh, baiklah,” jawabku melempar senyum pada ustadzah Halimah.

“Assalamu’alaikum!” Tok… tok… tok…

Keseriusanku seketika buyar dikagetkan suara dari luar yang sebenarnya pintu tidak ditutup. Ketika itu hanya ada aku dan ustadzah Halimah saja karena selepas shalat Maghrib tadi ustadz Suraj langsung pulang.

“Wa ‘alaikum salam.” Jawab kami bersamaan. Aku masih tetap di tempatku, sedangkan ustadzah Halimah menghampiri sumber suara tersebut. Terdengar sedikit samar dari luar perbincangan mereka.

“Ada yang bisa di bantu?” tanya ustadzah Halimah.

“Oh iya, Ustadzah. Bisa bertemu dengan Ustadzah Ria?” sahut lelaki itu. Ustadzah Halimah langsung memanggilku tanpa bertanya siapa dan untuk apa dia kesini. Hal itu membuatku sedikit jengkel.

“Assalamu’alaikum.. Mohon maaf anda siapa dan untuk apa datang kemari?” tanyaku pada laki-laki yang sedang membelakangiku ini. Sebelum akhirnya dia membalikkan badan. Belum habis rasa penasaranku, namun semua itu langsung terbantahkan. Aku sangat mengenali laki-laki ini. Enam tahun yang lalu aku adalah muridnya, usia kami selisih 10 tahun. Ketika itu aku berusia 14 tahun, sedangkan ia 24 tahun. Aku tidak banyak tahu tentangnya, yang pasti dia adalah ustadz andalan di madrasah ini pada saat itu dan sering berkunjung ke rumah. Tak heran, karena ayah memang salah satu pengurus di yayasan, tempat madrasah ini bernaung.

“Wa’alaikumussalam.. Apa kabar dik? Lama tidak bertemu ya?”

“Alhamdulillah.. ada apa ya?” tanyaku lugu.

“Sebenarnya mau ngambil buku untuk Ustadz Nurkholis, tapi…..” belum selesai ia bicara, aku langsung memotongnya. “Oh iya, tunggu sebentar saya ambilkan dulu di meja.”

“Ini,” sambil mengulurkan buku itu di depannya.

“Sudah ya, saya masuk dulu,” lanjutku seraya berlalu meninggalkannya.

“Dik….” Panggilnya menghentikan langkahku.

“Ada apa lagi?”

“Boleh kakak bicara sebentar?” tanyanya.

“Sebentar lagi Isya’, jadi sebaiknya cepat, ya.”

“Adik tidak bertanya kenapa kakak jauh-jauh datang kesini?”

“Untuk hadir pada perayaan haflah akhirussanah besok kan?”

“Salah satunya, tapi ada hal lain lagi.”

“Oh,” jawabku singkat.

“Adik masih ingat ini?” katanya sambil menjulurkan sebuah benda yang jelas tertulis namaku di dalamnya dalam tulisan arab.

“Bolpoin? Itu kan bolpoin saya dulu.”

“Iya, bolpoin ini masih kakak simpan dan sudah kakak perbaiki. Dulu adik pernah menangis sejadi-jadinya karena tidak bisa menulis makna pada kitab kuning gara-gara bolpoin ini rusak kan? Teman kamu Rukmana yang menyampaikan hal itu pada kakak. Kakak tahu dari dia bahwa bolpoin itu adalah buatan kakeknya adik yang khusus dibuat untuk adik saat beliau masih hidup, iya kan? Kakak tahu bolpoin ini sangat penting bagi adik, makanya kakak coba untuk memperbaikinya. Tapi belum sempat kakak kembalikan, adik sudah pindah.”

Entah aku harus bersedih atau bahagia atas penemuan ini. Bertemu dengannya saja sudah cukup membuatku teringat pada masa laluku saat menghabiskan waktu mengais ilmu agama di madrasah ini. Masa-masa ketika keluguanku membuat salah satu ustadz pergi dengan alasan tidak ingin bertemu aku lagi. Konyol memang alasannya. Atau saat aku sering dihukum berdiri dengan satu kaki di depan kakak-kakak kelas gara-gara tidak hafal. Terutama pelajaran nahwu yang saat itu sangat aku benci, aku sering bolos karenanya.

Madrasah berangsur sepi. Baik santri maupun wali santri dan pengunjung yang datang mulai meninggalkan aula. “Alhamdulillah, akhirnya selesai juga acaranya,” gumamku.

“Assalamu’alaikum, dik.”
Orang itu lagi, bukankah urusannya sudah selesai. Bolpoin juga sudah aku terima. Ada apa lagi, fikirku.

“Wa’alaikum salam”

“Kakak bantu beres-beres ya?”

Aku menjawabnya dengan senyum yang sedikit mengembang. Dua puluh menit berlalu tanpa suara dari kami berdua. Dia masih membantuku membereskan ruangan, namun kemudian ijin keluar sebentar entah kemana. Tak sengaja kutemukan lipatan kertas di sekitar tempatnya berdiri tadi.

Karena penasaran akhirnya aku membukanya, aku pikir kertas itu adalah salah satu file yang terjatuh. Namun ternyata setelah aku membacanya, Subhanallah, isinya adalah surat tentang ungkapan perasaan yang pernah ia berikan padaku dulu, tetapi aku kembalikan setelah membacanya karena aku pikir tidak penting dan belum saatnya aku memikirkan hal itu. Aku baru SMP kelas tiga, sedangkan ia sudah dewasa. Tapi kenapa dia masih menyimpan surat ini?

