Kebohongan Yang Dianggap Biasa

1
351
istri bohong

Oleh: Anna Jameela

“Teh, baju ini berapa harganya?”
“Tiga ratus sepuluh ribu, Mbak.”
“Kalau yang ini?”
“Dua ratus tujuh puluh.”
“Ya, udah. Saya mau ambil yang ini ya, Teh. Tapi jangan sampai suami saya tahu kalau saya ambil baju sama Teteh.”

Deg!
Perasaan itu yang pertama kali hadir dalam hati.

Mungkin, kasus di atas sudah tidak asing lagi di telinga kita.
Istri membeli tanpa seijin suami. Takut ketahuan, diam-diam lalu mengajak si penjual merahasiakan kebohongannya.

Ada beberapa faktor penyebab mengapa istri berbuat demikian. Bisa jadi karena suaminya pelit atau memang si istri gengsinya tinggi maka tak mau ketinggalan mode.

Pernah satu kejadian.
Seorang istri yang hampir saja diceraikan suaminya akibat datang dua orang penagih hutang, lalu meminta sang suami membayar. Merasa tidak dihargai dan dipermalukan, sang suami bukannya sadar diri malah mau menceraikan sang istri.

Usut demi usut, usai rembuk dan dihadapkan masing-masing kedua pihak. Dari jawaban sang istri diketahui bahwa ternyata suami wanita ini pelit. Sehingga sang istri membeli barang yang dia inginkan secara diam-diam.

Padahal kewajiban suami adalah memberi nafkah, pakaian serta kebutuhan lainnya. Apabila seorang istri melakukan kebohongan, pasti ada sebab. Ada baiknya seorang suami sadar akan hal tersebut demi langgengnya rumah tangga. Bukan malah sebaliknya.

Pun istri.
Jangan pula melakukan sesuatu tanpa seijin suami. Biar bagaimapun, suami adalah pemimpin yang patut dihargai dan dipatuhi. Bersabarlah dan lakukan pendekatan kepada suami agar membeli sesuatu yang memang dibutuhkan, bukan sebatas keinginan.

Namun, ada pula istri yang benar-benar boros tidak mau peduli pada kondisi suaminya. Tapi gengsinya terlampau tinggi. Demi menjaga image ke tetangga, teman atau biar di cap modis serta kekinian.

Istri jenis inilah yang seharusnya diberi peringatan tegas. Bahwa apa yang dilakukannya salah besar.

Dalam hidup berumah tangga tentunya ada hak dan kewajiban. Suami punya hak di hargai, dihormati serta dipatuhi, tapi juga punya kewajiban dalam pemberian nafkah. Baik lahir maupun batin.

Istri pun demikian. Punya kewajiban mengerjakan apa yang sudah menjadi kewajibannya. Serta memberikan hak suami, serta haknya sebagai istri tetap terpenuhi.

Hak dan kewajiban antara keduanya harus balance. Kalau tidak, maka salah satu pihak akan merasa sangat dirugikan. Lalu bagaimana jika keduanya merasa haknya sama-sama tidak terpenuhi?

Komunikasi adalah jembatan pertama yang wajib dilalui oleh kedua pasangan suami istri. Tanpa komunikasi, maka apa yang menjadi tujuan pernikahan keduanya pasti sulit tercapai. Mengapa?
Karena tidak sinkron antara maksud dan tujuan.

Bicaralah pada pasangan dari hati ke hati. Sampaikan apa yang mengganjal. Karena pasangan kita bukan paranormal yang serba tahu apa yang kita inginkan.

Saling pengertian.
Jangan selalu merasa diri yang paling benar. Menyadari kesalahan masing-masing itu lebih baik daripada mengkambinghitamkan pasangan kita.

Saling menghargailah satu sama lain, bukan tidak mungkin keharmonisan bisa  terwujud andai kedua pasangan mampu saling menghargai.

Tidak merasa selalu benar, tidak menuding kesalahan pada pasangan serta intropeksi diri masing-masing diri sendiri, itu lebih baik.

Berjalan bergandengan demi mewujudkan keluarga harmonis adalah sesuatu yang tidak mudah apabila tidak diiringi pula dengan kedekatan serta keimanan keduanya pada Allah SWT.

Selalu ingat pada kewajiban dan ingat pada tanggung jawab kelak yang akan dipikul tatkala menghadap Allah SWT. Bukan tidak mungkin keluarga sholeh mampu terwujud apabila suatu rumah tangga ‘ittiba Rasul, mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang mengatur ta ta cara bagaimana semestinya duduk dan hidup berdampingan.

Maka, tidak ada kata impossible ketika suami menjalankan perannya dengan baik, istri melakukan tugasnya sesuai kodratnya.
Jika sudah demikian, layaklah keduanya diapresiasi dengan ucapan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Rumah tangga kita kah itu?
Semoga.

Aamiin ya Rabbal ‘alaamin.