Bukankah itu sudah lama sekali. Antara bingung dan bahagia, tak kupungkiri bahwa menyaksikan ini membuatku mulai tersanjung.

“Dik,” kedatangannya membuyarkan lamunanku. Tak sengaja kertas itu terjatuh kembali. Bisa kulihat raut wajahnya yang memerah mengetahui hal ini.

“I..iya, Kak,” jawabku bingung.

“Maaf, adik membaca kertas itu? Pasti sudah ya? Maafkan kakak karena masih menyimpannya. Kertas itulah yang menjadi alasan kakak kembali ke kota ini. Adik belum menjawab pertanyaan kakak melalui kertas itu dulu, karenanya kakak ingin menanyakannya kembali.”

“Kak….”

“Yah, kakak masih mengharapkannya, Dik,” sahutnya. Tidak menjawab pertanyaannya, aku malah berlalu meninggalkannya sendirian di ruangan itu. Mengerti perasaanku dia tidak berusaha mengejar dan meminta jawaban lagi.

Waktu terus berlalu. Tak terasa dua tahun sudah kejadian itu berlalu. Ia pergi kembali ke daerahnya tanpa membawa jawaban pasti dariku.

“Ria, ada Rukmana, Nak,” panggilan ibu menghentikan aktivitas menulisku.

“Nggih Bu, masuklah Rukmana.”

“Emmmh, Ria, sebenarnya titipan ini sudah lama. Tapi kamu keburu berangkat sebelum aku sempat memberikannya.”

“Titipan apa?”

“Ini, surat dari Ustadz Muhdlor.”

Teruntuk Dik Ria, semoga selalu dalam lindungan Allah.

Assalamu’alaikum wr.wb.

Sebelumnya kakak minta maaf atas kesalahan yang mungkin pernah kakak buat pada adik. Dik, 7 tahun yang lalu kakak mengenal adik sebagai santri kakak yang pendiam dan sangat lugu, hingga kemudian tanpa di duga muncul benih yang tak pantas di hati kakak kepada adik. Ketika itu kakak sudah mengungkapkannya melalui surat-surat yang tak kunjung adik balas. 

Hal itu membuat kakak terbebani, 6 tahun perpisahan kita membuat kakak semakin tidak tenang, maka kakak putuskan jauh-jauh datang untuk meminta kepastian kepada adik, tapi perlakuan yang sama kembali adik lakukan pada kakak. Kakak harus bagaimana dik? Jujur kakak kecewa, tapi kakak juga sadar bahwa tak ada gunanya lagi kakak berharap banyak pada adik yang hanya menganggap kakak seperti kakak sendiri. 

Kakak minta maaf ya dik? Seharusnya kakak bersyukur mendapatkan keluarga baru seperti adik. Tapi apa daya kakak tidak bisa lagi mengenang masa itu, terlalu menyakitkan bagi kakak. Sekarang kakak memutuskan untuk pergi mencari suasana baru yang bisa membuat kakak lupa pada kekecewaan kakak itu, tapi kakak selalu berdo’a untuk kesuksesan adik

18 September 2012

Muhdlor Syafi’ie 

###

“Assalamu’alaikum Ayah, Bunda,  Ria pulang.”

“Wa’alaikum salam. Alhamdulillah, anak bunda sudah pulang. Apa kabar nak? Libur berapa bulan?”

“Cuma satu bulan, Bun.”

“Oh, ya sudah kamu makan siang dulu gih, itu ayah sama adik-adik sudah menunggu.”

“Oke, Bunda,” jawabku kegirangan seraya mencium kening ibuku tercinta.

Sudah lima hari aku di kampung halaman, tak satupun teman yang mengunjungiku ke rumah. Tidak heran sih, mereka memang belum tahu jika aku sudah kembali.

Pagi ini udara sangat segar, jalanan masih kelabu terlihat samar karena embun yang menyelimuti. Selepas shalat Subuh, aku langsung berganti pakaian dan melepas sendal, hari ini aku gunakan untuk refresh. Sepulang lari pagi, iseng kubuka kotak surat depan rumah. “Eh, ada beberapa surat yang belum dilihat rupanya,” pikirku. Aku tertarik pada satu surat berwarna biru. Tertera nama dan alamat yang tidak asing bagiku. Tanpa pikir panjang langsung kubuka dan kubaca isinya yang memang ditujukan kepadaku.

“Assalamu’alaikum dik Ria, entah harus berapa kali kakak harus mengirim surat yang akhirnya tak kunjung adik balas. Kakak putuskan, ini adalah surat terakhir kakak untuk adik. Kakak minta maaf dik Ria, mungkin ketika membaca surat ini entah kakak masih ada atau tidak di dunia ini. Sakit kakak semakin parah, tapi pikiran kakak masih belum tenang. Kakak belum bisa melupakan adik sepenuhnya. 

Bukan karena kekecewaan kakak, bukan karena perasaan kakak, melainkan keraguan apakah adik tersinggung dengan apa yang kakak lakukan? Kakak minta maaf dik. Tidak seharusnya kakak mengajarkan hal yang tidak benar seperti itu pada akhwat seperti adik. Kakak tak kunjung memiliki keberanian untuk datang langsung pada ayah adik karena kakak tahu adik tidak memiliki perasaan itu pada kakak. Kakak selalu berdo’a semoga adik mendapatkan yang terbaik.”

24 April 2014

Seketika tubuhku lemas. Aku berlari ke kamar dan menumpahkan air mataku sejadi-jadinya. Entah apa yang membuatku menangis, sementara nama itu tak pernah ada artinya bagiku. Setidaknya aku menyesal pernah mengecewakannya. Itulah yang membuatku sedih.

***